Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Senin (27/7/2026) di zona merah. IHSG dibuka melemah 10,63 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.185,80 dari penutupan sebelumnya di level 6.196,43.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 2,07 poin atau 0,34 persen ke posisi 612,72, seiring tekanan yang terjadi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Pada awal perdagangan hingga sekitar pukul 09.05 WIB, aktivitas transaksi tercatat cukup aktif dengan volume perdagangan mencapai sekitar 2,16 miliar saham, frekuensi transaksi sebanyak 152.412 kali, serta nilai transaksi sekitar Rp1,22 triliun.
Pelemahan IHSG dipicu aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot signifikan terhadap indeks. Sejumlah saham yang menjadi penekan utama indeks pada awal perdagangan antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang turun sekitar Rp175 per saham, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah sekitar Rp60 per saham, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkoreksi sekitar Rp90 per saham, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang turun sekitar Rp275 per saham. Selain itu, tekanan juga terjadi pada sejumlah saham sektor teknologi dan komoditas yang turut membebani laju indeks.
Secara sektoral, pelemahan didominasi sektor keuangan yang selama ini menjadi kontributor terbesar terhadap pergerakan IHSG. Koreksi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar membuat indeks sulit bergerak ke zona hijau meskipun masih terdapat penguatan pada sebagian saham di sektor energi dan konsumer.
Analis menilai pergerakan IHSG pada awal pekan masih dibayangi aksi ambil untung (profit taking) setelah penguatan yang terjadi pada pekan sebelumnya. Di sisi lain, pelaku pasar juga cenderung berhati-hati mencermati perkembangan kebijakan moneter domestik, arah suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah, serta potensi arus dana asing yang masih berfluktuasi.
Dari sisi teknikal, IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi. Selama indeks mampu bertahan di atas area 6.150–6.160, peluang terjadinya rebound pada perdagangan intraday masih terbuka. Namun apabila tekanan jual meningkat hingga menembus level tersebut, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju kisaran 6.100 sebagai area support berikutnya. Sementara itu, level 6.220–6.250 diperkirakan menjadi area resistensi jangka pendek yang perlu ditembus agar indeks kembali melanjutkan tren penguatan.
Data AI
