Mengikuti Wawancara Penjurian TOP GRC Awards 2026, PT Sinar Terang Mandiri Tbk. menunjukkan upaya mengintegrasikan tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, ESG, teknologi, dan efisiensi sumber daya sebagai fondasi ketahanan bisnis
Jakarta, TopBusiness — Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) tidak lagi cukup ditempatkan sebagai program tambahan perusahaan. Bagi PT Sinar Terang Mandiri Tbk. (STM), GRC mulai diarahkan menjadi bagian dari cara perusahaan merancang strategi, mengelola risiko, menjalankan operasi, mengukur kinerja, dan mengambil keputusan.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu hal yang ditunjukkan STM ketika mengikuti Wawancara Penjurian TOP GRC Awards 2026 secara daring, Senin (10/8/2026).
STM hadir dalam forum tersebut dengan Komisaris Independen Hendra Susanto, Direktur Utama Ivo Wanggary, dan Manager HSET & Compliance Rendi Anlivianda Dwi Angga.
Sementara itu, Dewan Juri TOP GRC Awards 2026 terdiri atas Benjamin De Haan dari MSI Group, As’ad Nugroho dari MSI Institute, Dwinda Ruslan dari Yayasan Info, dan Teguh Imam Suyudi dari majalah TopBusiness.
Dalam wawancara penjurian, Dewan Juri melakukan pendalaman terhadap strategi, implementasi, efektivitas, inovasi, serta dampak penerapan GRC terhadap kinerja dan keberlanjutan perusahaan.
“Panitia penyelenggara dan Dewan Juri menyampaikan apresiasi terhadap STM sebagai kandidat peraih penghargaan TOP GRC Awards,” ujar Ben De Haan.
Tema TOP GRC Awards 2026, “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC”, menegaskan bahwa keberlanjutan perlu dirancang sejak awal melalui tata kelola yang kuat, pengelolaan risiko yang terintegrasi, kepatuhan yang efektif, serta pemanfaatan teknologi, data, dan kecerdasan digital.
Dalam konteks STM, pendekatan tersebut tercermin dari upaya menghubungkan GRC dengan strategi bisnis, kinerja operasional, HSET, ESG, audit, hingga pengelolaan data.
GRC Tidak Berhenti pada Kepatuhan
PT Sinar Terang Mandiri Tbk bergerak di bidang jasa pertambangan yang memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun, dengan kapabilitas mencakup perencanaan tambang, konstruksi infrastruktur pertambangan, operasional pertambangan, hingga ke transportasi hasil tambang (hauling, barging, dan transshipment) serta peremukan batu dan produksi paving.
“STM merupakan perusahaan jasa pertambangan yang telah berpengalaman lebih dari 20 tahun dalam menyediakan layanan pertambangan secara end-to-end,” ujar Hendra Susanto.
Rendi memaparkan bahwa STM mengembangkan konsep GRC Integration Model yang menghubungkan sasaran strategis, risiko, kepatuhan, kontrol, ESG, kinerja, audit, serta tindakan perbaikan.
Konsep tersebut juga dituangkan STM melalui enam prinsip desain GRC terintegrasi, yaitu strategy-led, risk-based, one owner, three lines, connected data, dan continuous improvement.
“Risiko, kepatuhan, pengendalian internal, ESG, audit, dan kinerja perlu berada dalam satu ekosistem agar manajemen memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi perusahaan,” tegas Rendi
Direksi Menjadi Penggerak GRC
Dalam struktur GRC STM, Dewan Komisaris dan Komite Audit memiliki fungsi pengawasan terhadap strategi, risk appetite, efektivitas GRC, audit, ESG, serta integritas pelaporan.
Menurut Rendi, struktur tersebut penting karena risiko yang dihadapi perusahaan tidak hanya berada pada satu bidang. Risiko dapat muncul dari kegiatan operasional, keselamatan, keuangan, kepatuhan, proyek, lingkungan, sumber daya manusia, teknologi informasi, hingga reputasi.
“Karena itu, GRC membutuhkan koordinasi lintas fungsi. Dalam konteks tersebut, peran Direktur Utama menjadi penting. GRC tidak cukup hanya dibangun oleh fungsi HSET, Compliance, Audit, atau Legal. Prinsip tata kelola harus menjadi bagian dari keputusan manajemen dan diterapkan sampai ke tingkat operasional” imbuhnya.
ESG Masuk ke Pengambilan Keputusan
Salah satu bagian penting dalam materi STM adalah upaya mengintegrasikan environmental, social, and governance (ESG) dengan GRC.
ESG tidak ditempatkan semata-mata sebagai materi laporan keberlanjutan. Dalam kerangka STM, ujar Rendi, ESG dikaitkan dengan sumber risiko, peluang, persyaratan kontrak, indikator kinerja, serta bahan pengambilan keputusan investasi.
Penghematan Air Jadi Contoh Nyata
Salah satu praktik yang menonjol dalam penerapan Sustainability by Design STM adalah program penghematan air.
“Adanya tren penurunan penggunaan air selama periode 2023 hingga 2025. Total penghematan air yang dicatat mencapai 28.640.432 liter selama tiga tahun tersebut. Rinciannya, penghematan pada 2023 sebesar 20.249.332 liter, pada 2024 sebesar 5.252.500 liter, dan pada 2025 sebesar 3.138.600 liter,” ungkap Rendi.
Program tersebut didukung kampanye hemat air dan edukasi kepada karyawan, termasuk melalui peringatan World Water Day.
Perusahaan menetapkan perhatian terhadap penggunaan sumber daya, melakukan pengukuran, menjalankan kampanye, kemudian memantau hasilnya. Dari sisi GRC, proses tersebut dapat menjadi siklus perbaikan yang terus berlangsung.
Teknologi Memperkuat Pengendalian
Integrasi GRC STM juga didukung pemanfaatan teknologi dan data. Perusahaan mengembangkan Integrated GRC Dashboard dengan sejumlah tampilan eksekutif. Dashboard tersebut mencakup Strategy & Performance, Risk & Compliance, HSET & ESG, serta Audit & Action.
Rendi mengatakan bahwa melalui dashboard tersebut, manajemen dapat memperoleh informasi mengenai kinerja, risiko utama, kepatuhan, insiden, ESG, temuan audit, hingga tindakan koreksi.
Teknologi juga diterapkan dalam aspek keselamatan melalui Simulator Operator Alat Berat, Fatigue Monitoring System, dan Fleet Management System.
Pada sistem pemantauan kelelahan, kamera inframerah digunakan untuk mendeteksi indikasi fatigue atau distraksi pada operator. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan petugas untuk melakukan verifikasi dan mengambil tindakan.
AI Mendukung Keputusan
STM juga mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI untuk mendukung kegiatan GRC. AI antara lain digunakan untuk mempercepat pembuatan materi kampanye dan dashboard visualisasi.
“Pemanfaatan teknologi tersebut diarahkan untuk membantu penyampaian informasi, monitoring data secara real-time, dan pengambilan keputusan yang lebih cepat berbasis data,” ujar Rendi.
Manusia Tetap Menjadi Faktor Utama
Teknologi dan sistem tidak akan berjalan tanpa manusia. Ivo Wanggary mengatakan bahwa STM menempatkan pengembangan kompetensi sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan.
Pelatihan dilakukan secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan pihak eksternal. Pada 2025, realisasi peserta pelatihan mencapai 57 orang dari target 58 orang atau 98,28 persen.
GRC dan Hubungan dengan Masyarakat
Keberlanjutan juga mencakup hubungan perusahaan dengan masyarakat sekitar wilayah operasi.
Dalam pemetaan terhadap Sustainable Development Goals, STM menunjukkan sejumlah kegiatan sosial dan lingkungan.
Di antaranya kegiatan Sunday Clean dan World Clean Up Day, Employee Family Visit, kerja sama dengan masyarakat lokal, bantuan hewan kurban, bantuan sosial kepada lembaga pendidikan keagamaan, serta pemeriksaan kesehatan masyarakat.
Perusahaan juga menjalankan sejumlah kegiatan terkait kesehatan, sanitasi, kebersihan lingkungan, serta penanaman pohon di area operasional.
Melalui integrasi GRC, ESG, teknologi, dan kinerja, STM berupaya menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari cara perusahaan menjalankan bisnis.
“Bagi perusahaan, konsep tersebut menjadi perjalanan untuk membangun bisnis yang lebih tangguh, adaptif, bertanggung jawab, dan mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Rendi.
