Jakarta, TopBusiness — Perumda Air Minum Tirta Moico Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, memperkuat penerapan GRC (Governance, Risk Management, and Compliance) sebagai fondasi untuk mewujudkan perusahaan daerah yang sehat, profesional, dan berkelanjutan.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Moico Kabupaten Bombana, Irham Saputra, mengatakan GRC tidak sekadar diterapkan untuk memenuhi regulasi, tetapi diarahkan menjadi budaya organisasi dan bagian dari proses pengambilan keputusan perusahaan.
“Bagi kami, forum ini (sesi penjurian TOP GRC 2026 ini) bukan sekadar ajang penilaian maupun kompetisi. Forum ini merupakan ruang pembelajaran, ruang refleksi, sekaligus ruang untuk mewujudkan komitmen bahwa tata kelola perusahaan yang baik harus menjadi budaya organisasi, bukan hanya dokumen administrasi,” ujar Irham di hadapan dewan juri TOP GRC Awards 2026, Selasa (5/8/2026).
Menurutnya, tantangan BUMD Air Minum semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim yang memengaruhi keberlanjutan sumber air baku, meningkatnya ekspektasi masyarakat, perkembangan regulasi, hingga tuntutan menjaga kesehatan keuangan, efisiensi operasional, transformasi digital dan kontribusi terhadap pembangunan daerah.
“Karena itulah kami memandang bahwa GRC bukan sekedar kepanjangan dari Governance, Risk, Compliance, melainkan fondasi kepemimpinan perusahaan,” tegasnya.
GRC Terintegrasi dengan Strategi Bisnis
Sekilas mengenai Perumda Air Minum Tirta Moico Kabupaten Bombana. Perusahaan ini didirikan melalui Perda Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pembentukan PDAM. Selanjutnya, Perda Nomor 14 Tahun 2021 mengubah bentuk badan hukum sekaligus nama perusahaan menjadi Perumda Air Minum Tirta Moico Kabupaten Bombana.
Saat ini perusahaan melayani 14 dari 22 kecamatan di Kabupaten Bombana dengan jumlah pelanggan sebanyak 7.097 dan 46 pegawai.
Perusahaan memiliki visi menjadi BUMD air minum yang sehat dan profesional, dengan misi meningkatkan kinerja keuangan, pelayanan dan optimalisasi operasional serta meningkatkan profesionalisme pegawai.
Penguatan budaya perusahaan dilakukan melalui nilai PRIME, yakni Productive, Reliable, Innovative, Mobile, dan Service Excellent. Nilai tersebut menjadi pedoman bagi insan Perumda dalam membangun integritas, kompetensi, inovasi, kemampuan beradaptasi dan orientasi pelayanan.
Irham menuturkan, GRC akan diintegrasikan ke dalam rencana bisnis 2026 yang sedang disusun perusahaan. Strategi bisnis nantinya diselaraskan dengan visi-misi perusahaan dan RPJMD Kabupaten Bombana.
“Dari rencana bisnis tentunya nanti akan dipetakan sejauh mana risiko-risiko yang telah diidentifikasi sehingga nantinya dapat dibuat mitigasi-mitigasi sehingga terkait dengan permasalahan-permasalahan yang akan ditimbul itu bisa diminimalisir,” jelasnya.
Kinerja Perusahaan
Penerapan tata kelola dan berbagai transformasi mulai memberikan dampak terhadap kinerja Perumda Air Minum Tirta Moico. Di mana berdasarkan indikator Kementerian Pekerjaan Umum, kinerja perusahaan mengalami peningkatan.
”Di tahun 2025 kami ada peningkatan (kinerja), sudah menjadi perusahaan sehat, di mana 2 tahun terakhir yang telah dilakukan oleh BPKP itu mendapatkan opini kurang sehat. Berbagai transformasi telah kita lakukan di tahun 2025 sehingga menghasilkan opini sehat dengan poin 3,21,” ungkap Irham.
Begitu juga berdasarkan indikator Kementerian Dalam Negeri, yang sebelumnya masih mendapatkan opini cukup selama 3 tahun terakhir, tetapi untuk tahun 2025 mengalami peningkatan poin. “Sehingga tata kelola ke depan tentunya kami harapkan di tahun 2026 ini sudah bisa menunjukkan ada perubahan opini, khususnya terkait dengan indikator-indikator yang ditetapkan oleh Kementerian Dalam Negeri,” tandasnya.
Dari sisi keuangan, pendapatan usaha 2025 meningkat 2,12 persen dibandingkan 2024. Beban operasional juga turun signifikan, salah satunya melalui kebijakan reklasifikasi aset yang berdampak terhadap penurunan biaya penyusutan.
Perusahaan juga mencatat perbaikan laba rugi, total aset, ekuitas, serta tingkat penagihan rekening. Rasio operasi berhasil ditekan hingga minus 47 persen.
Meski demikian, berdasarkan indikator Kementerian Dalam Negeri, kinerja perusahaan masih berada pada kategori cukup selama tiga tahun terakhir. Perumda berharap terjadi peningkatan penilaian pada 2026.
Manajemen Risiko Jadi Instrumen Pengendalian
Dalam penerapan GRC, Perumda Tirta Moico memperkuat manajemen risiko melalui identifikasi, penilaian, dan mitigasi terhadap berbagai risiko strategis.
Salah satu tantangan terbesar adalah non-revenue water (NRW) atau tingkat kehilangan air yang masih berada di atas 50 persen. Kondisi tersebut masih jauh dari target pemerintah pusat yang mengharuskan tingkat kehilangan air ditekan paling tinggi 25 persen.
“NRW itu berada di status merah karena kami masih ada di atas 30% sehingga nanti mudah-mudahan ke depannya ini bisa ditekan sampai di bawah 25%,” ujar Irham.
Selain NRW, perusahaan memantau risiko kualitas air, kebocoran pipa, pelayanan pelanggan, hingga keberlanjutan sumber air baku. Untuk menghadapi penurunan debit air akibat kondisi iklim, perusahaan melakukan verifikasi sumber air dan mengidentifikasi sumber baru.
Sementara risiko kerusakan pipa dimitigasi melalui pemeliharaan preventif dan pembentukan tim tanggap cepat. Risiko perubahan regulasi tarif diantisipasi melalui kajian tarif berkala serta komunikasi dengan pemerintah daerah dan DPRD.
Memperkuat Tata Kelola dan Kepatuhan
Penguatan GRC juga dilakukan melalui penyesuaian struktur organisasi sesuai Permendagri Nomor 23 Tahun 2024. Perusahaan mengubah struktur manajemen dari dua bagian menjadi tiga bagian serta mengubah wilayah pelayanan dari berbasis kecamatan menjadi berbasis zona.
Dalam tata kelola, perusahaan menerapkan model RACI (Responsibility, Accountable, Consulted, Informed) untuk memperjelas peran dan tanggung jawab setiap pihak.
Model tersebut diperkuat dengan Three Lines Model. Lini pertama terdiri dari bagian teknik, hubungan pelanggan, serta administrasi dan keuangan. Lini kedua mencakup tata kelola, manajemen risiko dan kepatuhan, sedangkan lini ketiga terdiri dari SPI dan audit internal.
“Selanjutnya ada third lines, SPI dan audit internal, dibutuhkan sebuah pengawasan untuk memastikan bahwa tata kelola sudah berjalan dengan baik,” ujarnya.
Dari sisi kepatuhan, perusahaan melakukan regulatory mapping, compliance monitoring, penilaian mandiri tahunan, serta penguatan budaya integritas melalui kode etik, pakta integritas, pengendalian gratifikasi dan pengelolaan benturan kepentingan. Sementara whistleblowing system masih dalam tahap pengembangan.
Digitalisasi dan Roadmap GRC
Penerapan GRC turut didukung digitalisasi melalui pengembangan Aplikasi Supervisi, aplikasi loket pembayaran, serta sejumlah aplikasi berbasis smartphone. Digitalisasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan transparansi dan efektivitas proses bisnis.
Perumda Air Minum Tirta Moico juga telah menyiapkan roadmap implementasi GRC. Pada kuartal III hingga IV 2026, perusahaan menargetkan penguatan fondasi dan sistem GRC, sebelum dilakukan optimalisasi pada 2027.
“Roadmap implementasi GRC 2026 itu telah kami tetapkan di kuartal 3 sampai kuartal 4 2026 sebagai fondasi. Segitu juga di penguatan, ada di kuartal 4 2026 sehingga di tahun 2027 itu mudah-mudahan sudah bisa dioptimalisasi terkait Roadmap GRC,” kata Irham.
Menurut Irham, keikutsertaan dalam Top GRC Award 2026 menjadi momentum bagi perusahaan untuk melakukan pembenahan sekaligus mendorong seluruh insan Perumda agar terus meningkatkan kinerja.
“Kami percaya air yang berkualitas hanya dapat dihasilkan oleh tata kelola yang berkualitas, karena itulah di Perumda Air Minum Tirta Moico kami tidak hanya mengalirkan air kepada masyarakat, tetapi juga mengalirkan integritas, profesionalisme dan pengabdian untuk Kabupaten Bombana,” pungkas Irham.
