TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Energy SAE Indonesia Hadirkan Solusi CNG, Klaim Efisiensi Biaya Energi hingga 40 Persen

Albarsyah
20 July 2026 | 14:14
rubrik: Business Info
ESSA Lunasi Seluruh Utang dan Perkuat Langkah Menuju Energi Rendah Karbon

FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – PT Energy SAE Indonesia resmi memperkenalkan solusi energi berbasis Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif energi yang lebih efisien, ekonomis, dan berkelanjutan bagi sektor industri, UMKM, restoran, hotel, rumah sakit, fasilitas komersial, hingga instansi pemerintah.

Peluncuran solusi tersebut disebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mendukung agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui optimalisasi pemanfaatan gas bumi domestik. Langkah ini juga ditujukan untuk menjawab tingginya ketergantungan Indonesia terhadap Liquefied Petroleum Gas (LPG) impor.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya berkisar 1,6-1,7 juta ton. Dengan kondisi tersebut, lebih dari 80 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor.

Melihat kondisi tersebut, PT Energy SAE Indonesia menghadirkan layanan energi berbasis CNG yang pada aplikasi tertentu diklaim mampu menghasilkan efisiensi biaya energi hingga 40 persen dibandingkan penggunaan LPG.

Pendiri PT Energy SAE Indonesia, Joko Ibrahim, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk mewujudkan kemandirian energi melalui optimalisasi potensi gas bumi nasional. Menurutnya, perusahaan ingin menjadi mitra dalam mendorong terbentuknya ekosistem energi nasional yang lebih efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.

“Indonesia memiliki kekayaan gas bumi yang luar biasa. Sudah saatnya potensi tersebut menjadi tulang punggung kemandirian energi nasional. Kami percaya masa depan energi Indonesia harus dibangun di atas sumber daya alam yang dimiliki bangsa sendiri,” kata Joko Ibrahim.

Selain menghadirkan solusi CNG, perusahaan juga mengembangkan layanan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai bagian dari komitmen menyediakan solusi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Salah satu sektor yang dinilai berpotensi memanfaatkan CNG adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis. Dengan kebutuhan memasak dalam skala besar setiap hari, penggunaan CNG diperkirakan dapat meningkatkan efisiensi operasional.

BACA JUGA:   Gandeng ITDC, PGN Kembangkan Jargas di Industri Pariwisata

Sebagai ilustrasi, apabila satu dapur SPPG mengeluarkan biaya energi sekitar Rp1 juta per hari untuk LPG, maka dengan asumsi efisiensi hingga 40 persen, biaya tersebut berpotensi turun menjadi sekitar Rp600 ribu per hari. Potensi penghematan diperkirakan mencapai sekitar Rp12 juta per bulan atau Rp144 juta per tahun untuk satu dapur. Perusahaan menegaskan simulasi tersebut merupakan ilustrasi berbasis asumsi efisiensi dan masih perlu divalidasi melalui implementasi operasional di lapangan.

Apabila diterapkan pada 1.000 dapur SPPG, potensi efisiensi biaya operasional diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp144 miliar per tahun, bergantung pada pola konsumsi energi masing-masing dapur.

Joko Ibrahim menambahkan, transformasi energi memerlukan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, dunia industri, pelaku UMKM, akademisi, hingga masyarakat, guna mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi nasional.

“Transformasi energi adalah perjalanan bersama. Dengan kolaborasi yang kuat, saya optimistis Indonesia mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi impor, meningkatkan efisiensi ekonomi, serta memperkuat daya saing Indonesia di masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Pendiri sekaligus Direktur PT Energy SAE Indonesia, Mr. Njin, menilai tantangan utama Indonesia bukan pada ketersediaan energi, melainkan percepatan implementasi pemanfaatannya.

“Selama ini kita masih bergantung pada LPG impor, padahal cadangan gas bumi nasional sangat besar. PT Energy SAE Indonesia hadir untuk membuktikan bahwa pemanfaatan CNG bukan lagi sekadar konsep, melainkan solusi yang sudah siap diterapkan. Kami ingin menjadi bagian dari gerakan menuju kemandirian energi nasional melalui inovasi yang lahir dari daerah,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari penjualan CNG, tetapi juga dari dampak yang diberikan terhadap efisiensi biaya operasional, peningkatan daya saing industri nasional, serta efektivitas penggunaan anggaran negara.

BACA JUGA:   40 dari 99 Tanaman Atsiri Ada di RI

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, PT Energy SAE Indonesia menargetkan pembangunan jaringan distribusi dan layanan secara bertahap mulai 2026 melalui pengembangan cabang di berbagai ibu kota kabupaten di Indonesia. Ekspansi tersebut ditujukan untuk menyediakan akses energi CNG yang mudah, aman, dan kompetitif bagi masyarakat, pelaku industri, UMKM, serta instansi pemerintah.

Dengan mengusung semangat “Energi Indonesia untuk Indonesia”, perusahaan optimistis inovasi yang dikembangkan di Tulungagung, Jawa Timur, dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Tags: impor lpgLPG
Previous Post

Proyek Gas Raksasa di Perbatasan RI-Australia Perkuat Kedaulatan dan Ketahanan Energi

Next Post

Groundbreaking PSEL Bogor Raya Ditargetkan Awal Agustus, Persiapan Lahan Dikebut

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR