Jakarta, TopBusiness – PT PLN Batam memasuki tahun 2026 dengan tantangan sekaligus peluang terbesar dalam sejarah perusahaan.
Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dari sektor data center, perusahaan memilih mengambil langkah ekspansif dengan menjadikan penerapan Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) sebagai fondasi utama dalam mengawal pertumbuhan pelanggan dan pembangunan infrastruktur kelistrikan.
Hal tersebut disampaikan Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Human Capital PLN Batam, Muhammad Romy Andri dalam Penjurian TOP GRC Awards 2026, Rabu (22/7/2026).
Menurut Romy kembali, tahun 2026 sebagai titik persimpangan yang menentukan arah perusahaan. Hal ini karena PLN Batam dihadapkan pada pilihan antara bertahan pada zona nyaman atau mengambil langkah yang lebih berisiko demi mendorong pertumbuhan jangka panjang.
“PLN Batam pada posisi apakah kami akan mengambil jalan nyaman ataukah kami akan mengambil jalan yang berisiko tapi akan mengungkit pertumbuhan Batam ke depannya,” kata Romy dalam presentasinya.
Tema “Mengawal Pertumbuhan Pelanggan dan Pembangunan Infrastruktur melalui GRC Excellence” dipilih karena mencerminkan kondisi nyata yang sedang dihadapi perusahaan. Di luar rencana kerja yang telah disusun, PLN Batam menerima permintaan pasokan listrik dari tiga proyek data center baru, yakni Day One, Equator, dan Altifa, melengkapi kawasan Nongsa Digital Park yang telah lebih dahulu menandatangani perjanjian jual beli tenaga listrik pada 2024.
Permintaan tersebut menghadirkan tantangan yang sangat besar. Saat ini PLN Batam memiliki daya mampu sekitar 900 megawatt, sementara empat data center tersebut membutuhkan pasokan hingga 2.000 megawatt dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun mendatang. Artinya, kapasitas sistem kelistrikan Batam harus bertumbuh hingga sekitar tiga kali lipat pada 2029–2030.
Pertumbuhan sebesar itu tidak dapat dilakukan melalui pendekatan bisnis seperti biasa. PLN Batam harus mempercepat pembangunan infrastruktur pembangkitan, mempercepat proses pengambilan keputusan, sekaligus memastikan seluruh tahapan tetap berjalan sesuai prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
“Tidak bisa bisnis as usual untuk mengejar pertumbuhan tadi. Di sinilah kita butuh GRC,” kata Romy.
GRC Menjadi Penentu Kebijakan
Menurutnya, sebagai anak perusahaan PLN, setiap keputusan strategis harus tetap berada dalam koridor tata kelola perusahaan. Karena itu, fungsi manajemen risiko dan kepatuhan diminta mengawal setiap proses agar seluruh keputusan, pengadaan, maupun pembangunan infrastruktur tetap memenuhi prinsip governance dan tidak menimbulkan persoalan pada masa mendatang.
Di sisi lain, PLN Batam juga terus mengalami pertumbuhan pelanggan. Saat ini perusahaan melayani hampir 400.000 pelanggan, yang mayoritas berasal dari sektor rumah tangga, disusul pelanggan bisnis dan industri.
Berbeda dengan PLN Persero, PLN Batam tidak memperoleh subsidi maupun kompensasi pemerintah. Kondisi tersebut membuat perusahaan harus mampu menjaga keberlanjutan bisnis di tengah kenaikan harga gas, melemahnya nilai tukar rupiah, dan meningkatnya biaya penyediaan listrik.
Masuknya pelanggan data center dipandang sebagai solusi strategis untuk memperkuat struktur keuangan perusahaan. Segmen tersebut dinilai memiliki ruang tarif premium sepanjang kualitas pasokan listrik memenuhi standar internasional.
Romy menjelaskan, margin yang diperoleh dari pelanggan data center diharapkan dapat digunakan untuk menjaga tarif listrik masyarakat tetap ekonomis sekaligus mendukung pertumbuhan perekonomian Batam.
“Margin yang kami peroleh dari data center itu akan kami pergunakan untuk menjaga kualitas hidup dan perekonomian masyarakat Batam sehingga kami dapat menjaga tarif listrik bagi masyarakat Batam pada posisi yang ekonomis dan tidak memberatkan masyarakat,” ujarnya.
Sejalan dengan arah tersebut, PLN Batam mengusung visi menjadi penyedia listrik terbaik dan solusi terintegrasi di Asia Tenggara. Adapun misinya adalah menyediakan tenaga listrik yang efisien dan andal serta jasa energi untuk meningkatkan kualitas hidup dan perekonomian masyarakat.
Menurut manajemen, keberhasilan memenuhi kebutuhan listrik data center akan menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan visi tersebut sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai pusat pertumbuhan ekonomi digital di kawasan.
Pembangunan Infrastruktur Kelistrikan
Untuk mendukung ekspansi tersebut, PLN Batam juga tengah mempercepat pembangunan infrastruktur kelistrikan. Selain mengoperasikan pembangkit yang telah dimiliki, perusahaan sedang membangun satu pembangkit PLTGU baru, menyiapkan pembangunan pembangkit berikutnya, serta menjalankan proses penunjukan Independent Power Producer (IPP) untuk proyek PLTGU dan PLTU. Pada 2026, nilai pengadaan pembangkit yang dilakukan perusahaan mencapai sekitar 800 MW.
Seluruh transformasi tersebut dikawal melalui implementasi GRC yang terintegrasi. PLN Batam menerapkan Three Lines Model, yakni lini pertama sebagai pemilik proses bisnis, lini kedua berupa fungsi manajemen risiko dan kepatuhan, serta lini ketiga melalui audit internal yang memberikan assurance kepada Direksi dan Dewan Komisaris.
Struktur GRC juga diperkuat oleh fungsi hukum, komite audit, komite manajemen risiko, dan komite remunerasi, sehingga seluruh proses bisnis terhubung mulai dari penyusunan RKAP, manajemen risiko, kepatuhan, audit, hingga pengukuran kinerja.
Bagi PLN Batam, GRC bukan sekadar memenuhi aspek administrasi perusahaan, melainkan menjadi instrumen untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan keberlangsungan bisnis di tengah transformasi besar yang sedang dijalankan.
“GRC bagi kami bukan hanya untuk administrasi, tetapi untuk menjaga kepercayaan publik dan daya tahan bisnis,” tegas Romy.
Ke depan, PLN Batam berharap ekspansi penyediaan listrik bagi data center mampu menjadi jalan keluar atas berbagai tantangan bisnis yang dihadapi perusahaan. Dengan dukungan tata kelola yang kuat, pembangunan infrastruktur yang masif, dan pengelolaan risiko yang terintegrasi, perusahaan optimistis dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Batam sekaligus menjaga kualitas pelayanan listrik bagi seluruh pelanggan.
