Jakarta, TopBusiness – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa proyek compressed natural gas (CNG) Merah Putih berkapasitas 3 kilogram (kg) direncanakan akan dikerjakan melalui kerja sama dengan PT Pindad (Persero). Namun, realisasi proyek tersebut masih menunggu hasil uji coba yang saat ini berlangsung di China.
Bahlil menjelaskan pemerintah belum memfinalisasi kerja sama dengan Pindad karena proses pengujian teknologi masih dilakukan di China. Setelah tahapan tersebut selesai, pemerintah akan melanjutkan pembahasan kerja sama dengan badan usaha milik negara (BUMN) terkait.
“Kita akan melakukan kerja sama dengan Pindad nanti, tetapi masih cek dahulu di sana (China). Kalau sudah selesai, baru kita lakukan tindakan lebih lanjut,” ujar Bahlil kepada awak media usai menghadiri Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026, Selasa (21/7/2026).
Ia kembali menegaskan bahwa tahap uji coba di China menjadi bagian penting sebelum proyek dijalankan di dalam negeri.
“Masih di China. Masih dilakukan uji coba di China. Habis itu kita melakukan kerja sama dengan perusahaan BUMN yang ada di sini,” katanya.
Rencana menggandeng PT Pindad dinilai sejalan dengan pengalaman perusahaan tersebut dalam memproduksi tabung gas. Selama ini Pindad telah memproduksi tabung liquefied petroleum gas (LPG) untuk PT Pertamina (Persero) dalam mendukung program konversi energi nasional.
Fasilitas produksi tabung LPG Pindad berada di Bandung, Jawa Barat. Pada 2015, perusahaan memperoleh target produksi sekitar 2 juta tabung LPG ukuran 3 kg untuk Pertamina. Kerja sama tersebut berlanjut pada 2019 dengan pesanan sedikitnya 1 juta tabung gas 3 kg.
Secara keseluruhan, lini produksi Pindad memiliki kapasitas manufaktur hingga 300.000 tabung per bulan atau sekitar 3,6 juta tabung per tahun.
Sebelumnya, Bahlil juga menyampaikan bahwa program transisi dari LPG ke CNG berpotensi memberikan penghematan anggaran negara hingga Rp30 triliun. Menurutnya, harga CNG sekitar 30% hingga 40% lebih murah dibandingkan LPG yang saat ini masih memperoleh subsidi pemerintah.
Dengan besaran subsidi LPG yang mencapai sekitar Rp86 triliun hingga Rp90 triliun, Bahlil memperkirakan efisiensi anggaran dapat mencapai sekitar Rp27 triliun hingga Rp30 triliun apabila sebagian penggunaan LPG beralih ke CNG.
Ia menambahkan, hasil efisiensi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai program pembangunan lainnya.
