Jakarta, TopBusiness – PT Panin Asset Management (Panin AM) terus memperkuat penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) terintegrasi sebagai fondasi dalam menjaga ketahanan bisnis dan menciptakan nilai jangka panjang bagi nasabah serta pemangku kepentingan. Penguatan tersebut mencakup tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, audit internal, ESG, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Hal tersebut disampaikan Jessica Maria Gultom selaku Associate Director of Compliance PT Panin Asset Management dalam Wawancara Penjurian TOP GRC Awards 2026 yang diselenggarakan Majalah TopBusiness, Kamis, 13 Agustus 2026.
Panin AM merupakan perusahaan manajemen investasi yang berdiri sejak 1997 dan menjadi anak perusahaan PT Panin Sekuritas. Sejak spin-off menjadi entitas independen pada 2011, perusahaan menyebut telah melalui berbagai kondisi krisis dan terus membangun reputasi serta rekam jejak di industri manajer investasi. Per Juni 2026, dana kelolaan Panin AM tercatat lebih dari Rp 13 triliun.
Menurut Jessica, penerapan GRC tidak hanya ditempatkan sebagai fungsi pengawasan, tetapi menjadi bagian dari proses bisnis perusahaan. GRC diarahkan untuk memastikan risiko dapat diidentifikasi dan dikendalikan, kepatuhan terjaga, serta setiap keputusan bisnis tetap sejalan dengan tata kelola perusahaan.
“Kepatuhan tidak dirancang untuk mengunci gerak bisnis. Legal, Risk & Compliance justru mendampingi tim bisnis di setiap tahap implementasi peraturan baru,” ujar Jessica, sebagaimana pendekatan yang diterapkan Panin AM dalam menyelaraskan kewajiban hukum dan kebutuhan bisnis.
Panin AM menerapkan struktur Three Lines Model. Garis pertahanan pertama dijalankan unit operasional yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan risiko dalam aktivitas sehari-hari. Garis kedua terdiri atas fungsi Manajemen Risiko dan Kepatuhan yang melakukan pemantauan risiko serta kepatuhan secara independen. Sementara garis ketiga dijalankan Internal Audit yang memberikan evaluasi dan assurance secara independen terhadap efektivitas pengendalian internal dan tata kelola.
Struktur tersebut diperkuat dengan pembagian tanggung jawab melalui prinsip RACI, yakni Responsible, Accountable, Consulted, dan Informed. Dengan pendekatan itu, perusahaan memiliki pembagian peran yang lebih jelas dalam identifikasi risiko, implementasi kontrol, pemantauan kepatuhan, pemberian assurance, hingga tindak lanjut atas temuan.
Dalam implementasinya, Panin AM juga mengembangkan sejumlah program GRC terintegrasi. Di antaranya Integrated Document Governance, pemeriksaan kepatuhan cabang, pemeriksaan APU PPT PPSPM, serta resertifikasi ISO 9001:2015. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat tata kelola dokumen, mengidentifikasi risiko operasional dan fraud, memastikan kepatuhan terhadap ketentuan APU PPT, serta meningkatkan kualitas proses dan layanan.
Sebagai bagian dari grup Panin, Panin AM juga terlibat dalam mekanisme GRC terintegrasi melalui Satuan Kerja Audit Internal Terintegrasi (SKAIT), Satuan Kerja Manajemen Risiko Terintegrasi (SKMRT), Satuan Kerja Kepatuhan Terintegrasi (SKKT), Komite Tata Kelola Terintegrasi (KTKT), dan Komite Manajemen Risiko Terintegrasi (KMRT). Pelaporan rutin serta rapat semester menjadi bagian dari mekanisme tersebut.
Dari sisi manajemen risiko, Panin AM mengelola berbagai risiko yang berkaitan dengan produk investasi maupun perusahaan. Risiko tersebut antara lain risiko pasar, likuiditas, kredit, konsentrasi portofolio efek, kepatuhan, operasional, reputasi, hukum, strategis, investasi, intragrup, teknologi informasi, hingga risiko terkait ESG. Perusahaan menggunakan sejumlah perangkat seperti Business Impact Analysis (BIA), Business Continuity Plan (BCP), Risk Register, Risk Appetite & Risk Tolerance, serta profil risiko.
Dalam aspek kepatuhan, perusahaan memiliki divisi kepatuhan yang independen di bawah Presiden Direktur. Mekanisme yang diterapkan mencakup identifikasi, penilaian, mitigasi, dan pemantauan risiko kepatuhan. Panin AM juga menerapkan sistem monitoring dan kontrol, termasuk alert otomatis terhadap batas investasi, transaksi, maupun kebutuhan audit internal, serta pelatihan dan sosialisasi regulasi kepada karyawan sesuai fungsi masing-masing.
Jessica menekankan bahwa kepatuhan dan manajemen risiko harus berjalan seiring dengan pengembangan bisnis. Pendekatan tersebut tercermin dalam regulatory mapping yang memetakan kewajiban dari berbagai rezim regulator dalam satu kerangka, sehingga perusahaan tidak menangani kewajiban secara terpisah-pisah.
“Setiap permintaan atau kewajiban lintas rezim dikaji lebih dahulu oleh fungsi Legal & Compliance. Regulatory mapping memetakan seluruh kewajiban dalam satu kerangka, bukan silo per regulator,” kata Jessica.
Panin AM juga menjalankan Whistleblowing System (WBS) sebagai sarana pelaporan dugaan pelanggaran maupun tindakan tidak etis, baik dari internal maupun eksternal perusahaan. Sistem tersebut dirancang untuk menjaga kerahasiaan dan keamanan identitas pelapor. Setiap laporan ditindaklanjuti melalui investigasi oleh tim terkait dan menjadi dasar dalam menentukan tindakan disipliner.
Penguatan GRC turut didukung teknologi informasi. Panin AM mengimplementasikan core investment management system yang terintegrasi dari customer management, order routing, trade order management, pre-trade compliance, portfolio valuation, risk monitoring, hingga pelaporan kepada regulator dan investor. Perusahaan juga menerapkan IT Governance berbasis ITIL serta manajemen risiko TI yang selaras dengan ISO 27001.
Teknologi juga mulai diarahkan pada pemanfaatan artificial intelligence (AI). Dalam fungsi GRC, AI telah digunakan untuk membantu dashboard dan analitik sesuai kebutuhan masing-masing fungsi, termasuk informasi tren risiko serta pekerjaan administratif dan berulang. Ke depan, AI diarahkan untuk membantu analisis tren risiko, identifikasi emerging risk, perubahan regulasi, tren temuan audit, hingga monitoring tindak lanjut audit.
Di sisi ESG, Panin AM mengintegrasikan risiko keberlanjutan ke dalam manajemen risiko perusahaan. Isu material yang menjadi perhatian antara lain manajemen risiko iklim, efisiensi energi, perlindungan data nasabah, literasi dan inklusi keuangan, ESG scoring dalam investasi, serta integritas etika bisnis.
Penguatan tersebut juga tercermin dalam berbagai program sosial dan lingkungan. Pada 2025, Panin AM mencatat kontribusi berupa penanaman 1.000 bibit mangrove di Pesisir PIK dan rehabilitasi 100 coral di Kepulauan Pramuka. Sepanjang 2024–2026, perusahaan menyebut telah menanam 2.750 pohon mangrove serta menjalankan program rehabilitasi coral.
Dari sisi capaian, profil risiko dan operasional Panin AM disebut stabil pada level low-moderate dengan 191 risiko operasional aktif yang dikelola. Pemenuhan UU Pelindungan Data Pribadi, verifikasi Beneficial Owner, dan LKPM tercatat telah 100 persen selesai. Perusahaan juga telah mempublikasikan Sustainability Report pada April 2026.
Perjalanan GRC Panin AM menunjukkan penguatan bertahap. Pada 2022 perusahaan membangun fondasi governance, kemudian memperkuat kontrol dan validasi independen pada 2023. Tahun 2024 menjadi fase digitalisasi dan integrasi keberlanjutan, sedangkan 2025 menitikberatkan pada perlindungan data dan ketahanan likuiditas. Pada 2026, perusahaan mengarahkan pengembangan menuju kesiapan sebagai Manajer Investasi Kegiatan Usaha Dua, penerapan framework Tingkat Kesehatan Manajer Investasi, serta integrasi pelaporan lintas regulator dan AI.
Komitmen tersebut sebelumnya memperoleh pengakuan melalui TOP GRC Awards 2025 #4. Jessica Maria Gultom juga tercatat meraih penghargaan “The High Performing Risk Management Director 2025”. Selain itu, Panin AM disebut masuk dalam 19 pelapor terbaik nasional dari lebih dari 500 pelapor dalam penilaian Financial Integrity Rating (FIR) on Money Laundering/Terrorism Financing 2025 kategori Manajer Investasi.
Bagi Panin AM, penguatan GRC pada akhirnya diarahkan untuk menghasilkan kepercayaan, pengendalian risiko, efisiensi operasional, serta kinerja bisnis yang berkelanjutan. Sistem, teknologi, dan proses yang dibangun menjadi instrumen untuk memastikan tata kelola tidak berhenti pada kepatuhan administratif, tetapi menjadi bagian dari kemampuan perusahaan dalam menghadapi perubahan dan menjaga keberlangsungan bisnis.
