Jakarta, TopBusiness—Di semester II 2026, sektor properti akan masuk ke zona yang kira-kira sama dengan di waktu sebelumnya. Dalam hal itu, ada sejumlah faktor resisten, misalnya suku bunga acuan BI Rate akan tren naik. Begitu pula dengan suku bunga kredit perbankan.
Hal itu dikatakan oleh Kepala Riset dan Konsultasi CBRE Indonesia, Anton Sitorus, dalam paparannya ke media massa, hari ini, di Jakarta.
Ia mengatakan bahwa, di waktu yang sama, indikator makro ekonomi Indonesia masih cukup terjaga. “Hal inilah yang diharapkan bisa menjaga momentum pertumbuhan sektor properti,” ia mengatakan.
Yang juga perlu dicermati adalah bahwa, di saat indikator makro seperti pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) mencatatkan pertumbuhan 5,61% year on year di kuartal pertama 2026, indikator lain tak demikian. Misalnya, neraca perdagangan mencatatkan defisit USD61 juta di Mei 2026.
“Kondisi itulah yang membuat kita akan masuk situasi ‘susah-susah gampang’ di semester II 2026,” papar dia.
Pada semester II 2026 tersebut, sektor bisnis pasti mengambil langkah-langkah yang efisien untuk merespons kondisi pasar.
Di waktu yang sama, Senior Director CBRE Indonesia, Judy Sinurat, menjelaskan sejumlah hal tentang pasar properti Jakarta di kuartal II 2026. Ia mengatakan bahwa ada keberlanjutan momentum penyewaan ruang kantor di kawasan CBD atau pun non-CBD. “Terbatasnya pasokan baru, turut berkontribusi kepada naiknya kondisi pasar serta pertumbuhan tarif sewa ruang kantor,” kata Judy.
Adapun Senior Director CBRE Indonesia, Albert Dwiyanto, mengatakan bahwa ada perubahan dalam cara perusahaan mengevaluasi lokasi kantor. Meski alamat prestisius tetap berperan vital, kini konektivitas dan kemudahan akses menjadi faktor yang sama pentingnya. “Konektivitas bukan sekadar nilai tambah, tapi menjadi faktor utama yang menjadi daya saing bisnis dalam jangka panjang,” ucap Albert.
Head of Capital Market and Industrial Services, Ivana Susilo, mengatakan bahwa penyerapan lahan industri di Jabodetabek di kisaran 62 hektare di kuartal II 2026. “Hal tersebut mendorong tingkat okupansi kawasan industri Jabodetabek menjadi 91,2%,” ucap Ivana.
Operator pusat data (data center) terus berperan signifikan dalam permintaan lahan. “Hal ini khususnya di Cikarang,” kata Ivana.
