TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Penambang Nikel Tetap Optimistis, Prospek Industri Dinilai Cerah Meski Harga Masih Tertekan

Editor
29 July 2026 | 13:13
rubrik: Marketing
Ini Alasan Sumitomo Mundur dari Proyek Smelter Nikel INCO

ilustrasi nikel. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness — Pelaku industri nikel tetap memandang prospek komoditas nikel dalam beberapa tahun ke depan dengan optimisme, meskipun harga saat ini masih jauh di bawah level puncaknya pada awal dekade 2020-an.

Head of Sustainability Nickel Industries, Muchtazar, mengatakan industri nikel Indonesia masih memiliki peluang pertumbuhan yang besar. Menurut dia, nikel tidak hanya menjadi bahan baku penting bagi baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), tetapi juga tetap menjadi komponen utama dalam industri baja nirkarat (stainless steel).

“Sebagian besar penggunaan nikel, sekitar 65–70%, masih untuk industri baja. Hingga saat ini belum ada material yang mampu menggantikan fungsi nikel dalam paduan logam karena kemampuannya meningkatkan ketahanan terhadap korosi,” ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia yang dikutip Senin (27/7/2026).

Ia menilai permintaan baja akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, pembangunan infrastruktur, industri otomotif, hingga sektor pertahanan. Di sisi lain, kebutuhan nikel kelas satu untuk industri baterai EV juga diproyeksikan terus bertambah dalam beberapa tahun mendatang.

Muchtazar menjelaskan, harga nikel yang kini berada di kisaran US$16.000–17.000 per ton merupakan hasil penyesuaian pasar setelah sempat melonjak hingga sekitar US$40.000 per ton pada awal dekade 2020-an. Lonjakan harga saat itu dipicu ekspektasi bahwa transisi menuju kendaraan listrik berbasis baterai nikel akan berlangsung sangat cepat.

Optimisme tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan persediaan (inventory), sehingga harga nikel melonjak tajam. Namun, realisasi adopsi EV tidak secepat perkiraan. Pandemi Covid-19 juga turut memengaruhi perkembangan pasar sehingga terjadi penyesuaian antara pasokan dan permintaan.

“Pada akhirnya terjadi penyesuaian harga karena pertumbuhan permintaan tidak secepat ekspektasi, sementara kapasitas produksi terus meningkat sehingga terjadi kondisi oversupply,” jelasnya.

BACA JUGA:   Branding Efektif Membangun Daya Saing Daerah dan Pemimpin

Meski demikian, ia meyakini kondisi kelebihan pasokan tersebut tidak akan berlangsung permanen. Dalam tiga hingga lima tahun mendatang, permintaan nikel dari sektor baterai EV maupun industri baja diperkirakan terus meningkat dan menciptakan keseimbangan baru di pasar.

“Saya optimistis dalam tiga sampai lima tahun ke depan penggunaan nikel, baik dari industri baterai maupun baja, akan meningkat. Hal itu akan menciptakan keseimbangan baru yang mendorong harga nikel menjadi lebih baik dibandingkan saat ini, meskipun kemungkinan tidak kembali ke level lima tahun lalu,” katanya.

Pandangan tersebut mencerminkan keyakinan pelaku industri bahwa fundamental permintaan nikel jangka panjang masih kuat, terutama ditopang kebutuhan baja nirkarat dan perkembangan industri kendaraan listrik global.

Tags: nickel
Previous Post

Properti Ritel Jakarta Tanpa Pasokan Baru di Kuartal II

Next Post

DYAN Catatkan Pendapatan Rp 780,8 Miliar dan Laba Bersih Rp 42,7 Miliar di Semester I Tahun 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR