Jakarta, TopBusiness – PT Mekar Investama Teknologi (MEKAR), platform layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi atau peer-to-peer (P2P) lending (fintech lending), menempatkan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan (Governance, Risk and Compliance/GRC) tak sekadar sebagai fungsi pengawasan, tetapi menjadi bagian integral dari strategi pertumbuhan bisnis dan pembangunan ekosistem pembiayaan berdampak. Sebagai perusahaan fintech, MEKAR juga mengembangkan teknologi AI, data analytics, dan digital technology untuk meningkatkan efisiensi, risk management, dan scalability.
Strategi tersebut diselaraskan dengan visi dan misi utama yang diusung perusahaan. Perusahaan fintech lending ini mengusung visi utama: “Menjadi Platform Pembiayaan Berdampak Terbesar di Asia, yang menyediakan koneksi dan peluang penting bagi setiap anggota masyarakat produktif yang belum terlayani Bank (Unbankable)”. Sedangkan misinya : “Mendorong pembiayaan berdampak berbasis AI dan memberdayakan masyarakat yang belum memiliki akses perbankan, serta memimpin perjalanan menuju masyarakat yang inklusif secara finansial melalui Multi-Micro Agriculture Financing (MMAF)”.
MEKAR telah mendapatkan perizinan usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdasarkan Surat Keputusan OJK nomor KEP-127/D.05/2019 tertanggal 13 Desember 2019. Aktivitas bisnis MEKAR diawasi secara ketat dan diatur dalam Peraturan OJK Nomor 40 Tahun 2024 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI), hal ini memastikan legalitas dan kepatuhan MEKAR terhadap hukum dan perundangan yang berlaku di Indonesia.
Sebagai perusahaan layanan pembiayaan yang fokus pada pelaku usaha kecil dan menengah dan sektor riil di Indonesia melalui pinjaman produktif, MEKAR juga tak luput dari berbagai risiko bisnis yang melingkupinya. Seperti kredit, risiko pasar, risiko operasional, risiko keamanan siber, dan lainnya yang kian dinamis. Apalagi saat ini juga tengah mengembangkan strategi bisnis dengan portfolio dengan memperluas bisnis dari fintech lending menuju MEKAR Ecosystem.
Sejalan dengan tansformasi bisnis tersebut, MEKAR sebagai fintech lending, juga menaruh perhatian besar dalam menerapkan manajemen risiko dan kepatuhan regulasi sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Terutama Peraturan Otoritas Jasa Keuangan 42 Tahun 2024 Penerapan Manajemen Risiko bagi Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.
Komitmen tersebut dipaparkan Iwan Himawan, CEO Office PT Mekar Investama Teknologi, dan Bunga Ismarini -Specialist Public Relations MEKAR dalam proses penjurian TOP GRC Awards 2026 yang dihelat Majalah TopBusiness secara daring pada (19/08/2026). Sesuai tema TOP GRC Awards 2026 “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC, MEKAR menunjukkan bagaimana GRC diintegrasikan dengan pengembangan bisnis, pemanfaatan data dan kecerdasan buatan (AI), hingga agenda keberlanjutan.
Dalam presentasinya, sesuai dengan visinya, berevolusi dari bisnis fintech lending menuju ekosistem pembiayaan terintegrasi yang menghubungkan pembiayaan dengan sektor riil dan aktivitas produktif. “Pengembangan bisnis seperti MMAF, agriculture, trade financing, dan renewable energy dilakukan dengan mempertimbangkan aspek risiko, kepatuhan, dan pengendalian,” ungkapnya kepada Tim Juri TOP GRC Awards 2026.
Sedang juri penilai yang hadir terdiri – Prof. DR. Satya Arinanto (Guru Besar – Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI), Alberto Daniel Hanani (Partner Crowe Indonesia), serta Bobby Hamzar (Perkumpulan Profesional Governansi /PaGI) yang dimoderatori oleh Ahmad Chury (Managing Editor ItWorks/MSI Group).
GRC Jadi Fondasi Ekspansi
Dalam paparanya diungkapkan PT Mekar Investama Teknologi (MEKAR) terus mengembangkan bisnis pembiayaan dengan fokus pada sektor produktif di Indonesia. Perusahaan tersebut mencatatkan sebanyak 89,20 persen dari total pembiayaannya merupakan pinjaman produktif.
Sejak berfokus sebagai perusahaan teknologi finansial MEKAR berkembang sebagai perusahaan fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pindar yang menyediakan pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor bisnis produktif. Melalui bisnis pembiayaannya, MEKAR telah mendukung lebih dari 130 ribu lebih pelaku UMKM. Sebanyak 75,3% peminjam merupakan perempuan, sementara 86,79% pembiayaan merupakan pinjaman produktif.
Diakui bahwa perkembangan bisnis tersebut sekaligus membawa tantangan baru bagi MEKAR. Perusahaan harus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio, memperkuat manajemen risiko dan pengendalian internal, serta memastikan kepatuhan dan tata kelola tetap kuat ketika memasuki ekosistem bisnis baru.
Untuk itu, MEKAR mengintegrasikan credit assessment, AI Credit Analytics, pemantauan portofolio, collection and recovery, hingga pengawasan terhadap risiko operasional, fraud, regulasi, dan proyek bisnis.
Dalam pengelolaan governance, MEKAR menerapkan pendekatan three lines of governance. Lini pertama terdiri dari fungsi bisnis dan operasional yang menjalankan proses serta kontrol sehari-hari. Lini kedua mencakup Credit & Risk, Compliance & Legal, Anti Fraud, dan Project Controller yang menjalankan fungsi monitoring dan oversight. Sementara lini ketiga adalah Internal Audit sebagai fungsi independent assurance.
Model tersebut kemudian dihubungkan dengan strategi bisnis, risk management, compliance, internal control, audit, serta ESG. Dengan demikian, ekspansi ke fintech lending, MMAF, trade financing, dan renewable energy diarahkan tetap prudent sekaligus menghasilkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian MEKAR adalah pemanfaatan data dan AI. Perusahaan membangun MEKAR Ecosystem Technology untuk mengintegrasikan data dari bisnis pembiayaan, pertanian, dan biomassa dalam satu platform.
Data tersebut digunakan untuk monitoring, prediksi, risk and early warning, serta mendukung pengambilan keputusan manajemen. AI diarahkan antara lain untuk membantu memprediksi pembayaran, potensi gagal bayar, hasil pertanian, produksi biomassa, hingga kebutuhan operasional.
Implementasi AI juga terlihat pada pengelolaan risiko kredit. Melalui kombinasi alternative data, AI credit analytics, portfolio monitoring, serta recovery, MEKAR mencatat 98% successful repayment rate dengan target non-performing loan (NPL) di bawah 1%. Historis days past due (DPD) berada pada kisaran 1%-2%.
Bagi perusahaan, pendekatan tersebut menjadi penting untuk menjaga akses pembiayaan sekaligus mempertahankan kualitas kredit ketika bisnis terus berkembang.
Salah satu hal yang juga menarik, agenda sustainability MEKAR tidak ditempatkan sebagai program yang berdiri sendiri. Perusahaan mengintegrasikannya ke dalam pengembangan ekosistem bisnis.
Dalam paparan kinerja dampak, MEKAR juga mencatat total penyaluran pendanaan sejak berdiri mencapai Rp1,8 triliun, dengan 104.425 penerima dana dan 687 pemberi dana.Pada ekosistem pertanian, MEKAR mencatat 519 petani telah didukung, dengan total area tanam 382 hektare pada kuartal I 2026 dan volume panen 996 ton. Perusahaan juga menyebut ekspansi area pertanian meningkat lebih dari tiga kali lipat, dari sekitar 300 hektare menjadi lebih dari 900 hektare.
Menuju Intelligent GRC
Perjalanan GRC MEKAR dimulai sejak 2019 ketika perusahaan memperoleh izin sebagai penyelenggara fintech lending dari OJK. Periode 2020-2024 kemudian diarahkan untuk memperkuat fondasi melalui pengembangan sistem, produk pembiayaan, tim, serta re-arsitektur sistem.
Memasuki 2025, MEKAR mulai memperluas bisnis dari fintech lending menuju impact financing melalui MMAF dan pengembangan MEKAR Ecosystem. Pada 2026, perusahaan mengarahkan penguatan GRC menuju model yang lebih terintegrasi antara risiko, kepatuhan, pengendalian internal, data, teknologi, dan sustainability.
Dua praktik yang ditonjolkan dalam penjurian adalah AI Credit Analytics dan pengembangan biomass energy. Pada praktik pertama, AI digunakan untuk menjaga keseimbangan antara akses pembiayaan dan kualitas kredit. Sementara pada praktik kedua, limbah kayu dan biomassa diolah menjadi bahan baku energi terbarukan yang terhubung dengan kebutuhan industri.
Ke depan, MEKAR juga mengarahkan penguatan GRC melalui pemanfaatan Risk & Compliance Knowledge Graph. Pendekatan ini diharapkan semakin memperkuat transparansi, monitoring, pengambilan keputusan, serta keterhubungan antara data, risiko, kepatuhan, dan sustainability.
Bagi MEKAR, transformasi tersebut menegaskan bahwa GRC bukan lagi sekadar mekanisme untuk mengendalikan risiko setelah keputusan bisnis dibuat. GRC justru dirancang sejak awal dalam pengembangan bisnis, sehingga pertumbuhan, pengelolaan risiko, kepatuhan, dan dampak berkelanjutan dapat berjalan dalam satu kerangka yang sama.
