TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Kenapa Bank Sentral Kini Dituntut Integrasi Kebijakan

Achmad Adhito
6 August 2026 | 08:05
rubrik: Ekonomi
12 Kepala Perwakilan BI, Berganti

Sumber Foto: Bank Indonesia

Jakarta, TopBusiness—Fragmentasi geoekonomi, transformasi digital, hingga meningkatnya risiko sistemik membuat pendekatan kebijakan yang selama ini berjalan secara sektoral tidak lagi memadai.

“Bank sentral kini dituntut mengintegrasikan kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, hingga koordinasi fiskal,” kata Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, dalam keterangan tertulis(5/8/2026).

Membuka Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 dan Call for Papers di Bali, yang tahun ini mengangkat tema “Central Banking at the Crossroads of Geoeconomic Fragmentation, Digital Transformation, and Systemic Risks”, Destry menyampaikan sejumlah hal.

Menjawab tantangan tersebut, riset bank sentral perlu diarahkan pada empat agenda prioritas. Pertama, memperkuat pemahaman mengenai transmisi kebijakan moneter di tengah fragmentasi geoekonomi. Kedua, memperdalam analisis mengenai keuangan digital dan implikasi perkembangan sistem pembayaran digital, kecerdasan artifisial (AI), fintech, aset kripto, serta mata uang digital terhadap kebijakan bank sentral.

Ketiga, mengembangkan pengukuran risiko sistemik dan pengawasan makrofinansial yang mampu mengantisipasi risiko siber, perubahan iklim, likuiditas, hingga risiko lintas negara.

Keempat, memperkuat kredibilitas kelembagaan dan komunikasi kebijakan sebagai fondasi dalam menjaga kepercayaan publik.

“Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan bagi kebijakan guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global,” tegas Destry.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan RI (Wamenkeu), Juda Agung, menekankan bahwa ketidakpastian global yang semakin kompleks menuntut penguatan koordinasi kebijakan. Dalam menghadapi trilema kebijakan antara stabilitas nilai tukar, mobilitas arus modal, dan independensi kebijakan moneter, kebijakan moneter tidak dapat bekerja sendiri. Melainkan perlu didukung oleh kebijakan fiskal, makroprudensial, serta pengelolaan likuiditas yang saling melengkapi.

BACA JUGA:   Meski Menguat, Rupiah Masih di Atas Level Rp 14.000/Dolar AS

Menurutnya, koordinasi yang kuat antarlembaga menjadi kunci untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Tags: bank indonesiadestry damayantiintegrasi kebijakan bank sentralwamenkeu juda agung
Previous Post

BEI Hentikan Sementara Perdagangan Saham DOOH

Next Post

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR