Jakarta, TopBusiness – Citi Indonesia mempercepat transformasi digital perbankan dengan memperluas pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), konektivitas API, hingga layanan perbankan berbasis Host-to-Host (H2H). Strategi tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memberikan layanan yang semakin terintegrasi bagi nasabah korporasi dan institusi.
CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan transformasi digital menjadi bagian penting dari strategi Citi dalam menghadapi kebutuhan nasabah yang semakin kompleks. “Teknologi tidak hanya digunakan untuk meningkatkan produktivitas internal, tetapi juga untuk memperkuat konektivitas layanan dengan sistem yang digunakan nasabah,” ujar Batara dalam paparan kinerja di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperluas pemanfaatan AI di lingkungan kerja Citi. Bank ini menjadi salah satu bank di Indonesia yang telah memanfaatkan teknologi AI melalui penyediaan berbagai tools khusus bagi karyawan.
Di antaranya Citi Stylus Workspaces dan Citi Assist yang dirancang untuk menyederhanakan pekerjaan, meningkatkan produktivitas, serta memberikan akses lebih cepat terhadap informasi yang dibutuhkan karyawan.
Pemanfaatan AI tersebut menjadi bagian dari strategi Citi untuk membangun pola kerja perbankan yang lebih digital sekaligus meningkatkan efisiensi.
Transformasi digital juga terlihat dari pengembangan layanan kepada nasabah korporasi. Pada lini bisnis Services, Citi mencatat peningkatan konektivitas digital melalui integrasi H2H dan API.
Sepanjang semester I 2026, konektivitas H2H meningkat 2%, sedangkan konektivitas API tumbuh 50%. Peningkatan tersebut memperkuat kemampuan Citi dalam menghubungkan layanan perbankan dengan sistem operasional nasabah secara lebih aman dan efisien.
Digitalisasi juga diarahkan pada proses pembiayaan modal kerja. Citi Indonesia mengembangkan kapabilitas digital melalui layanan seperti Simplified Trade Loan dan eLoan.
Layanan tersebut memungkinkan proses pembiayaan modal kerja dan operasional perbankan dilakukan secara lebih sederhana. Pemanfaatan kapabilitas digital tersebut turut berkontribusi terhadap pertumbuhan aset pembiayaan modal kerja sebesar 36%.
Pada kuartal II 2026, bisnis Services Citi Indonesia juga mencatat pertumbuhan saldo rata-rata sebesar 16%. Sementara penggunaan kartu komersial meningkat signifikan hingga 254%.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi tidak semata-mata menjadi agenda teknologi, tetapi mulai terhubung langsung dengan aktivitas transaksi dan kebutuhan pembiayaan nasabah.
Citi juga memperkuat digitalisasi pada bisnis Markets, khususnya untuk layanan valuta asing dan hedging. Bank memanfaatkan platform seperti CitiFX Gateway/SFTP, CitiFX Pulse, CitiDirect, dan CitiConnect untuk menyediakan solusi valas dan pembayaran yang terintegrasi dengan sistem nasabah.
Dengan sistem tersebut, nasabah korporasi dan institusi dapat mengakses layanan secara lebih otomatis sehingga membantu mereka mengelola transaksi di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Dorong Efisiensi Bisnis
Penguatan digitalisasi berjalan bersamaan dengan kinerja bisnis Citi Indonesia yang tetap tumbuh pada semester I 2026.
Kredit mencapai Rp29,9 triliun, tumbuh 8,05% secara tahunan dan 11,05% dibandingkan posisi akhir 2025. Sementara dana pihak ketiga (DPK) meningkat 23,29% menjadi Rp72,55 triliun.
Pertumbuhan DPK terutama ditopang giro yang meningkat 36,54% menjadi Rp60,39 triliun. Kondisi tersebut mendorong rasio Low-Cost Fund atau CASA menjadi 83,23%, dari 75,16% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di tengah pertumbuhan bisnis tersebut, Citi tetap menjaga kualitas aset. Rasio Non-Performing Loan (NPL) tercatat 0,19%, sedangkan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 31,43%.
Namun, laba bersih mengalami tekanan. Citi Indonesia membukukan laba bersih Rp993,89 miliar pada semester I 2026, turun 25,45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Batara mengatakan penurunan laba terutama dipengaruhi realisasi penjualan aset keuangan di tengah volatilitas pasar.
Meski demikian, perseroan tetap melihat ruang pertumbuhan melalui penguatan tiga lini bisnis utama, yakni Banking, Markets, dan Services. Ketiganya didukung oleh pengembangan teknologi digital yang semakin terintegrasi.
“Hasil yang kami capai pada semester pertama tahun 2026 menegaskan ketangguhan dan daya saing franchise Citi Indonesia. Pertumbuhan pendanaan dan kredit yang solid, serta rasio NPL yang terjaga mendekati nol mencerminkan kepercayaan mendalam para klien kami terhadap platform perbankan institusional Citi Indonesia,” kata Batara.
