Di tengah pesatnya transformasi industri pembiayaan digital, PT Atome Finance Indonesia menempatkan Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai fondasi utama dalam membangun bisnis yang berkelanjutan. Berbekal tata kelola yang terintegrasi, pemanfaatan artificial intelligence (AI), serta penguatan manajemen risiko, perusahaan berhasil menjaga kualitas pembiayaan sekaligus memperluas bisnis ke sektor kendaraan listrik tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
Jakarta, TopBusiness – Transformasi digital telah mengubah wajah industri jasa keuangan secara signifikan. Perusahaan pembiayaan kini tidak hanya dituntut menghadirkan layanan yang cepat dan mudah, tetapi juga mampu menjaga kualitas tata kelola, memperkuat manajemen risiko, serta memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang terus berkembang. Dalam lanskap bisnis yang semakin dinamis tersebut, penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) menjadi salah satu faktor yang menentukan keberlanjutan pertumbuhan perusahaan.
Kesadaran itulah yang mendorong PT Atome Finance Indonesia membangun GRC sebagai bagian dari strategi bisnis sejak perusahaan berdiri pada 2021. Alih-alih menempatkan GRC sebagai fungsi kepatuhan semata, perusahaan mengintegrasikan governance, manajemen risiko, dan kepatuhan ke dalam setiap proses pengambilan keputusan, mulai dari pengembangan produk, ekspansi bisnis, hingga pemanfaatan teknologi digital berbasis artificial intelligence (AI). Pendekatan tersebut menjadi salah satu materi yang dipaparkan dalam wawancara penjurian TOP GRC Awards 2026 yang diselenggarakan secara daring oleh Majalah TopBusiness.
Direktur Utama PT Atome Finance Indonesia Meri Ui mengatakan bahwa fondasi GRC dibangun bersamaan dengan perjalanan awal perusahaan. Dua tahun pertama dimanfaatkan untuk membangun struktur tata kelola, membentuk berbagai komite, memperkuat organisasi, serta merekrut sumber daya manusia yang akan menjadi penggerak implementasi governance, risk, and compliance di seluruh lini perusahaan.
Menurut Meri, langkah tersebut menjadi investasi penting sebelum perusahaan memasuki fase pertumbuhan bisnis yang lebih agresif.
“Sejak perusahaan berdiri, kami memang membangun fondasi GRC terlebih dahulu. Kami membentuk governance structure, membangun berbagai komite, memperkuat organisasi, dan memastikan budaya governance tumbuh sejak awal. Ketika perusahaan mulai bertumbuh, fondasi itu sudah siap menopang seluruh aktivitas bisnis sehingga setiap keputusan dapat diambil secara lebih terukur,” ujar Meri dalam presentasinya.
GRC Menjadi Pondasi Pertumbuhan Bisnis
Meri menjelaskan, strategi tersebut mulai menunjukkan hasil ketika perusahaan memasuki tahun ketiga operasional. Setelah melalui fase investasi untuk memperluas pangsa pasar, Atome Finance Indonesia berhasil memasuki fase profitabilitas sekaligus memperluas kemitraan strategis dengan berbagai pelaku e-commerce maupun institusi keuangan.
Momentum penting lainnya terjadi pada 2024 ketika perusahaan menjalani audit Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk pertama kalinya. Audit yang berlangsung selama sekitar tujuh bulan tersebut menjadi ajang pembuktian bahwa sistem tata kelola yang dibangun sejak awal mampu berjalan secara efektif.
Menurut Meri, hasil audit tersebut semakin memperkuat keyakinan perusahaan bahwa GRC bukan hanya menjadi instrumen kepatuhan, tetapi juga fondasi bagi keberlanjutan bisnis.
“Audit OJK menjadi salah satu momentum penting bagi kami karena seluruh sistem yang sudah dibangun benar-benar diuji. Setelah melalui proses tersebut, kami dapat menyelesaikan seluruh rekomendasi dengan baik. Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinan kami bahwa governance, risk, and compliance harus menjadi bagian dari budaya perusahaan, bukan hanya kewajiban administratif,” ungkapnya.
Penguatan tata kelola tersebut kemudian diikuti dengan pengembangan berbagai inovasi bisnis. Selain tetap mengembangkan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) sebagai bisnis utama, perusahaan mulai memasuki pembiayaan kendaraan listrik roda dua atau Electric Vehicle (EV) Financing yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang seiring meningkatnya adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
Meri mengatakan bahwa setiap pengembangan bisnis baru selalu didahului dengan kajian governance, manajemen risiko, serta kepatuhan secara menyeluruh sehingga ekspansi dapat dilakukan secara bertahap namun tetap menjaga kualitas portofolio perusahaan.
Teknologi dan Data Perkuat Daya Saing
Sebagai perusahaan pembiayaan digital, Atome Finance Indonesia menempatkan data dan teknologi sebagai penggerak utama operasional bisnis. Seluruh layanan dijalankan secara digital selama 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu sehingga perusahaan mampu memberikan layanan pembiayaan secara cepat kepada pelanggan.
Menurut Meri, kekuatan perusahaan terletak pada kemampuan risk underwriting yang didukung pemanfaatan data secara real time. Kapabilitas tersebut memungkinkan perusahaan melayani segmen masyarakat yang sebelumnya belum banyak memperoleh akses pembiayaan formal sekaligus tetap menjaga kualitas manajemen risiko.
Strategi tersebut juga berhasil menarik berbagai mitra strategis, baik dari sektor e-commerce maupun institusi keuangan, yang menjadi bagian penting dalam mendukung ekspansi bisnis perusahaan.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi juga terus diperkuat melalui integrasi data kependudukan, artificial intelligence, serta berbagai model analitik untuk meningkatkan akurasi proses pengambilan keputusan.
“Manajemen risiko merupakan jantung perusahaan kami. Karena itu kami terus memperkuat kemampuan risk management melalui pemanfaatan data, artificial intelligence, integrasi dengan Dukcapil, hingga pengembangan risk acceptance dan risk tolerance. Dengan pendekatan tersebut, kami dapat mengambil keputusan bisnis secara lebih cepat sekaligus tetap menjaga kualitas pembiayaan,” jelas Meri .
Implementasi tersebut turut mendukung berbagai indikator kinerja perusahaan. Hingga Semester I 2026, Atome Finance Indonesia telah melayani lebih dari 12 juta pelanggan, membukukan ekuitas sekitar Rp441 miliar, mencatat Non Performing Financing (NPF) sekitar 0,1 persen, serta membukukan laba sekitar Rp207 miliar, atau meningkat sekitar 6,4 kali secara year-on-year.
Implementasi GRC Terintegrasi, AI Perkuat Pengambilan Keputusan Bisnis
Komitmen PT Atome Finance Indonesia dalam membangun tata kelola perusahaan tidak berhenti pada pembentukan struktur organisasi maupun penyusunan kebijakan internal. Perusahaan memastikan bahwa prinsip Governance, Risk, and Compliance (GRC) diterapkan sejak lahirnya sebuah inisiatif bisnis hingga menjadi produk yang dipasarkan kepada masyarakat. Pendekatan tersebut membuat fungsi governance tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian yang menyatu dengan strategi bisnis perusahaan.
Direktur Manajemen Risiko PT Atome Finance Indonesia Vemil Putra menjelaskan bahwa seluruh proses bisnis di perusahaan dibangun menggunakan konsep Three Lines of Defense yang membagi secara jelas peran setiap unit kerja sebagai pemilik risiko (first line), pengelola risiko dan kepatuhan (second line), hingga fungsi audit internal sebagai pihak yang memberikan assurance secara independen (third line). Dengan mekanisme tersebut, setiap keputusan bisnis memiliki lapisan pengawasan yang saling melengkapi.
Menurut Vemil, perusahaan juga membentuk berbagai forum GRC yang mempertemukan fungsi bisnis, manajemen risiko, kepatuhan, teknologi informasi, hingga audit internal sehingga seluruh keputusan strategis dapat dibahas secara komprehensif sebelum diimplementasikan.
“Di Atome Finance Indonesia, Governance, Risk, and Compliance bukan sekadar fungsi pengawasan, tetapi sudah menjadi bagian dari operating system perusahaan. Setiap inisiatif bisnis selalu dimulai dengan kajian dari sisi business strategy, risk strategy, dan compliance. Setelah produk berjalan, seluruh fungsi melakukan evaluasi secara berkala agar proses bisnis terus berkembang secara efektif dan efisien,” ujar Vemil.
Pembiayaan Kendaraan Listrik Jadi Bukti Nyata Implementasi GRC
Salah satu contoh implementasi GRC secara menyeluruh terlihat ketika perusahaan mengembangkan bisnis Electric Vehicle (EV) Financing.
Vemil menjelaskan bahwa sebelum produk diluncurkan, perusahaan terlebih dahulu melakukan feasibility study, menyusun model bisnis, melakukan kajian risiko, menyusun skema kepatuhan, hingga melakukan pembahasan dalam forum GRC. Seluruh tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa produk baru memiliki fondasi tata kelola yang kuat sebelum memasuki pasar.
Menurutnya, segmen kendaraan listrik memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan pembiayaan kendaraan konvensional. Oleh karena itu, perusahaan harus memahami profil risiko secara lebih mendalam, termasuk menentukan segmen pelanggan yang akan dilayani.
Menariknya, Atome Finance Indonesia memilih fokus pada pembiayaan kendaraan listrik bagi pengemudi ojek online, sebuah segmen yang selama ini dinilai memiliki karakteristik risiko yang berbeda dibandingkan pasar pembiayaan pada umumnya.
“Kami memulai seluruh proses melalui feasibility study, kemudian mengidentifikasi berbagai risiko yang mungkin muncul. Setelah itu kami menentukan strategi mitigasi, melakukan compliance study, membahasnya di forum GRC, lalu menjalankan pilot project dalam skala kecil sebelum melakukan ekspansi. Dengan cara seperti itu, setiap keputusan bisnis dapat diuji terlebih dahulu sehingga pertumbuhannya tetap berada dalam koridor manajemen risiko yang sehat,” jelas Vemil.
Pendekatan bertahap tersebut menghasilkan berbagai perbaikan operasional. Waktu proses underwriting yang sebelumnya membutuhkan sekitar dua jam berhasil dipangkas menjadi kurang dari lima menit. Tingkat persetujuan pembiayaan juga meningkat secara signifikan, sementara kualitas portofolio tetap terjaga.
Hingga Semester I 2026, perusahaan telah membiayai lebih dari 2.200 unit kendaraan listrik dengan tingkat Non Performing Financing (NPF) yang tetap berada pada level sangat rendah. Merry menilai pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa pertumbuhan bisnis dapat berjalan seiring dengan penguatan tata kelola dan manajemen risiko.
Artificial Intelligence Perkuat Akurasi Manajemen Risiko
Selain memperkuat tata kelola organisasi, Atome Finance Indonesia juga terus memperluas pemanfaatan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan bisnis.
Vemil menjelaskan bahwa AI telah diterapkan pada berbagai tahapan proses bisnis, mulai dari electronic Know Your Customer (e-KYC) yang terhubung dengan data Dukcapil, teknologi liveness detection untuk memastikan keaslian identitas pelanggan, fraud detection system, hingga surrogate income modelling yang membantu perusahaan menilai kemampuan pembayaran calon debitur secara lebih cepat dan akurat.
Perusahaan juga mengembangkan credit scoring berbasis machine learning, decision engine, hingga berbagai sistem pemantauan risiko secara real time seperti early warning indicator, risk dashboard, dan auto alert sehingga potensi risiko dapat dideteksi lebih dini sebelum berkembang menjadi permasalahan yang lebih besar.
“Teknologi menjadi bagian penting dalam DNA perusahaan kami. Dengan memanfaatkan artificial intelligence, machine learning, dan berbagai alternatif data, proses analisis dapat dilakukan secara real time tanpa mengurangi kualitas pengambilan keputusan. Risiko juga dapat dipantau setiap saat sehingga tindakan mitigasi bisa dilakukan lebih cepat ketika terdapat potensi yang perlu mendapatkan perhatian,”kata Vemil.
Pemanfaatan AI tidak hanya diterapkan pada proses analisis pembiayaan, tetapi juga pada aktivitas penagihan. Perusahaan menggunakan teknologi AI Collection dan robotic reminder untuk membantu mengingatkan pelanggan mengenai kewajiban pembayaran secara lebih konsisten sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
