
Jakarta, businessnews.id — Porsi bank BUMN (badan usaha milik negara) mencapai 40 persen dari aset perbankan nasional, sehingga OJK (Otoritas Jasa Keuangan) merasa perlu mengajak bicara Menteri Negara BUMN RI, Dahlan Iskan. Itu agar bank BUMN tetap berkembang menjadi lokomotif perbankan nasional. Hal itu dikatakan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad, di Jakarta hari ini.
“Dalam waktu dekat, kami akan menemui Pak Dahlan,” kata Muliaman.
Kini dengan porsi aset 40 persen itu, bank BUMN masih menjadi lokomotif.
“Namun untuk terus menjadi lokomotif, diperlukan bank BUMN yang sehat dan kuat bagi industri nasional. Kuat, dalam arti modalnya kuat, dikelola secara profesional. Dan ukurannya juga besar sehingga bisa menjawab dan melayani kebutuhan masyarakat,” Muliaman berkata.
Sementara itu, di tempat terpisah, Menteri Dahlan Iskan mengatakan akan mematuhi kalau memang benar diperintah membatalkan akuisisi Bank Tabungan Negara (BTN) oleh Bank Mandiri. Namun ia menyayangkan hal itu.
Sebab, proses akuisisi ini telah melalui kajian yang mendalam.
“Seolah-olah saya ini menteri yang ngawur. Ini sudah dikaji sangat mendalam. Melibatkan juga konsultan terbaik di bidang keuangan. Ini juga sudah dikaji, dirapatkan, dikaji lagi,” kata dia.
Ia juga tidak bisa menerima kalau akuisisi ini dinilai meresahkan masyarakat. Sebab yang resah hanyalah sebagian karyawan BTN. Dan itu wajar. “Kalau pun direksinya tidak mampu mengatasi, saya yang akan menghadapi,” kata dia.
Ia juga menilai, kalaupun ada pihak luar yang resah, paling orang seperti Rizal Ramli. Dan semua orang sudah tahu apa maksudnya.
Padahal, Menteri Dahlan melanjutkan, masyarakat luas akan sangat diuntungkan dengan akuisisi ini. Sebab BTN akan menjadi lebih besar. Dan berarti kemampuannya memberi kredit perumahan juga kian besar.
Menurut dia, pemerintahan harus tetap efektif melakukan tugas sampai akhir masa tugas.
“Setidaknya sampai presiden baru terpilih. Jangan sampai dengan selesainya Pemilihan Umum Legislatif 9 April kemarin, kemudian seolah-olah pemerintahan ini sudah demisioner. “Sehingga para menterti tidak bisa lagi bekerja maksimal,” kata dia. (ZIZ)
EDITOR: DHI