Jakarta, BusinessNews Indonesia – Dari awal pekan ini, harga minyak terus menanjak dan bertahan di atas level US $ 70 per barel. Selasa (8/5) pagi, harga minyak barat texasengahan (WTI) untuk pengiriman Juni 2018 di New York Mercantile Exchange terkoreksi 0,92% ke US $ 70,08 per barel dari penutupan kemarin pada US $ 70,73 per barel.
Kemarin, harga minyak mencapai tingkat tinggi baru tahun ini. Ini adalah level tertinggi dari minyak sejak Desember 2014.
Sejalan, harga minyak brent untuk pengiriman Juli 2018 di ICE Futures pun turun dari rekor. Hari ini, harga minyak brent berada di US $ 75,63 per barel, turun 0,71% jika dibandingkan dengan angka penutupan kemarin US $ 76,17 per barel. Harga tersebut merupakan level tertinggi minyak brent sejak Desember 2014.
Konflik antara perusahaan minyak Conoco Phillips dan perusahaan asal Venezuela PDVSA dan lain-lain Amerika Serikat (AS) terhadap Iran menjadi katalis positif yang menopang harga.
Perusahaan minyak AS, ConocoPhillips tengah bersiap untuk menegakkan keputusan arbitrase dengan mengambil aset dari PDVSA yang mengelola negara sebesar $ 2 miliar. Ini akan memengaruhi sekitar 400.000 barel per hari (bpd) yang biasanya dikirim dari tiga lokasi. Ini pertama dan pertama dari minyak mentah PDVSA dari Venezuela dan Karibia, memiliki turun 29% dibandingkan periode yang sama tingkat 1,19 juta bpd.
Selain itu, rencana Presiden AS Donald Trump pada Selasa (8/5) semakin meningkatkan kejujuran yang akan dijatuhkannya negeri Paman Sam tersebut untuk Iran. Jika benar-benar dilakukan, pengumuman itu akan dikeluarkan pada tanggal 12 Mei. “Harga minyak belum termasuk Trump. Pasar bersiap untuk memutar,” kata Keith Lerner, kepala strategi pasar SunTrust Advisory Services kepada Reuters .
