Jakarta, TopBusiness – PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) menempatkan implementasi Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai bagian dari strategi bisnis untuk memperkuat daya saing dan menjaga keberlanjutan usaha di tengah tantangan industri energi yang semakin kompleks.
Strategi tersebut turut mendukung peningkatan kinerja perusahaan, yang tercermin dari kenaikan laba bersih sebesar 24 persen menjadi US$ 29,61 juta pada 2025, meski pendapatan mengalami penurunan tipis menjadi US$ 435,70 juta dari US$ 446,52 juta pada tahun sebelumnya.
Direktur Utama PT Pertamina Drilling Services Indonesia Avep Disasmita mengatakan, GRC tidak lagi diposisikan sekadar sebagai instrumen kepatuhan terhadap regulasi maupun pengendalian risiko.
Bagi PDSI, tata kelola yang baik telah menjadi landasan dalam setiap pengambilan keputusan bisnis, mulai dari penyusunan strategi perusahaan, pengembangan investasi, pengelolaan risiko, hingga upaya menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Sebagai perusahaan jasa pengeboran di bawah Subholding Upstream Pertamina, kami tidak hanya menjalankan fungsi bisnis, tetapi juga ingin menjadi perusahaan yang berkelanjutan. Karena itu implementasi GRC terus kami jalankan dan kami tingkatkan melalui metode Plan-Do-Check-Act (PDCA) agar sustainability tetap terjaga dan menjadi fondasi yang kokoh untuk mengawal bisnis ke depan,” ujar Avep saat presentasi penjurian TOP GRC Awards 2026 secara daring, Senin (4/8/2028).
Dalam paparannya, Avep menjelaskan bahwa PDSI saat ini mengoperasikan 58 rig, terdiri atas 53 land rig, dua offshore workover rig, dan tiga offshore jack-up rig melalui strategic alliance.
Selain itu, perusahaan juga didukung lebih dari 110 layanan penunjang pengeboran (associated drilling), mulai dari directional drilling, mud logging, cementing, drilling fluid, dan solid control. Layanan pendukung lainnya adalah Indonesia Drilling Training Center (IDTC) yang menjadi pusat pengembangan kompetensi tenaga pengeboran.
Dengan kapabilitas tersebut, PDSI terus memperkuat posisinya sebagai penyedia integrated drilling and energy services melalui konsep end-to-end well construction, sehingga tidak hanya menyediakan jasa pengeboran, tetapi juga layanan terintegrasi yang mampu meningkatkan efisiensi operasi pelanggan.
Saat ini, menurut Avep, industri jasa pengeboran menghadapi berbagai tantangan, mulai dari fluktuasi harga minyak dunia, persaingan yang semakin ketat, tuntutan penerapan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG), hingga percepatan transisi menuju energi rendah karbon. Di sisi lain, perusahaan juga dituntut menjaga efisiensi operasional tanpa mengurangi keandalan aset, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, sekaligus menyiapkan model bisnis baru agar tetap relevan di masa depan.
“Di tengah perubahan industri energi yang berlangsung sangat cepat, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan operasional. Kami harus memastikan setiap keputusan bisnis diambil dengan mempertimbangkan aspek governance, risk, dan compliance sehingga perusahaan dapat tumbuh secara sehat, berkelanjutan, dan mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” ujar
Karena itu, PDSI tidak hanya memperkuat bisnis inti jasa pengeboran, tetapi juga melakukan diversifikasi ke berbagai lini usaha yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. Perusahaan mengembangkan layanan end-to-end well construction, memperluas dukungan pada proyek offshore dan deepwater, memperkuat kompetensi di sektor geothermal, serta mempersiapkan kapabilitas pada proyek Carbon Capture, Storage and Utilization (CCS/CCUS) dan pengembangan migas nonkonvensional.
“PDSI ingin menjadi perusahaan penyedia jasa energi yang terintegrasi, bukan hanya penyedia rig. Karena itu, seluruh strategi bisnis harus dibangun di atas fondasi tata kelola yang kuat agar setiap langkah ekspansi tetap terukur dari sisi risiko maupun peluang yang ada,” kata Avep.
Untuk mendukung strategi tersebut, perusahaan menyiapkan rencana investasi sekitar US$ 532 juta pada periode 2025–2029 yang akan difokuskan pada pengembangan layanan pengeboran terintegrasi, penguatan bisnis offshore, geothermal, CCS/CCUS, hingga peningkatan kapasitas berbagai layanan pendukung operasi pengeboran. Ekspansi tersebut juga dilakukan melalui strategi merger dan akuisisi pada sektor jasa penunjang hulu migas.
Integrasi GRC ke Seluruh Proses Bisnis
Avep menjelaskan, implementasi GRC di PDSI tidak berdiri sendiri sebagai fungsi pengawasan, tetapi telah diintegrasikan ke seluruh proses bisnis perusahaan. Setiap penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) maupun Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dilakukan dengan pendekatan risk based planning and budgeting, sehingga setiap keputusan investasi maupun pengembangan bisnis mempertimbangkan profil risiko secara menyeluruh.
Perusahaan juga menerapkan Three Lines Model yang mengacu pada ISO 31000:2018 dan Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-2/MBU/03/2023. Melalui pendekatan tersebut, setiap unit kerja bertindak sebagai risk owner, didukung fungsi Enterprise Risk Management, Legal & Compliance, serta HSSE & Quality sebagai lini kedua, sementara Internal Audit menjalankan fungsi assurance secara independen.
Pada tahun buku 2024, PDSI mencatat Risk Maturity Index (RMI) sebesar 2,4 dalam skala lima. Perusahaan juga telah menyusun roadmap peningkatan kematangan manajemen risiko hingga 2030 dengan target mencapai kategori Good Practice.
“Manajemen risiko tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari proses bisnis sehari-hari. Karena itu kami terus membangun risk culture melalui pelatihan, forum manajemen risiko, risk awareness, hingga pemberian Risk Management Award,” jelas Avep.
Saat ini PDSI mengelola 151 risiko korporasi, yang terdiri atas 125 risiko kualitatif dan 26 risiko kuantitatif. Risiko-risiko tersebut dimonitor secara berjenjang melalui pendekatan top down maupun bottom up, mencakup risiko strategis, operasional, keuangan, hukum, kepatuhan, keamanan siber, hingga risiko reputasi.
Menurut Avep, penerapan manajemen risiko yang efektif hanya dapat berjalan apabila menjadi bagian dari budaya perusahaan. “Manajemen risiko bukan hanya menjadi tanggung jawab satu fungsi tertentu. Kami ingin seluruh insan PDSI memiliki kesadaran bahwa setiap aktivitas bisnis selalu memiliki risiko yang harus dikenali, dikelola, dan dimitigasi dengan baik,” ujarnya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program penguatan budaya risiko, antara lain Forum Manajemen Risiko, Broadcast Seri Manajemen Risiko, pelatihan Certified Risk Professional (CRP) dan Certified Risk Management Professional (CRMP), serta Risk Management Award untuk mendorong implementasi manajemen risiko di seluruh unit kerja.
PDSI juga sudah melakukan assessment GCG pada 2025 (Internal) dengan hasil skor 99,72 (Sangat Baik). Angka ini naik dibandingkan hasil penilaian pada 2024 dengan skor 86,86 (Sangat Baik).
Digitalisasi dan GRC Online
Penguatan tata kelola juga dilakukan melalui transformasi digital. Saat ini, PDSI sudah mengimplementasikan GRC Online.
Dalam sesi pendalaman, Avep meminta Manager Legal & Compliance PT Pertamina Drilling Services Indonesia, Lina Pristiawati, menjelaskan implementasi GRC Online yang telah diterapkan perusahaan.
Lina menjelaskan bahwa digitalisasi tersebut memungkinkan proses governance, manajemen risiko, dan kepatuhan dilakukan secara terintegrasi melalui platform digital.
Dengan sistem tersebut, manajemen dapat memantau profil risiko, kepatuhan terhadap regulasi, hingga tindak lanjut berbagai rekomendasi secara real time, sehingga pengambilan keputusan menjadi lebih cepat, transparan, dan berbasis data.
Implementasi GRC Online didukung sejumlah aplikasi, antara lain Enterprise Risk Management System (ERMS) dan Dashboard Integrated Risk Management (DISKMan) untuk pengelolaan risiko perusahaan, Regulatory Compliance System yang menyediakan pembaruan regulasi secara berkala, serta Compliance Online System (COMPOLS) yang mengintegrasikan pelaporan Code of Conduct, Conflict of Interest, gratifikasi, hingga LHKPN dalam satu platform digital.
Avep menilai digitalisasi tersebut menjadi bagian penting dalam transformasi perusahaan.
“Digitalisasi GRC bukan sekadar memindahkan proses manual ke sistem elektronik. Yang kami bangun adalah sistem yang mampu menyediakan informasi secara cepat sehingga keputusan bisnis dapat diambil berdasarkan data, mempertimbangkan risiko, dan tetap berada dalam koridor tata kelola yang baik,” katanya.
Transformasi digital juga diterapkan pada aspek operasional melalui Digitalized Decision Support System (DPIPES) untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data, Fuel Online Monitoring (FOMo) guna memantau konsumsi bahan bakar secara real time, serta pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) melalui sistem CCTV yang mampu mendeteksi unsafe act dan unsafe condition sebagai bagian dari penguatan aspek HSSE.
Dorong Efisiensi dan Profitabilitas
Dalam sesi pendalaman dewan juri, Avep menegaskan bahwa keberhasilan penerapan GRC tidak hanya ditentukan oleh keberadaan sistem, tetapi juga oleh komitmen seluruh insan perusahaan.
Karena itu, penguatan budaya perusahaan menjadi salah satu prioritas utama. Berbagai program kepemimpinan, coaching, pengembangan talenta, hingga internalisasi Living Core Values (LCV) terus dilakukan agar nilai-nilai integritas tertanam dalam setiap aktivitas bisnis.
PDSI juga mengembangkan Indonesia Drilling Training Center (IDTC) yang tidak hanya menjadi pusat pelatihan teknis pengeboran, tetapi juga sarana pembentukan budaya keselamatan, profesionalisme, dan tata kelola yang baik bagi seluruh pekerja.
“Kami ingin memastikan bahwa transformasi bisnis selalu berjalan seiring dengan transformasi budaya. Dengan demikian, GRC bukan hanya menjadi tanggung jawab fungsi tertentu, tetapi menjadi budaya kerja seluruh insan PDSI,” kata Avep.
Pendekatan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang menopang kinerja perusahaan sepanjang 2025. Di tengah tekanan industri migas, PDSI berhasil meningkatkan laba bersih sebesar 24 persen menjadi US$ 29,61 juta, sementara EBITDA tumbuh 20 persen menjadi US$ 101,20 juta, meskipun pendapatan sedikit terkoreksi.
Menurut Avep, implementasi GRC yang semakin matang memberikan dampak nyata terhadap peningkatan efektivitas operasional dan profitabilitas perusahaan. Selain mencatat pertumbuhan laba bersih 24 persen menjadi US$ 29,61 juta, PDSI juga berhasil meningkatkan EBITDA sebesar 20 persen menjadi US$ 101,20 juta pada 2025.
Peningkatan tersebut dicapai melalui berbagai langkah efisiensi, termasuk optimalisasi biaya sewa drilling equipment rental serta penerapan kebijakan budget capping sebesar 15 persen untuk memperkuat budaya efisiensi di seluruh organisasi.
Di sisi operasional, project availability meningkat menjadi 81,07 persen, project utilization naik menjadi 66,35 persen, sedangkan project productivity mencapai 63,67 persen, mencerminkan peningkatan efektivitas pemanfaatan aset dan perolehan proyek.
“Bagi kami, keberhasilan GRC bukan diukur dari banyaknya prosedur atau dokumen yang dimiliki perusahaan, tetapi dari kemampuannya mendukung pencapaian target bisnis, meningkatkan produktivitas, menjaga keberlanjutan usaha, dan menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Avep.
Berbagai capaian tersebut turut diikuti sederet penghargaan di bidang keselamatan kerja, kualitas, inovasi, human capital, keberlanjutan, hingga tata kelola.
Pada 2025, PDSI meraih penghargaan TOP GRC Awards 2025 4 Star (Very Good) dan The Most Committed GRC Leader 2025 yang diberikan kepada Avep Disasmita selaku direktur utama PDSI. Sementara itu, Komisaris Utama Gema Iriandus Pahalawan menerima penghargaan The High Performing Commissioner on GRC.
