Jakarta, TopBusiness – Pemerintah Indonesia membuka peluang lebih besar bagi perusahaan-perusahaan asal China untuk terlibat dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt (GW), sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi nasional sekaligus memperkuat hilirisasi industri.
Ajakan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Shanghai, Jumat malam.
Proyek PLTS berkapasitas 100 GW merupakan salah satu inisiatif Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pemanfaatan energi bersih. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan keseluruhan proyek tersebut dapat diselesaikan pada 2029.
Dalam pertemuan itu, Airlangga menilai keberhasilan pengembangan PLTS Terapung Cirata menjadi bukti kuat bahwa kerja sama Indonesia dan China di sektor energi memiliki prospek yang sangat besar.
“Indonesia mengapresiasi investasi China dalam pengembangan PLTS Terapung Cirata. Proyek ini menunjukkan besarnya potensi kerja sama Indonesia dan China dalam mendukung transisi energi, pengembangan energi bersih, serta pencapaian target penurunan emisi,” ujar Airlangga.
Ia menambahkan, industri panel surya yang telah berkembang di Indonesia masih memiliki peluang untuk terus diperkuat dan diperluas. Pengembangan tersebut diharapkan mampu membangun rantai pasok industri tenaga surya yang lebih terintegrasi, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, serta mendukung kemandirian industri energi terbarukan.
Selain membahas kerja sama di sektor energi, Airlangga juga menyoroti eratnya hubungan ekonomi Indonesia dan China. Menurutnya, China masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia dengan nilai perdagangan kedua negara pada 2025 mencapai US$154,6 miliar. Dalam periode 2021–2025, nilai perdagangan bilateral tumbuh rata-rata 7,24 persen per tahun.
Di bidang investasi, China juga mempertahankan posisinya sebagai salah satu dari tiga investor asing terbesar di Indonesia. Sepanjang 2025, realisasi investasi dari China mencapai hampir US$8,1 miliar atau sekitar 13 persen dari total investasi asing langsung (FDI), dengan mayoritas investasi mengalir ke sektor manufaktur, perdagangan, energi, properti, serta transportasi dan pergudangan.
Pertemuan bilateral tersebut turut membahas penguatan kerja sama melalui skema Two Countries Twin Parks (TCTP), perluasan akses pasar untuk menciptakan perdagangan bilateral yang lebih seimbang, serta dukungan China terhadap pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Sekretariat Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2026 di China, Airlangga juga menyampaikan dukungan Indonesia terhadap kepemimpinan China sebagai Ketua APEC tahun ini. Ia berharap kedua negara dapat segera mengidentifikasi proyek-proyek strategis yang siap diumumkan dalam pertemuan para pemimpin Indonesia dan China mendatang sebagai wujud penguatan kemitraan ekonomi kedua negara.
