TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Bangun Fasilitas HPAL, BNSI Perkuat Indonesia di Industri Baterai Global

Busthomi
23 July 2026 | 12:50
rubrik: Ekonomi
Bangun Fasilitas HPAL, BNSI Perkuat Indonesia di Industri Baterai Global

Chairman GEM Co., Ltd., Professor Xu Kaihua (kedua dari kiri), didampingi Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Yoon Soon-gu, CEO EcoPro, Lee Dong-chae (paling kiri), serta jajaran pemerintah dan pemangku kepentingan melakukan peninjauan lapangan di area pembangunan proyek BNSI usai peresmian pemasangan Autoclave HPAL di Morowali, Sulawesi Tengah, Rabu (22/7). FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) resmi memulai fase utama pembangunan proyek pengolahan nikelnya melalui pemasangan Autoclave High Pressure Acid Leach (HPAL) generasi terbaru.

Proyek ini diharapkan memperkuat hilirisasi nikel nasional sekaligus mendukung pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia. Demikian seperti disebutkan dalam keterangan resmi BNSI, Kamis (23/7/2026).

BNSI merupakan perusahaan patungan antara EcoPro (Korea Selatan), GEM Co., Ltd. (Tiongkok), dan PT Vale Indonesia Tbk yang berlokasi di International Green Industrial Park (IGIP), Morowali, Sulawesi Tengah.

Dengan nilai investasi sekitar US$1,845 miliar, proyek ini memiliki kapasitas produksi 90.000 ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang juga telah memperoleh status Kawasan Berikat, BNSI diharapkan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri baterai kendaraan listrik.

Autoclave HPAL berkapasitas 1.268 meter kubik yang mulai dipasang merupakan yang terbesar yang pernah diterapkan pada fasilitas HPAL di dunia.

Teknologi generasi terbaru tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas pengolahan, efisiensi energi, dan stabilitas proses produksi sehingga mendukung operasi yang lebih produktif sekaligus lebih rendah emisi.

Penyelesaian konstruksi ditargetkan pada akhir 2026, sementara operasi komersial dijadwalkan dimulai pada kuartal I-2027.

Chairman GEM Co., Ltd., Professor Xu Kaihua, mengatakan bahwa pembangunan BNSI merupakan bukti kolaborasi strategis antara Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok dalam membangun ekosistem industri nikel rendah karbon yang terintegrasi.

“BNSI merupakan wujud kolaborasi strategis Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok dalam membangun kawasan industri nikel nol karbon pertama di dunia. Dengan menggabungkan sumber daya Indonesia, teknologi GEM, dan keunggulan industri baterai EcoPro, kami ingin mendukung percepatan transisi energi global,” ujar Professor Xu Kaihua.

BACA JUGA:   Diduga Mereplikasi 28 Fintech Lending Berizin, AFPI Laporkan Pinjol Ilegal ke Mabes Polri

Menurutnya, setelah beroperasi, BNSI diproyeksikan menghasilkan nilai ekspor sekitar US$1,5 miliar per tahun, menciptakan sekitar 5.000 lapangan kerja baru, serta memasok bahan baku nikel yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 3 juta kendaraan listrik setiap tahun.

Bersama para mitra, GEM juga berkomitmen mengembangkan IGIP sebagai kawasan industri hijau kelas dunia yang mengintegrasikan industri energi baru, manufaktur cerdas, ekonomi sirkular, serta pusat inovasi teknologi metalurgi ramah lingkungan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala BPI Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan bahwa pembangunan BNSI menunjukkan transformasi hilirisasi Indonesia yang tidak lagi berfokus pada pengolahan bahan mentah, melainkan membangun rantai nilai industri baterai kendaraan listrik secara terintegrasi.

“Klaster industri hijau yang kita bangun dimulai dari HPAL sebagai gerbang pertama, kemudian berlanjut hingga nickel sulfate, precursor, cathode active material, dan baterai kendaraan listrik. Inilah transformasi Indonesia dalam menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing industri nasional,” kata Rosan.

Ia menambahkan, pembangunan BNSI sejak awal dirancang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Fasilitas HPAL dikembangkan menuju Net Zero Emissions melalui pemanfaatan sistem waste heat recovery dan energi surya.

Selain itu, perusahaan telah merealisasikan investasi sosial sekitar US$8,5 juta bagi masyarakat Sambalagi serta membangun HPAL Research Center senilai US$37 juta untuk mendukung pengembangan teknologi, inovasi, dan talenta Indonesia di bidang metalurgi.

Dengan kolaborasi Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok, BNSI diharapkan menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat ekosistem industri baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Kehadiran proyek ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, tetapi juga mendorong transfer teknologi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta mendukung pengembangan industri hijau yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Tags: BNSIHPALindustri bateraiPT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia
Previous Post

Melalui LMAN, APBN Hadir di Bendungan Meninting di NTB

Next Post

Kementerian PU Siapkan 4 Ruas Jalan Tol Sebagai Landasan Darurat Pesawat Tempur

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR