Jakarta, TopBusiness – PT PELNI (Persero) terus memperkuat penerapan Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) sebagai bagian integral dari pengelolaan perusahaan.
Bagi perusahaan pelayaran milik negara ini, GRC tidak lagi ditempatkan sebagai fungsi yang berdiri sendiri, tetapi menjadi fondasi untuk memastikan pengambilan keputusan bisnis berjalan terukur, prudent, dan mendukung pencapaian sasaran strategis.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT PELNI (Persero), Triswahyu Herlina mengatakan, penerapan GRC menjadi salah satu fondasi penting agar kegiatan bisnis perusahaan dapat berjalan secara optimal.
Menurut dia, kebutuhan terhadap tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan semakin penting seiring dengan kompleksitas bisnis PELNI sebagai perusahaan yang menjalankan fungsi pelayanan publik sekaligus mengembangkan kegiatan komersial.
“GRC memang sudah menjadi arahan dan juga menjadi fondasi agar bisnis bisa berjalan dengan optimal,” kata Triswahyu dalam pemaparan pada penjurian TOP GRC Awards 2026 secara online, Rabu (29/8/2026).
Dalam penjurian kali ini, turut mendampingi Triswahyu adalah Agustinus Prima Wicaksono – VP Hukum dan Kepatuhan, Tatang Ruskianta Dasuki – VP Manajemen Risiko dan ESG, Angga Krisosa – VP Teknologi Informasi, Fitri Reckita Dewi – VP Akuntansi, dan Ayu – Kepala SPI.
Ia menjelaskan, penerapan GRC di PELNI tidak dapat dilepaskan dari visi perusahaan hingga 2030, yakni menjadi perusahaan pelayaran yang unggul dan berdaya saing global dalam mendukung konektivitas serta pertumbuhan ekosistem logistik maritim Indonesia.
Visi tersebut diterjemahkan ke dalam tiga misi utama, yaitu menjamin konektivitas antarpulau dan memberikan pelayanan yang terpercaya dan aman, memberikan kontribusi positif kepada negara, meningkatkan kompetensi dan produktivitas sumber daya manusia, serta mencapai pertumbuhan perusahaan yang berkesinambungan.
Dalam menjalankan bisnis, PELNI juga membawa nilai perusahaan yang disebut SIAP, yang merupakan pengembangan dari nilai-nilai AKHLAK.
SIAP terdiri atas Service Excellence atau melayani dengan sepenuh hati, Integrity dengan menjunjung kejujuran, Andal yang memberikan kepastian, serta Profesional yang menekankan kompetensi dan adaptasi.
Menjawab Kompleksitas Bisnis Pelayaran
Penerapan GRC menjadi semakin relevan karena PELNI menjalankan bisnis yang memiliki karakteristik dan risiko yang kompleks. Selain melayani angkutan penumpang dan barang, perusahaan juga menjalankan berbagai penugasan pemerintah.
Dalam materi penjurian disebutkan, PELNI mengoperasikan armada yang terdiri atas kapal penumpang, kapal perintis, kapal ternak, kapal tol laut, serta kapal barang.
Pada 2025, PELNI melayani sekitar 5,39 juta penumpang. Perusahaan juga mengangkut berbagai jenis muatan, termasuk kendaraan, barang, peti kemas, dan ternak.
Di sisi lain, salah satu tantangan yang dihadapi PELNI adalah kondisi armada. Dalam paparan disebutkan, sekitar 67% armada PELNI telah berusia lebih dari 30 tahun. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dari sisi operasional, keselamatan, efisiensi, maupun kebutuhan investasi.
PELNI menyebut dukungan pemerintah diperlukan untuk melakukan peremajaan armada. Perusahaan telah menerima dukungan terkait Barang Milik Negara (BMN) yang diharapkan dapat digunakan untuk pengadaan tiga kapal sebagai pengganti kapal yang telah berusia lebih dari 40 tahun.
Tantangan lainnya adalah aspek lingkungan. Sebagai perusahaan pelayaran, PELNI juga menghadapi tuntutan untuk mengurangi emisi dan mendukung agenda dekarbonisasi sektor transportasi.
Karena itu, penerapan GRC tidak hanya berkaitan dengan aspek tata kelola dan risiko bisnis secara konvensional, tetapi mulai diintegrasikan dengan agenda ESG dan keberlanjutan.
Penerapan GRC juga diarahkan untuk memberikan kontribusi terhadap kinerja dan kesehatan perusahaan. Tercatat, PELNI berhasil membukukan sejumlah indikator keuangan 2025 berada di atas target. Return on Assets (ROA) tercatat 1,56%, lebih tinggi dibandingkan target 1,47%. Return on Equity (ROE) mencapai 1,80%, di atas target 1,66%.
Sementara itu, cash ratio tercatat 270,75%, dibandingkan target 230,87%. Current ratio berada di 654,22%, meskipun masih di bawah target 724,64%. PELNI juga menyampaikan bahwa kondisi kesehatan perusahaan dinilai melalui pemeringkatan tingkat kesehatan perusahaan.
Di sisi bisnis, PELNI telah menetapkan target jangka menengah hingga 2030. Salah satunya adalah meningkatkan jumlah penumpang yang dilayani menjadi 6,28 juta penumpang.
Dalam visi 2026–2030, perusahaan juga menargetkan EBITDA lebih dari Rp1,09 triliun dan pertumbuhan pendapatan konsolidasian dengan CAGR lebih dari 8,7%.
GRC Tak Berjalan dalam Silo
Triswahyu menegaskan, PELNI membangun GRC sebagai sebuah ekosistem yang menghubungkan tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, pengendalian internal, audit, serta ESG.
Dalam materi presentasinya, PELNI menekankan bahwa GRC bukan merupakan fungsi yang berjalan sendiri-sendiri. Governance memberikan arah, risk management membantu perusahaan menavigasi ketidakpastian, sedangkan compliance memastikan aktivitas berjalan sesuai dengan ketentuan.
“GRC bukan silo, tapi satu ekosistem yang saling melengkapi. Governance memberi arah, risk membantu navigasi ketidakpastian, compliance memastikan jalannya sesuai aturan,” demikian kerangka yang dipaparkan PELNI dalam materi penjurian.
Integrasi tersebut diterapkan mulai dari arah strategis perusahaan, tujuan strategis, KPI dan target kinerja, hingga pengelolaan tata kelola terintegrasi.
Dewan Komisaris memiliki peran dalam melakukan pengawasan, memberikan arahan strategis, menetapkan risk appetite dan risk tolerance, serta memastikan penerapan GRC berjalan efektif dan terintegrasi.
Sementara itu, Direksi bertanggung jawab menetapkan arah strategis dan kebijakan pengelolaan risiko serta kepatuhan, memantau implementasi GRC, dan memastikan GRC terintegrasi dalam proses bisnis serta pengambilan keputusan.
Pada level operasional, unit kerja terkait menjalankan fungsi identifikasi, analisis, evaluasi, dan mitigasi risiko, melakukan pelaporan secara berkala, serta memastikan efektivitas pengendalian melalui monitoring dan audit internal.
Risk Appetite Jadi Panduan Pengambilan Keputusan
Salah satu instrumen penting dalam penguatan GRC PELNI adalah penerapan risk appetite, risk limit atau tolerance, serta risk decision dan monitoring.
Dalam materi presentasi, risk appetite didefinisikan sebagai batas tingkat risiko yang bersedia diterima perusahaan untuk mencapai tujuan. Sementara risk limit/tolerance menjadi batas kuantitatif maupun kualitatif atas eksposur risiko yang tidak boleh dilampaui.
Kerangka tersebut kemudian digunakan sebagai panduan dalam pengambilan keputusan, penentuan prioritas, serta alokasi sumber daya.
PELNI menetapkan beberapa kategori risk appetite, mulai dari tidak toleran, konservatif, moderat hingga strategis.
Untuk kategori tidak toleran, misalnya, Direksi tidak memberikan ruang bagi pelanggaran peraturan perundang-undangan, termasuk perusakan lingkungan serta kelalaian terhadap keamanan siber dan perlindungan data pribadi.
Pada kategori konservatif, PELNI menekankan pelaksanaan penugasan pemerintah dengan memperhatikan aspek kelayakan finansial, pemenuhan kewajiban keuangan, kesehatan struktur keuangan, keberlangsungan usaha, kualitas bisnis utama, dan aspek ESG.
Sedangkan pada kategori strategis, perusahaan membuka ruang bagi transformasi, inovasi model bisnis, eksplorasi dan pengembangan, optimalisasi portofolio, maupun pertumbuhan anorganik dengan mempertimbangkan kalkulasi risiko dan potensi imbal hasil.
Dengan kerangka tersebut, keputusan bisnis tidak hanya dilihat dari potensi keuntungan, tetapi juga dari risiko yang menyertainya.
Dari Data Risiko Menjadi Keputusan
Penguatan GRC PELNI juga diarahkan pada pemanfaatan data untuk menghasilkan risk intelligence.
Dalam materi penjurian, PELNI mengembangkan pendekatan “From Risk Data to Intelligent Decision”. Data risiko yang dikumpulkan mencakup risiko korporat, Key Risk Indicator (KRI), risk event, loss event, pengendalian internal, audit, kepatuhan, serta data bisnis dan ESG.
Data tersebut kemudian diolah melalui integrasi dan analitik untuk menghasilkan risk score, monitoring KRI, early warning, tren risiko, stress testing, serta scenario analysis.
Tujuan akhirnya adalah membantu manajemen membaca sinyal risiko lebih awal, memprioritaskan risiko yang paling signifikan, menentukan prioritas mitigasi, mengalokasikan sumber daya, menyusun perencanaan dan anggaran, serta mendukung business continuity dan inisiatif strategis.
“Yang kami harapkan dengan penerapan GRC ini adalah adanya bukti yang konkret bahwa GRC mendukung kemajuan-kemajuan perusahaan,” ujar Triswahyu.
Pendekatan berbasis data tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya PELNI membangun intelligent GRC sebagai business enabler.
Dalam materi presentasi, konsep tersebut diterapkan antara lain dalam kajian peluang bisnis kapal berkecepatan tinggi. Prosesnya dimulai dari market signal, market demand, kelayakan rute dan operasional, kelayakan teknis, hingga kelayakan finansial. Hasil penilaian kemudian digunakan untuk menentukan prioritas rute dan strategi pengembangan bisnis.
Dengan demikian, GRC tidak hanya berfungsi untuk mencegah atau mengurangi risiko, tetapi juga membantu perusahaan mengidentifikasi peluang bisnis yang dapat dikembangkan dengan tetap memperhitungkan risiko.
Menuju Intelligent GRC 2030
Penguatan GRC PELNI selanjutnya dituangkan dalam GRC Transformation Roadmap 2026–2030.
Pada 2026, perusahaan menempatkan tahap Fondasi GRC, dengan fokus pada penguatan tata kelola, kebijakan dan struktur GRC, manajemen risiko dan budaya risiko, kepatuhan, etika dan antisuap, serta whistleblowing system.
Memasuki 2027, PELNI menargetkan Integration, yakni mengintegrasikan GRC ke dalam sistem dan proses bisnis melalui Integrated GRC & ESG Platform, standardisasi proses GRC, integrasi risk register, compliance dan audit, serta penguatan data governance dan analitik.
Pada 2028, fokus diarahkan pada Intelligence & Culture melalui penerapan risk-based decision making, KRI dan early warning system, risk analytics, stress testing, risk-based budgeting, AI dan otomatisasi, serta penguatan budaya GRC di setiap lini perusahaan.
Kemudian pada 2030, PELNI menargetkan tahap Value Creation, ketika intelligent GRC diharapkan menjadi penggerak penciptaan nilai melalui digital GRC intelligence, strategic decision support, risk-based business optimization, penciptaan nilai ESG, serta sustainable finance/green financing.
Triswahyu mengatakan, transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memastikan GRC tidak berhenti sebagai perangkat administratif, tetapi benar-benar memberikan nilai bagi bisnis. “Lebih apa harapannya dengan penerapan GRC ini maka kita akan menjadi penerapan GRC di tahun 2030,” ujarnya.
