TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Nusantara Regas Jadikan GRC Filter Keputusan Strategis dan Investasi

Nurdian Akhmad
12 August 2026 | 10:07
rubrik: Business Info, Event, GCG
Nusantara Regas Jadikan GRC Filter Keputusan Strategis dan Investasi

Jakarta, TopBusiness – PT Nusantara Regas menjadikan pengelolaan risiko sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan strategis perusahaan. Penerapan Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) tersebut tidak hanya diarahkan untuk menjaga kepatuhan dan mengendalikan risiko, tetapi juga mendukung efisiensi biaya, keberlangsungan operasi, dan pencapaian kinerja bisnis perusahaan.

Direktur Manajemen Risiko Nusantara Regas Ali Azmy mengatakan, aspek risiko kini menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan, termasuk keputusan strategis dan investasi. Mekanisme tersebut dilakukan melalui persetujuan Direktur Manajemen Risiko serta cross approval antardireksi.

“Tidak ada approval absolut di salah satu Direksi, tetapi harus ada approval dari Direktur Manajemen Risiko,” kata Ali dalam sesi pendalaman TOP GRC Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Selasa (11/8/2026).

Tim Nusantara Regas yang hadir dalam sesi penjurian TOP GRC Awards 2026 terdiri atas Ali Azmy (Direktur Manajemen Risiko), Nanny Atika (VP Risk), Fahmi (Plt. Corporate Secretary), Elisabet Jupesta (Plt. Manager Legal & Compliance), Asri Ningrum (Manager IGBA), dan Vanda Seri Devi (Sr. Officer IGBA).

Menurut dia, setiap rencana investasi juga harus melalui investment review yang melibatkan fungsi Legal & Compliance dan Risk Management, selain fungsi pengusul investasi. “Jadi, filternya cukup banyak untuk keputusan investasi dan proses tersebut sudah dibakukan,” ujarnya.

Ali mengatakan, keterlibatan fungsi risiko dalam pengambilan keputusan merupakan bagian dari upaya perusahaan memastikan ekspansi maupun kegiatan operasional tetap berjalan dengan tingkat risiko yang terukur.

Penerapan GRC juga diarahkan untuk memberikan dampak terhadap kinerja perusahaan, antara lain melalui pengendalian biaya. Salah satu program yang terus dipantau adalah cost optimization.

“Cost optimization ini cukup signifikan dampaknya terhadap kondisi keuangan Nusantara Regas, terutama dalam meningkatkan efisiensi biaya,” kata Ali.

Menurut dia, program efisiensi dijalankan oleh masing-masing fungsi dan tetap disertai pemantauan risiko. Dengan demikian, upaya menekan biaya tidak dilakukan dengan mengorbankan aspek keselamatan, keandalan operasi maupun keberlangsungan bisnis.

Risiko Dikaitkan dengan Kinerja

Ali menilai efektivitas GRC pada akhirnya harus terlihat dari kinerja perusahaan. Karena itu, penerapan manajemen risiko tidak cukup hanya dinilai dari keberadaan kebijakan dan prosedur, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pencapaian target perusahaan.

Salah satu indikatornya tercermin dalam Key Performance Indicator (KPI) perusahaan yang mencakup aspek finansial dan nonfinansial.

BACA JUGA:   Belanja Konsumen Asia-Pasifik Naik

Selain itu, pengelolaan risiko diukur melalui Risk Maturity Index. Hasil Risk Maturity Index 2026 mencapai 4,2, meningkat dari 3,7 pada tahun sebelumnya.

Vice President Risk Nusantara Regas Nanny Atika menjelaskan, penilaian Risk Maturity Index mencakup aspek dimensi dan aspek kinerja.

Pada aspek dimensi, penilaian meliputi budaya dan kapabilitas risiko, organisasi dan tata kelola risiko, kerangka risiko dan kepatuhan, proses dan kontrol risiko, serta model data dan teknologi risiko.

“Di dalam aspek dimensi sudah terdapat indikator-indikator yang mengukur tata kelola dan kepatuhan,” ujar Nanny.

Sementara aspek kinerja melihat pencapaian perusahaan, termasuk revenue dan laba. Artinya, pengelolaan risiko tidak berdiri sendiri, tetapi dikaitkan dengan kemampuan perusahaan mencapai target bisnis dan keuangan.

Menjaga Keandalan Operasi

Dampak pengelolaan risiko juga terlihat dari upaya Nusantara Regas menjaga keandalan fasilitas operasi.

Ali mengatakan keberlangsungan operasi Floating Storage and Regasification Unit (FSRU), pipa bawah laut, dan Onshore Receiving Facility (ORF) menjadi bagian penting dari pengelolaan risiko perusahaan.

Kelancaran operasi fasilitas tersebut berpengaruh terhadap kesinambungan pasokan gas ke pembangkit listrik. “Jakarta tetap aman. Alhamdulillah, listrik tidak mati. Itu menunjukkan bahwa kita melakukan mitigasi risiko dengan benar,” ujarnya.

Menurut Ali, keandalan operasi menjadi bagian dari nilai bisnis perusahaan karena gangguan terhadap fasilitas regasifikasi dapat berdampak terhadap kesinambungan pasokan gas dan pada akhirnya terhadap kinerja perusahaan.

Nusantara Regas juga melakukan pemantauan Top Risk secara rutin melalui rapat manajemen bulanan yang melibatkan Direksi dan jajaran Vice President.

Dalam rapat tersebut, manajemen membahas perkembangan Top Risk, pencapaian setiap Risk Treatment, serta potensi munculnya risiko baru.

“Yang kita bahas adalah monitoring risiko. Kita melakukan monitoring pengelolaan Top Risk. Pencapaian setiap Risk Treatment kita lihat secara detail, per aktivitas, apakah tercapai atau tidak,” kata Ali.

Pemantauan tersebut dilengkapi Early Warning System, sementara fungsi Legal & Compliance memantau aspek kepatuhan dan Internal Audit menjalankan fungsi assurance.

Menurut Ali, salah satu Top Risk pada periode sebelumnya adalah keberlangsungan bisnis. Risiko tersebut muncul karena tingginya ketergantungan pendapatan perusahaan terhadap pelanggan tertentu. “Kalau PLN menghentikan penggunaan jasa kita, tentu bisnis akan sangat terdampak,” katanya.

Dalam matriks risiko, risiko keberlangsungan bisnis tersebut menjadi salah satu dari lima Top Risk perusahaan. Nilai inherent risk berada di angka 12, sedangkan residual risk sebesar 9.

BACA JUGA:   Bank China Construction Tunjuk Direksi-Komisaris Baru

Pengelolaan risiko tersebut kemudian diarahkan untuk memastikan perusahaan mampu menjaga kegiatan operasional sekaligus mengembangkan sumber pendapatan dan bisnis baru.

Kepatuhan Menjadi Bagian dari KPI

Dari sisi governance dan compliance, Nusantara Regas memasukkan GCG Implementation ke dalam KPI perusahaan.

Plt. Corporate Secretary Nusantara Regas Fahmi mengatakan indikator tersebut mencerminkan kepatuhan perusahaan terhadap sejumlah aspek, termasuk Code of Conduct (CoC), Conflict of Interest (CoI), dan kewajiban pelaporan LHKPN.

“Di KPI kita ada yang namanya GCG Implementation. Intinya, itu merepresentasikan kepatuhan kita terhadap beberapa aspek,” kata Fahmi.

Berdasarkan materi perusahaan, GCG Implementation Score Nusantara Regas pada 2025 mencapai 97,853%, meningkat dari 97,07% pada 2024 dan mempertahankan predikat sangat baik.

Sementara tingkat kepatuhan regulasi tercatat sebesar 98,1%. Dari 413 kewajiban regulatori, sebanyak 405 telah dipenuhi.

Perusahaan juga mempertahankan penerapan ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP). Hasil 1st Surveillance Audit pada 2025 tidak menemukan Non-Conformity.

WBS dan Penguatan Integritas

Plt. Manager Legal & Compliance Nusantara Regas Elisabet Jupesta mengatakan, perusahaan menggunakan Whistleblowing System (WBS) sebagai salah satu saluran pengendalian pelanggaran.

Pada periode Januari hingga Juli 2026 tidak terdapat laporan WBS terkait Nusantara Regas. Sementara pada 2025 terdapat satu kasus yang telah diselesaikan dan diberikan tindakan disiplin. “Memang ada tindakan yang jelas dan ada follow-up serta proses yang jelas,” ujar Elisabet.

Selain WBS, perusahaan menerapkan Pakta Integritas, CoC, CoI, serta mekanisme pelaporan gratifikasi melalui Compliance Online System (COMPOLS).

Setiap tahun pekerja diwajibkan menandatangani Pakta Integritas. Ketentuan serupa diterapkan pada sejumlah proyek yang bersifat material.

Model Bisnis dan Prospek Regasifikasi

Pengelolaan GRC tersebut berjalan seiring dengan bisnis utama Nusantara Regas sebagai penyedia jasa regasifikasi LNG.

Ali menjelaskan, saat ini Nusantara Regas memiliki dua pelanggan utama, yakni PLN dan PGN. Kedua pelanggan tersebut memiliki kargo LNG yang kemudian diregasifikasi melalui fasilitas Nusantara Regas. Perusahaan memperoleh pendapatan dari jasa terminal regasifikasi.

“Business model kita lebih kepada jasa terminal regasifikasi. Saat ini kami memiliki dua pelanggan, yaitu PLN dan PGN,” katanya.

Skema tersebut berbeda dengan model yang pernah dijalankan sebelum 2022 ketika Nusantara Regas juga menjalankan perjanjian jual beli gas.

BACA JUGA:   BPR Kendali Artha Terus Tumbuh, Saat Ketatnya Persaingan

Ke depan, kebutuhan terhadap jasa regasifikasi dinilai berpotensi meningkat seiring dengan penurunan pasokan gas dari sejumlah sumber domestik.

Ali mengatakan penurunan pasokan dari upstream Sumatera dapat meningkatkan kebutuhan terhadap LNG sebagai salah satu sumber pasokan gas. “LNG akan menjadi salah satu solusi dan peran Nusantara Regas akan semakin kritikal,” ujarnya.

Potensi tersebut sekaligus membuka ruang bagi perusahaan untuk memperkuat kinerja bisnis melalui pemanfaatan aset dan infrastruktur yang dimiliki.

Digitalisasi Dukung Pengelolaan GRC

Untuk mendukung penerapan GRC, Nusantara Regas juga mengembangkan sistem digital.

Perusahaan menggunakan Enterprise Risk Management System (ERMS) untuk pengelolaan risiko, Regulatory Compliance System (RCS) untuk pemantauan regulasi, serta COMPOLS untuk mendukung aspek compliance dan integritas.

Digitalisasi juga mulai diterapkan pada fungsi Legal & Compliance, termasuk pemanfaatan teknologi berbasis AI untuk mendukung regulatory intelligence dan analisis hukum.

Sementara untuk pengelolaan kinerja, perusahaan menjalankan rapat manajemen bulanan yang menjadi forum untuk mengevaluasi kinerja, risiko, dan perkembangan program kerja.

Setiap fungsi menyampaikan perkembangan kinerja kepada Direksi, sedangkan pelaporan kepada Dewan Komisaris dilakukan secara berkala. Untuk pemegang saham, pelaporan dilakukan secara triwulanan dengan mengacu pada Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Dengan mekanisme tersebut, GRC ditempatkan langsung dalam proses bisnis perusahaan, mulai dari perencanaan, pengambilan keputusan, pengendalian biaya, pengelolaan risiko, hingga evaluasi kinerja.

Bagi Nusantara Regas, pendekatan tersebut diharapkan dapat menjaga kualitas pengambilan keputusan sekaligus memastikan efisiensi, keandalan operasi, dan keberlangsungan bisnis tetap berjalan seiring dengan target kinerja keuangan perusahaan.

Berkat konsistensi dalam penerpan GRC terintegrasi, kata Fahmi, Nusantara Regas berhasil mempertahankan Zero Fatality selama lebih dari 13,7 juta jam kerja dan memperoleh penghargaan Patra Nirbhaya Karya Madya, sebagai implementasi aspek Environmental & Social (ESG) melalui penguatan budaya HSSE dan keberlanjutan operasional.

PT Nusantara Regas kembali terpilih sebagai salah satu kandidat peraih TOP GRC Awards 2026, setelah pada ajang tahun sebelumnya berhasil meraih TOP GRC Awards 2025 dengan predikat bintang 5. Capaian tersebut menjadi bagian dari rekam jejak perusahaan dalam mengembangkan penerapan GRC yang terintegrasi, baik dalam pengelolaan risiko, kepatuhan, tata kelola maupun pengambilan keputusan bisnis.

Tags: PT Nusantara RegasTOP GRC Awards 2026
Previous Post

GRC Terintegrasi Jadi Kunci Bank BPR Sumsel Perkuat Kinerja dan Tata Kelola

Next Post

SCG Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Perubahan Lewat Sharing the Dream 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR