PT Bina Sarana Sukses mengikuti Wawancara Penjurian TOP GRC Award 2026 dengan mengusung penguatan tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, ESG, dan transformasi digital sebagai fondasi keberlanjutan bisnis pertambangan.
Jakarta, TopBusiness – PT Bina Sarana Sukses (BSS) menunjukkan komitmennya dalam memperkuat tata kelola perusahaan melalui keikutsertaan dalam Wawancara Penjurian TOP GRC Award 2026 yang digelar secara daring pada Jumat (14/8/2026).
Dalam agenda tersebut, BSS memaparkan berbagai strategi dan implementasi Governance, Risk Management, and Compliance (GRC), termasuk penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG), transformasi digital, penguatan pengendalian internal, serta pengelolaan risiko yang terintegrasi dengan kegiatan operasional pertambangan.
Wawancara penjurian menghadirkan Dewan Juri TOP GRC Award 2026, yakni Wahyu Setiaji dari Dewan Pakar ADPMET, Benyamin De Haan dari MSI Group, serta Teguh Imam Suyudi dari Redaksi Majalah TopBusiness.
Keikutsertaan tersebut menjadi momentum bagi BSS untuk menjelaskan bagaimana GRC tidak hanya ditempatkan sebagai perangkat kepatuhan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam menciptakan nilai, meningkatkan ketahanan bisnis, dan menghadapi perubahan industri pertambangan.
Dalam materi penjurian, BSS mengusung tema “Driving Sustainable Value through Intelligent GRC, ESG & Technology”, yang selaras dengan tema TOP GRC Awards 2026, yakni “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC”.
Tema tersebut menggambarkan arah transformasi BSS yang berupaya menghubungkan tata kelola, risiko, kepatuhan, keberlanjutan, dan teknologi dalam satu kerangka pengelolaan perusahaan.
PT Bina Sarana Sukses merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa pertambangan dan menjadi bagian dari Aswana Dhanakirti Sinergi Group. Perusahaan berdiri pada 2 Maret 2005 dan saat ini memiliki portofolio proyek yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan.
Direktur Umum BSS Teguh Susanto mengatakan perusahaan saat ini menjadi salah satu kontraktor pertambangan batubara terbesar di Indonesia.
“Saat ini, BSS menjadi salah satu kontraktor pertambangan batubara terbesar di Indonesia, dengan portofolio proyek yang tersebar di pulau Sumatera & Kalimantan,” ujarnya.
Dalam menjalankan bisnis, BSS mengedepankan visi untuk memaksimalkan manfaat bagi pemangku kepentingan. Visi tersebut diterjemahkan ke dalam misi yang menekankan pemenuhan kebutuhan pelanggan, efektivitas proses bisnis, penguatan kompetensi, serta penerapan prinsip keselamatan dan keberlanjutan.
Dari Kepatuhan Menuju Keunggulan Bisnis
Bagi perusahaan jasa pertambangan, tata kelola memiliki posisi strategis. Aktivitas operasional berlangsung di tengah dinamika harga komoditas, tuntutan keselamatan kerja, aspek lingkungan, ketersediaan alat, rantai pasok, hingga perubahan regulasi.
Kepala Internal Audit & Risk Management BSS Mahardhian Ardhi Bramantyo mengatakan, “Karena itu, BSS membangun kerangka GRC yang diarahkan bukan semata-mata untuk mencegah pelanggaran, tetapi juga membantu perusahaan mengambil keputusan bisnis secara lebih terukur.”
BSS menempatkan risiko sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan. Prinsip yang dikembangkan adalah risiko harus hadir sebelum keputusan dibuat, bukan baru dikelola setelah masalah terjadi.
Kerangka tersebut kemudian diterjemahkan melalui integrasi governance, risk, compliance, integrity, operational control, mining safety and environment, serta assurance. Pendekatan itu menunjukkan upaya BSS menghubungkan fungsi-fungsi yang sebelumnya dapat berjalan secara terpisah menjadi satu sistem pengendalian.
Dalam aspek manajemen risiko, BSS menerapkan Enterprise Risk Management (ERM) melalui sejumlah instrumen, antara lain strategic plan, budget dan key performance indicator, business process risk assessment, risk register, corporate risk profile, business continuity plan, risk analysis report, risk-based audit plan, serta risk financing.
Pendekatan tersebut membuat pengelolaan risiko tidak berhenti pada identifikasi. Risiko dipetakan, dinilai, dikendalikan, dimonitor, dan menjadi bahan assurance bagi manajemen.
BSS juga mengembangkan pendekatan risk-based auditing yang menempatkan audit sebagai instrumen preventif. Dengan demikian, audit tidak sekadar mencari kesalahan historis, tetapi diarahkan untuk mengidentifikasi potensi risiko dan membantu manajemen mengantisipasi dampaknya.
“Penguatan tersebut didukung oleh Piagam Internal Audit. Dokumen tersebut menjadi landasan formal bagi independensi, kewenangan, dan ruang lingkup fungsi Internal Audit dalam mengevaluasi efektivitas tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan perusahaan,” ujar Mahardhian.
BSS juga menerapkan konsep Three Lines Model dengan pembagian peran antara lini operasional sebagai pemilik risiko, fungsi risiko dan kepatuhan sebagai pengawas, serta Internal Audit sebagai pemberi assurance independen.
Integritas Menjadi Fondasi Kepatuhan
Penguatan GRC juga terlihat dari aspek compliance and integrity. BSS telah membentuk Fungsi Kepatuhan Anti Penyuapan (FKAP) sebagai bagian dari implementasi ISO 37001.
FKAP menjalankan fungsi regulatory mapping, compliance monitoring, penguatan etika dan budaya antisuap, serta pengelolaan Whistleblowing System (WBS). Fungsi tersebut telah dibentuk sejak 2022 dan diperkuat melalui SK Direksi Nomor 424/SKEP-BOD/BSS/VI/2026 tertanggal 5 Juni 2026.
Menurut Mahardhian, “Melalui mekanisme tersebut, perusahaan berupaya memastikan aktivitas bisnis maupun kegiatan yang melibatkan pihak eksternal telah melalui proses pemeriksaan dan persetujuan sesuai ketentuan.”
BSS juga menyediakan WBS sebagai kanal pelaporan yang aman dan terstruktur. Pelapor dapat menyampaikan laporan secara anonim dengan melampirkan kronologi, jenis pelanggaran, dan bukti pendukung.
Sistem tersebut dilengkapi fitur pelacakan status laporan sehingga proses penanganan dapat dipantau berdasarkan nomor laporan yang diberikan kepada pelapor.
Di sisi keuangan, laporan keuangan BSS diaudit oleh KAP PKF dan hasil audit menyatakan laporan keuangan disajikan secara wajar.
Kepatuhan juga diterapkan dalam aspek perpajakan. BSS memiliki Surat Keterangan Fiskal yang diterbitkan Kementerian Keuangan, termasuk SKF tahun 2024 dan bukti pengajuan SKF 2025.
Mahardhian mengatakan kepatuhan perpajakan perusahaan tidak hanya dipandang sebagai kewajiban administratif.
“BSS tidak hanya mematuhi regulasi perpajakan secara administratif, tetapi juga diakui sebagai salah satu kontributor signifikan bagi penerimaan negara. Dedikasi ini membuahkan apresiasi resmi dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) melalui Kantor Pelayanan Pajak Madya Jakarta Utara,” katanya.
Penghargaan DJP tersebut diberikan kepada BSS atas kontribusi kepada negara melalui pembayaran pajak tahun 2022.
Good Mining Practice Jadi Rekam Jejak
Komitmen terhadap tata kelola juga terlihat dari konsistensi BSS dalam menerapkan kaidah teknik pertambangan yang baik atau Good Mining Practice (GMP).
Perusahaan mencatat sejumlah penghargaan dari Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara. BSS Site PT Antang Gunung Meratus memperoleh Penghargaan Pratama pada 2022 dan Penghargaan Utama pada 2023. Sementara itu, BSS Site PT Mahakam Sumber Jaya memperoleh Penghargaan Pratama pada 2021.
Dokumen BSS juga mencatat penghargaan Zero Accident dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk periode 2013-2023, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk 2016-2017, serta Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pada 2024.
Mahardhian mengungkapkan, “Pada 2025, BSS tidak tercatat menerima penghargaan baru dari Kementerian ESDM. Namun, perusahaan menilai rekam jejak penghargaan sebelumnya tetap menjadi indikator atas penerapan sistem manajemen dan standardisasi jasa pertambangan.”
Kepemilikan izin usaha juga menjadi bagian dari fondasi kepatuhan. BSS memiliki IUJP Nomor 95/1/IUJP-PB/PMDN/2024 yang diterbitkan pada 30 Desember 2024 dan mencakup bidang penambangan, reklamasi dan pascatambang, konstruksi pertambangan, serta lingkungan pertambangan.
GRC Terhubung dengan Kinerja Operasional
Penerapan GRC BSS tidak terlepas dari kinerja operasional. Pada 2025, perusahaan mencatat realisasi pemindahan lapisan tanah penutup atau overburden (OB) sebesar 119,1 juta BCM dari target 126 juta BCM atau 95 persen.
Sementara itu, produksi batubara mencapai 16,9 juta ton dari target 18,2 juta ton atau 93 persen. Secara keseluruhan, pencapaian tersebut meningkat 2 persen dibandingkan 2024.
Data tersebut menjadi salah satu indikator bahwa penerapan pengendalian dan manajemen risiko diarahkan untuk menjaga kesinambungan kegiatan operasional.
Dalam konteks kepuasan pelanggan, materi BSS menunjukkan 87 persen pelanggan menyatakan puas terhadap jasa yang diberikan, dengan indeks kepuasan tahunan sebesar 3,5.
“Dengan demikian, GRC tidak hanya ditempatkan dalam ruang rapat atau dokumen kepatuhan, tetapi juga dikaitkan dengan produktivitas, efisiensi, kualitas layanan, keselamatan, serta penciptaan nilai bagi pelanggan,” tutur Mahardhian.
Teknologi Percepat Transformasi GRC
Salah satu aspek yang dipaparkan BSS dalam penjurian TOP GRC Award 2026 adalah transformasi digital.
BSS telah mengimplementasikan Fleet Management System (FMS) bernama U-Mine pada salah satu proyek percontohan strategis. “Sistem ini dirancang untuk memberikan data secara real-time, mengoptimalkan dispatch, dan memperkuat aspek keselamatan operasional,” jelas Mahardhian.
U-Mine memiliki sejumlah fitur, mulai dari manajemen data, kontrol operasional, dashboard real-time, fitur keselamatan, hingga pelaporan dan analitik.
Pada fitur keselamatan, sistem mengintegrasikan sensor dan kamera untuk memantau kondisi maupun tindakan tidak aman oleh operator dan memberikan peringatan ketika ditemukan kondisi yang berpotensi membahayakan.
Implementasi tersebut diperkuat infrastruktur digital berupa Mobile Tower yang menopang komunikasi antara unit di lapangan dan server pusat.
BSS juga menggunakan aplikasi smartform sebagai database dokumen mutu. Sistem tersebut membantu karyawan dalam proses pengajuan, persetujuan, dan akses dokumen mutu secara digital.
Pada sisi logistik, BSS menerapkan Warehouse Management System yang terintegrasi untuk memastikan ketersediaan suku cadang dan material pendukung secara cepat, akurat, serta transparan.
Sementara itu, Dashboard Audit digunakan untuk mendukung continuous monitoring terhadap Risk-Based Audit operasional dan kepatuhan sistem manajemen ISO. Sistem tersebut memberikan visibilitas terhadap progres audit dan tindak lanjut temuan.
Pengendalian juga diperkuat melalui implementasi ERP SAP secara end-to-end. Integrasi modul operasional dan finansial membentuk audit trail serta menerapkan Segregation of Duties (SoD) untuk menekan risiko manipulasi data.
ESG Didesain untuk Keberlanjutan
Komitmen keberlanjutan BSS tidak hanya berada pada aspek tata kelola. Perusahaan juga mengintegrasikan ESG ke dalam operasional pertambangan.
Dalam aspek lingkungan, BSS menggunakan teknologi GroundProbe untuk memonitor kestabilan lereng. Sistem tersebut mampu mendeteksi pergerakan dinding tambang secara real-time dengan akurasi submilimeter sehingga tim teknis dapat mengambil langkah mitigasi sebelum terjadi longsoran.
Mahardhika menjelaskan bahwa pemantauan tersebut juga ditujukan untuk meminimalkan risiko sedimentasi maupun kerusakan lahan di luar batas konsesi akibat kegagalan lereng. Data GroundProbe digunakan untuk mengevaluasi stabilitas lereng secara berkelanjutan sesuai kaidah Good Mining Practice.
BSS juga menggunakan panel surya di sejumlah titik strategis operasional. Sistem tersebut dimanfaatkan untuk menyediakan sumber energi mandiri dan ramah lingkungan, terutama di area yang sulit dijangkau jaringan listrik konvensional.
Langkah lain adalah penggunaan Hybrid Equipment Vehicle (HEV). BSS mulai melakukan penelitian hauler hybrid sejak 2021, melakukan pilot project pada 2023, dan mulai menjadikan unit tersebut bagian dari armada utama pada 2024.
Materi perusahaan menyebutkan penggunaan hauler hybrid ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung upaya menghadapi tantangan emisi karbon dan target Net Zero Emission.
Pada salah satu pengukuran yang ditampilkan BSS, implementasi HEV menunjukkan perbandingan konsumsi bahan bakar yang lebih rendah. “Perusahaan mengoperasikan HEV mencapai 120 unit pada 2026,” ungkap Teguh Susanto.
Memberdayakan Masyarakat dan Perempuan
Dimensi sosial juga menjadi bagian dari strategi keberlanjutan BSS.
Perusahaan menekankan pemberdayaan masyarakat lokal melalui penciptaan tenaga kerja terampil. Dari total 5.603 karyawan, sekitar 64 persen berasal dari Pulau Kalimantan, 17 persen dari Jawa, 9 persen dari Sumatera, dan 11 persen dari wilayah lainnya.
Khusus di Kalimantan Timur, BSS menyebut penyerapan tenaga kerja lokal menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memberikan dampak ekonomi berganda kepada masyarakat sekitar.
BSS juga menempatkan keberagaman dan kesetaraan sebagai bagian dari pengembangan sumber daya manusia. Perusahaan menyatakan kepemimpinan dikembangkan berdasarkan kompetensi, kapasitas, dan meritokrasi tanpa memandang gender.
Mahardhika mengutarakan bahwa terdapat 51 perempuan BSS yang telah berada pada level manajemen menengah. Secara keseluruhan, keterlibatan perempuan yang ditampilkan perusahaan mencapai 23 persen.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan bagi BSS tidak hanya berbicara mengenai lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan menciptakan kesempatan, meningkatkan kompetensi, dan memberikan manfaat ekonomi bagi pemangku kepentingan.
Menuju Intelligent GRC
Transformasi GRC BSS ke depan diarahkan dari ERM menuju Intelligence Risk Management (IRM). “Konsep tersebut menempatkan data, analitik, dan teknologi sebagai bagian penting dalam pengambilan keputusan risiko,” kata Mahardhika.
Roadmap transformasi perusahaan dibagi dalam beberapa fase. Fase pertama pada 2024-2026 diarahkan pada pembangunan fondasi data melalui data pipeline dan integrasi big data operasional ke dalam satu data lake.
Fase kedua pada 2025-2026 diarahkan pada integrasi ERM sehingga keluaran seperti Risk Register dapat mengalir secara real-time ke dalam sistem.
Selanjutnya, fase ketiga pada 2026-2027 menempatkan AI engine sebagai penggerak deteksi anomali dan rule-based detection yang kemudian dikembangkan menuju machine learning. Fase berikutnya diarahkan pada pengaktifan early warning 24/7 dan perluasan sistem ke seluruh area operasi.
Dalam materi transformasi IRM, BSS menggambarkan pergeseran paradigma dari proses yang periodik dan reaktif menuju sistem real-time dan prediktif. Data produksi, inventori, performa alat, dan human capital dipadukan dengan risk register, business continuity plan, corporate risk profile, serta audit report.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan berharap keputusan dapat dibuat lebih cepat dan risiko dapat dikenali sebelum berkembang menjadi gangguan bisnis.
GRC sebagai Jalan Menuju Ketahanan
Keikutsertaan BSS dalam Wawancara Penjurian TOP GRC Award 2026 pada akhirnya menjadi ruang untuk memperlihatkan perjalanan perusahaan dalam membangun tata kelola yang semakin terintegrasi.
Mulai dari kepatuhan regulasi, pengelolaan risiko, penguatan internal audit, budaya integritas, pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan masyarakat, efisiensi energi, hingga pemanfaatan teknologi, seluruh aspek tersebut ditempatkan dalam satu arah menuju keberlanjutan.
Bagi BSS, GRC tidak berhenti pada pemenuhan kewajiban. GRC diposisikan sebagai instrumen untuk melindungi nilai perusahaan sekaligus menciptakan nilai baru.
Hal itu sejalan dengan gagasan yang dibawa TOP GRC Awards 2026 melalui tema “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC”, yang mendorong organisasi menjadikan GRC sebagai strategic enabler untuk memperkuat inovasi, daya saing, ketahanan organisasi, dan penciptaan nilai berkelanjutan.
Menurut Mahardhika BSS kini berada pada fase transformasi yang menghubungkan sistem, manusia, risiko, data, dan keberlanjutan. “Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh inisiatif tersebut terus berkembang dari sekadar sistem yang terintegrasi menjadi kemampuan organisasi yang semakin adaptif dan prediktif,” ujarnya.
Dengan fondasi tata kelola, rekam jejak Good Mining Practice, penguatan manajemen risiko, integritas, ESG, serta transformasi digital, BSS berupaya menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari desain bisnis, bukan sekadar agenda tambahan.
Langkah itu sekaligus mempertegas pesan yang dibawa BSS dalam penjurian TOP GRC Award 2026: masa depan industri pertambangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produksi, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan mengelola risiko, menjaga integritas, memanfaatkan teknologi, melindungi lingkungan, memberdayakan masyarakat, dan menciptakan nilai secara berkelanjutan.
