Jakarta, TopBusiness—Pada kuartal dua 2026, tidak terdapat tambahan pasokan ruang ritel baru di Jakarta. Sehingga total pasokan kumulatif Jakarta tetap sebesar 4.848.200 m2 (+0.8% YoY/year on year). Hal itu dipaparkan oleh Direktur Cushman and Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo, dalam riset terbaru yang diterima Redaksi Majalah TopBusiness (28/7/2026).
Hingga akhir tahun 2026, sekitar 61.800 m2 pasokan baru diproyeksikan akan memasuki pasar, yaitu Lippo Mall East Side di Holland Village dan Travoy Hub Fase 2. Proyek-proyek tersebut masih dalam tahap pengembangan.
“Dalam jangka menengah, pasar ritel akan kembali bertambah dengan penyelesaian proyek ritel di Two Sudirman pada 2028, dengan luas sekitar 20.000 m2,” kata dia.
Adapun permintaan ruang ritel di Jakarta terus menunjukkan peningkatan, dengan total permintaan kumulatif mencapai 3.768.800 m2 (+0.2% QoQ & +0.6% YoY) dan tingkat hunian naik menjadi 77.7% pada akhir K2 2026.
Ekspansi penyewa ritel lokal maupun internasional terus berlanjut, ditandai dengan masuknya merek global seperti COS, Diptyque, dan RODO ke pasar ritel Jakarta.
Sektor F&B, khususnya minuman, tetap menjadi pendorong utama permintaan melalui pembukaan gerai baru di berbagai pusat ritel, seperti Matchaman, Kurasu, Dream Dates, dan Zus Coffee. Sektor fashion juga mencatat ekspansi yang aktif, dengan pembukaan gerai baru oleh Uniqlo, Hijack Sandals, Executive, dan Adidas Football Store di sejumlah pusat ritel utama.
Harga Sewa
Rata-rata harga sewa dasar mengalami sedikit peningkatan menjadi Rp840,100/m2/bln (+0.3% QoQ & +0.6% YoY). Demikian pula, rata-rata service charge mengalami sedikit peningkatan menjadi Rp200,400/m2/bln (+0.4% QoQ & +0.4% YoY).
Arief pun memaparkan bahwa sejumlah mal diperkirakan akan menjalani renovasi untuk menghadirkan konsep ritel baru dan menata ulang komposisi penyewa. Ke depan, pasokan ruang ritel di Jakarta diperkirakan akan lebih didominasi oleh konsep pendukung/terspesialisasi.
Hal ini didorong oleh semakin terbatasnya ketersediaan lahan serta tingginya nilai lahan, sehingga pengembangan ritel lebih banyak diintegrasikan ke dalam kawasan mixed-use maupun transit-oriented development (TOD).
Dengan semakin dekatnya penyelesaian proyek ritel baru, pasokan diperkirakan meningkat, yang berpotensi menekan tingkat okupansi.
“Meski tingkat okupansi diproyeksikan menurun, permintaan dari penyewa F&B diperkirakan tetap kuat, karena segmen ini terbukti paling tangguh dan terus berkembang,” kata Arief.
