TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

GRC Jadi Ruh Transformasi dan Penguatan Core Business PT Berdikari

Fauzi
10 August 2026 | 06:31
rubrik: Event, GCG
GRC Jadi Ruh Transformasi dan Penguatan Core Business PT Berdikari

FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness — Tidak berhenti pada fungsi pengawasan dan kepatuhan, bagi PT Berdikari (Persero), GRC ditempatkan sebagai bagian yang melekat dalam proses transformasi perusahaan, termasuk ketika perseroan mendapat penugasan besar negara untuk memperkuat industri hilirisasi ayam terintegrasi.

General Manager Corporate Secretary & Social Responsibility PT Berdikari (Persero) A.S. Hasbi Al-Islahi mengatakan, GRC menjadi bagian penting dalam mengawal transformasi sekaligus penguatan bisnis perusahaan.

“GRC buat kami adalah ruh di dalam transformasi dan penguatan core business PT Berdikari,” kata Hasbi saat wawancara penjurian TOP GRC Awards 2026 yang digelar secara daring, Jumat (7/8/2026).

Menurut Hasbi, posisi GRC menjadi semakin strategis seiring dengan perkembangan bisnis Berdikari dan meningkatnya kepercayaan negara maupun publik kepada perusahaan. Dalam tiga tahun terakhir, Berdikari mencatat pertumbuhan omset yang signifikan.

“Ini menandakan bahwa Berdikari terus grow, terus tumbuh sekaligus di dalam melakukan penguatan-penguatan transformasi bisnis,” ujar Hasbi.

Pertumbuhan tersebut, lanjut dia, tidak hanya berasal dari penugasan negara. Berdikari juga terus melakukan transformasi untuk memperkuat core business sebagai perusahaan BUMN di sektor peternakan.

Hilirisasi Ayam Terintegrasi

Salah satu agenda besar yang kini menjadi fokus Berdikari adalah penugasan untuk memperkuat industri hilirisasi ayam terintegrasi. Program tersebut dinilai tidak hanya berkaitan dengan penguatan bisnis perusahaan, tetapi juga memiliki posisi penting dalam memperkokoh industri peternakan nasional.

Hasbi menjelaskan, meningkatnya kebutuhan protein nasional sejalan dengan berbagai program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta upaya menurunkan angka stunting. Kondisi tersebut membuat ketersediaan stok protein nasional menjadi salah satu perhatian penting.

Atas dasar itu, Berdikari mendapat penugasan melalui Instruksi Presiden (Inpres) dan Surat Keputusan Bersama (SKB). Agenda hilirisasi ayam terintegrasi tersebut juga menjadi bagian dari program strategis nasional.

Dalam pelaksanaannya, negara menyiapkan penyertaan modal hampir Rp20 triliun yang akan dikejar dalam tiga tahun ke depan. Dana tersebut antara lain diarahkan untuk pembangunan infrastruktur pembibitan, pakan, obat hewan, pengolahan produk, logistik, dan pemasaran.

Selain itu, pemerintah juga mengucurkan hampir Rp50 triliun dalam bentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk memperkuat ekosistem bisnis hilirisasi ayam terintegrasi.

“Jadi, dari skema ini tergambar memang bahwa keseriusan negara untuk meningkatkan, untuk memperkokoh core business PT Berdikari di industri peternakan, khususnya hilirisasi ayam terintegrasi,” ujar Hasbi.

Program tersebut ditargetkan dapat melibatkan hampir 1,4 juta tenaga kerja. Dari sisi produksi, program ini diproyeksikan menghasilkan hampir 1 juta ton telur dan 1,5 juta ton daging ayam.

Sementara itu, kebutuhan captive market dari program MBG diperkirakan mencapai 0,7 juta ton telur dan 1,1 juta ton daging ayam. Dengan demikian, produksi yang melampaui kebutuhan tersebut diharapkan dapat menjadi stok nasional dan diarahkan untuk memenuhi pasar ekspor.

BACA JUGA:   Siap Jadi Perseroda, Bank Madiun Perkuat Keberlanjutan Bisnis Lewat Intelligent GRC

“Artinya apa? Orientasi surplus dari produksi ini akan berorientasi kepada ekspor,” kata Hasbi.

Pembangunan infrastruktur hilirisasi ayam terintegrasi tersebut direncanakan berlangsung di hampir 30 provinsi dengan 336 unit pekerjaan. Tahap pertama pada 2026 hingga pertengahan 2027 mencakup enam titik dengan nilai investasi sekitar Rp2,7 triliun.

Menurut Hasbi, besarnya skala penugasan tersebut membuat GRC memiliki peran penting untuk memastikan program berjalan sesuai tata kelola yang ditetapkan. “Sehingga GRC buat kami adalah menjadi bagian penting untuk mengawal proses program besar hilirisasi ini,” ujarnya.

Sejak Perencanaan Bisnis

Manager Risk Management PT Berdikari Danang Bagus menjelaskan, implementasi GRC di perusahaan telah ditempatkan sejak tahap awal penyusunan strategi bisnis. GRC tidak hanya berfungsi setelah keputusan dibuat, tetapi sudah menjadi bagian dari proses perencanaan dan pengambilan keputusan.

“PT Berdikari di sini GRC mendukung strategi dan pengambilan keputusan bisnis perusahaan,” kata Danang.

Implementasi tersebut dimulai sejak penyusunan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP), antara lain melalui Risk Appetite yang terintegrasi.

Untuk keputusan strategis, termasuk usulan ekspansi dan investasi, Berdikari juga melakukan kajian melalui risk and compliance review sebelum keputusan mendapatkan persetujuan dari direksi, komisaris, maupun pemegang saham.

Danang mengatakan, pendekatan tersebut membuat risiko dapat dipertimbangkan sejak awal sehingga keputusan bisnis dapat dilakukan secara lebih terukur.

“Jadi harapannya GRC ini bukan hanya dianggap sekedar komplemen atau biaya, tapi GRC adalah investasi untuk keputusan yang lebih cerdas untuk pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Bagi perusahaan, penerapan GRC diharapkan membuat keputusan strategis lebih tepat sasaran dengan risiko yang telah terstruktur sejak awal. Bagi stakeholders, tata kelola yang baik diharapkan meningkatkan kepercayaan investor, mitra, dan regulator. Sementara dari aspek keberlanjutan bisnis, penerapan GRC diarahkan untuk meningkatkan ketahanan organisasi sekaligus mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Penerapan GRC

Dalam penerapannya, Berdikari mengembangkan model tata kelola yang melibatkan Dewan Komisaris, organ pendukung komisaris, Direksi, serta fungsi GRC yang terintegrasi. Dewan Komisaris didukung sejumlah organ, yakni Komite Audit, Komite Pemantau Risiko, Komite Nominasi dan Remunerasi, serta Komite Tata Kelola Terintegrasi yang juga terintegrasi secara holding dengan ID Food.

Sementara itu, fungsi GRC dalam struktur perusahaan dijalankan melalui konsep tiga lini pertahanan atau three lines of defense. Lini pertama berada pada unit bisnis sebagai pemilik proses dan risiko. Lini kedua mencakup manajemen risiko, kepatuhan, dan tata kelola. Adapun lini ketiga dijalankan melalui internal audit.

BACA JUGA:   DMAS Perkuat GRC, Siapkan Land Bank dan Utilitas untuk Tangkap Peluang Bisnis Data Center

Menurut Danang, model tersebut memungkinkan pengelolaan risiko, kepatuhan, dan pengendalian internal terintegrasi dalam proses bisnis perusahaan.

“Jadi memang ada divisi yang khusus di lini kedua. Jadi, di sini terbagi menjadi 3 lines of defense. Lapis pertama itu memang dari komponen atau fungsi dari unit bisnis, lapis keduanya di sini ada manajemen risiko, kepatuhan, tata kelola, dan juga lapis ketiganya ada internal audit,” jelasnya.

Integrasi GRC juga diterapkan sejak penyusunan strategi, visi-misi, RJPP, hingga RKAP. Dalam setiap penyusunan RKAP, aspek pengelolaan risiko, strategi korporasi, kepatuhan, serta kebijakan tata kelola korporasi telah menjadi bagian yang diperhitungkan.

Pada tahap berikutnya, internal audit memberikan saran dan melakukan pemantauan terhadap penerapan manajemen risiko dan sistem pengendalian internal.

Kelola Risiko secara Terstruktur

Dalam manajemen risiko, Berdikari melakukan proses mulai dari penetapan sasaran, identifikasi risiko, penilaian, kuantifikasi, hingga penyusunan rencana perlakuan risiko.

Risiko yang telah diidentifikasi kemudian diprioritaskan untuk menentukan 10 risiko utama perusahaan. Setelah itu, disusun rencana strategis mitigasi dan dilakukan pemantauan serta evaluasi secara berkala.

Danang mengatakan, pada semester pertama tahun ini, lima dari 10 risiko utama perusahaan telah mengalami penurunan level dibandingkan awal tahun. Sementara lima risiko lainnya masih menjadi perhatian perusahaan untuk dilakukan mitigasi lebih lanjut.

Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan peningkatan kematangan manajemen risiko di Berdikari. Danang menyebut Risk Maturity Index (RMI) perusahaan meningkat secara bertahap dari 2,10 pada 2023 menjadi 2,67 dan kemudian 2,98 pada 2025 yang pelaksanaannya dilakukan pada 2026.

“Skor secara berkala sudah naik dari 2,10 menjadi 2,67 dan tahun 2025 yang telah dilaksanakan di tahun 2026 ini menjadi 2,98, yang mana skor RMI-nya menjadi praktik yang baik,” ujar Danang.

Selain RMI, penilaian komposit risiko juga mengalami peningkatan. Nilainya naik dari 82,75 pada 2024 menjadi 84,25, sementara nilai Kualitas Penerapan Manajemen Risiko (KPMR) meningkat dari 75,27 menjadi 80,56.

Secara keseluruhan, peringkat komposit risiko Berdikari juga naik dari peringkat 4 menjadi peringkat 3.

Integrasi Kepatuhan dan Teknologi

Penguatan GRC juga dilakukan melalui Compliance Management System. Berdikari saat ini mengimplementasikan ISO 37301 untuk mengintegrasikan fungsi lini kedua, terutama manajemen risiko, kepatuhan, dan tata kelola.

Implementasinya antara lain mencakup regulatory mapping, compliance monitoring, serta pengembangan ethics and integrity framework. Sistem tersebut didukung Code of Corporate Governance, Code of Conduct, pedoman Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP), dan Code of Ethics.

BACA JUGA:   Konsisten Gelorakan GRC, Hotbonar Sinaga Dianugerahi Life Time Achievement di GRC Summit 2022

Berdikari juga memiliki Whistleblowing System sebagai kanal pelaporan dugaan pelanggaran. Dari sisi penguatan budaya, perusahaan mengembangkan program Berdikarisk untuk meningkatkan pemahaman mengenai manajemen risiko serta Berdikari Integrity Line untuk mendukung penerapan budaya integritas.

Pada lini ketiga, internal audit menerapkan risk based audit mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, hingga tindak lanjut.

Sementara itu, pengembangan teknologi diarahkan untuk mengintegrasikan sistem GRC dengan Enterprise Resource Planning (ERP). Pengembangan tersebut diharapkan dapat membawa sistem yang sebelumnya masih dilakukan secara manual menuju analisis yang lebih prediktif.

“Harapannya sudah sampai dengan AI Insight termasuk dengan Early Warning AI-Assisted Decision,” kata Danang.

GRC untuk Keberlanjutan Bisnis

Penerapan GRC di Berdikari juga dikaitkan dengan aspek keberlanjutan. Dalam pendekatan Sustainability by Design, aspek sustainability telah masuk dalam pemetaan dan identifikasi risiko perusahaan.

Implementasi tersebut mengintegrasikan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kemudian diturunkan melalui Sustainable Development Goals (SDGs). Berdikari juga merujuk pada IFC ESG Guidebook dalam menerjemahkan implementasinya ke dalam perusahaan.

Menurut Danang, pendekatan keberlanjutan tersebut menjadi bagian dari sistem GRC yang lebih luas, sehingga risiko bisnis tidak hanya dilihat dari aspek operasional dan finansial, tetapi juga dari perspektif keberlanjutan.

Penguatan GRC juga berjalan beriringan dengan agenda ESG melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Implementasi tersebut antara lain tercermin dari capaian Top CSR Awards 2026 Bintang 4 dan Top Leader on CSR Commitment.

Dalam satu hingga dua tahun terakhir, Berdikari terus mengembangkan GRC sebagai business enabler untuk mendukung keberlanjutan bisnis, penguatan manajemen risiko dan kepatuhan, serta komitmen terhadap integritas.

Selain sistem manajemen anti penyuapan, perusahaan juga mengimplementasikan ISO Risk Management, ISO Business Continuity Management System, dan ISO Compliance Management System.

Bagi Berdikari, seluruh instrumen tersebut diarahkan untuk membangun sistem GRC yang lebih terintegrasi dalam mengelola risiko, menjaga keberlangsungan operasional, memastikan kepatuhan, dan meningkatkan resiliensi perusahaan.

Pada akhirnya, GRC tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai fungsi pengendalian. GRC menjadi bagian dari proses bagaimana Berdikari mengambil keputusan, mengelola penugasan besar negara, menjaga ketahanan bisnis, dan menciptakan nilai jangka panjang.

“GRC harapannya diarahkan bukan sekadar sebagai fungsi pengendalian dan kepatuhan, tetapi sebagai fondasi pengambilan keputusan yang prudent, penguatan ketahanan bisnis, peningkatan kepercayaan stakeholders, dan penciptaan nilai jangka panjang yang berkelanjutan,” pungkas Danang

Tags: PT berdikariTOP GRC Awards 2026
Previous Post

Transnusa Resmikan Penerbangan Perdana Jakarta–Bangkok, Perluas Akses Indonesia ke Gerbang Internasional

Next Post

GRC Sebagai Fondasi Keberlanjutan di Waskita Beton Precast

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR