TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

BTN Buktikan GRC Jadi Penggerak Pertumbuhan Kinerja dan Bisnis Berkelanjutan

Nurdian Akhmad
21 August 2026 | 17:56
rubrik: Business Info, Event, GCG
BTN Buktikan GRC Jadi Penggerak Pertumbuhan Kinerja dan Bisnis Berkelanjutan

Jakarta, TopBusiness – Memperbesar bisnis sekaligus menjaga risikonya tetap terkendali menjadi tantangan BTN ketika ekspansi perseroan semakin luas.

Tidak hanya mengandalkan kredit perumahan, BTN kini mengembangkan beyond mortgage, ekosistem digital, sustainable funding, hingga bisnis berbasis ESG. Di tengah perubahan itu, Governance, Risk, and Compliance (GRC) ditempatkan sebagai pengawal agar pertumbuhan tidak keluar dari koridor tata kelola.

Hal itu terungkap dalam presentasi penjurian TOP GRC Awards 2026 secara daring, Jumat (21/8/20206), yang menghadirkan jajaran manajemen BTN. Hadir dalam penjurian ini Compliance and Governance Head BTN, Hasta Nugraha Utomo, Corporate Governance Departement Head Adam Pasuna Jaya, serta wakil dari berbagai divisi terkait GRC antara lain dari Transformation & Partnership Division (TPMD), Enterprise & ESG Risk Management Division (ERMD), IT Strategic & Planning Division (ITPD), Corporate Strategy & Planning Division (CSPD), Corporate Secretary Division (CSD), Digital & Operation Risk Management Division (DORD), serta Policy and Peocedure Division (PPD).

Compliance and Governance Head BTN, Hasta Nugraha Utomo, mengatakan penguatan GRC menjadi semakin penting seiring dengan perkembangan bisnis BTN yang tidak lagi hanya mengandalkan pembiayaan perumahan. Perseroan juga memperluas bisnis ke sektor beyond mortgage, mengembangkan ekosistem digital, serta memperkuat sinergi dengan berbagai institusi.

“Kalau dilihat dari bukti nyata penerapan GRC, yang pertama tentu dari sisi skala bisnis. Bisnis kami cukup besar. Yang kedua terkait dengan implementasi teknologi yang kemudian mendukung semua lingkup dalam kami menjalankan GRC,” ujar Hasta dalam sesi pendalaman dewan juri.

Dengan pendekatan tersebut, GRC di BTN tidak ditempatkan sebagai fungsi yang bekerja setelah keputusan bisnis dibuat. Sebaliknya, pengelolaan risiko dan kepatuhan diarahkan menjadi bagian dari proses sejak perencanaan hingga pelaksanaan bisnis.

Corporate Strategy & Planning Division BTN, Rangga, menjelaskan bahwa perseroan pada 2026 memfokuskan inisiatif bisnis pada tiga penggerak utama, yakni penguatan sustainable funding, perluasan ekosistem, dan akselerasi digital.

“Tidak lama, kami mendorong pertumbuhan bisnis selama 2026 dengan memfokuskan inisiatif bisnis pada penguatan pertumbuhan melalui sustainable funding, keluasan ekosistem dan akselerasi digital,” ujar Rangga.

Strategi tersebut diterjemahkan ke dalam lima agenda. Pertama, memperluas pertumbuhan beyond mortgage melalui diversifikasi pembiayaan dan pengembangan kemitraan institusional. Kedua, memperkuat sustainable funding berbasis CASA melalui akuisisi tabungan, payroll, merchant, dan institusi.

Ketiga, memperdalam ekosistem digital dan transaksi melalui pengembangan balé dan berbagai kanal digital. Keempat, menjaga kualitas portofolio dan efisiensi operasional melalui pertumbuhan selektif serta pengendalian risiko. Kelima, mengembangkan sinergi Grup BTN dan ekosistem perumahan dengan menghubungkan developer, pemerintah, sektor kesehatan, pendidikan, dan anak usaha.

Pada 2026, penguatan ekosistem tersebut antara lain tercermin dari kemitraan BTN dengan 26 rumah sakit, 57 universitas, dan 59 pemerintah daerah. Di sisi pendanaan, BTN memiliki sekitar 439 ribu akun payroll, rasio CASA 49,1%, serta cost of deposits 3,01%.

Strategi ekspansi tersebut sekaligus memperbesar kebutuhan terhadap sistem pengendalian. Semakin luas ekosistem yang digarap, semakin kompleks pula risiko yang harus dipetakan, mulai dari risiko kredit, operasional, teknologi, kepatuhan, hingga risiko reputasi.

Karena itu, penerapan GRC menjadi salah satu instrumen untuk memastikan pertumbuhan bisnis tetap berada dalam koridor risiko yang terukur.

Hal tersebut tercermin dari kinerja BTN per Juni 2026. Total aset mencapai Rp 545,16 triliun, tumbuh 12,4% secara tahunan. Kredit dan pembiayaan mencapai Rp418,1 triliun atau tumbuh 11,2%, sementara DPK mencapai Rp433 triliun atau tumbuh 6,6%. Laba bersih konsolidasi mencapai Rp2,40 triliun, tumbuh 40,8% YoY. Di saat yang sama, NPL gross berada di 3,0%, turun 33 basis poin secara tahunan.

Strategi 1+3+5

Penguatan GRC juga tidak terpisahkan dari strategi jangka panjang BTN. Transformation & Partnership Division BTN, Erika, menjelaskan perseroan telah membangun strategi inisiatif 1+3+5 untuk mendukung pencapaian aspirasi 2030.

BACA JUGA:   Rumah Impian Anti Ribet, BTN Gandeng Pinhome Hadirkan KPR Digital

Strategi tersebut mencakup satu inisiatif New Core Strength, tiga Full Banking Proposition, serta lima Capabilities to Deliver at Scale atau kapabilitas yang dibutuhkan BTN agar mampu tumbuh dalam skala yang lebih besar.

“Dasarnya adalah bagaimana BTN bisa membangun Sustainable Funding Engine,” kata Erika. Ia menjelaskan, inisiatif tersebut mencakup pertumbuhan tabungan transaksional, penguatan kanal digital balé dan balé Korpora, pengembangan bisnis payroll, serta peningkatan pangsa di 20 kota yang menjadi kantong pertumbuhan funding.

Menurut Erika, BTN tetap mempertahankan kekuatan di bisnis mortgage, tetapi pembiayaan perumahan dijadikan pintu masuk untuk mengembangkan seluruh ekosistem perumahan.

“Selama ini BTN dikenal sebagai bank KPR. Di sini mungkin yang saya highlight bahwa BTN juga tidak meninggalkan mortgage, tapi bagaimana mortgage kita gunakan sebagai hub untuk menggarap housing ecosystem,” katanya.

Pendekatan tersebut kemudian dilengkapi dengan full banking offering, sehingga BTN dapat memenuhi kebutuhan nasabah sepanjang customer lifecycle. Perseroan juga mengembangkan financial group melalui partnership, pertumbuhan inorganik, dan pendirian anak usaha.

Pada saat bersamaan, BTN memperkuat lima kapabilitas utama, yaitu digitalisasi, sales model, people upskilling, technology & data, serta risk management. Di bidang risiko, perseroan antara lain mengembangkan risk underwriting, score model, decision engine, fraud detection, dan strategi collections.

Erika menegaskan bahwa GRC menjadi bagian penting untuk memastikan pertumbuhan tersebut berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.

“GRC menjadi pilar penting juga yang menjaga pertumbuhan untuk yang lebih sehat dan sustainable,” ujarnya.

Struktur GRC Mengikuti Kompleksitas Bisnis

Bagi BTN, penguatan GRC kemudian diterjemahkan ke dalam struktur, kebijakan, sistem, dan teknologi. Dalam struktur GRC, unit bisnis dan operasional berperan sebagai risk taking unit yang melakukan aktivitas operasional sekaligus mengelola risiko secara langsung.

Pengendalian juga melekat dalam proses bisnis melalui Branch Business Control. Dengan demikian, pengendalian risiko tidak hanya menjadi tugas unit risiko, tetapi menjadi bagian dari aktivitas unit bisnis dan operasional.

BTN juga membangun Group Principles Guidelines (GPG) sebagai pedoman strategis dan jangka panjang yang mengatur hubungan BTN sebagai perusahaan induk dengan anak perusahaan. Kerangka tersebut kemudian terhubung dengan anggaran dasar, kebijakan, prosedur, code of conduct, GCG, dan corporate value.

Hasta menjelaskan, pengembangan kerangka kebijakan tersebut dilakukan agar hubungan antara kebijakan, organ perusahaan, dan unit operasional semakin terintegrasi.

“Principal Guidelines ini untuk memastikan komunikasi kebijakan antara Komisaris, Direksi, kemudian pekerjaan yang ada di operasional itu juga dipastikan terintegrasi dengan perusahaan,” ujarnya dalam presentasi.

Penguatan kebijakan juga didukung digitalisasi. BTN mengembangkan PPDigital, termasuk chatbot berbasis AI bernama PVITA (Policy Procedure Virtual Assistant). Aplikasi ini dapat menjawab pertanyaan pegawai terkait peraturan internal yang terdapat di dalam sistem.

Komisaris dan Direksi Terlibat

Bukti lain penerapan GRC terlihat dari keterlibatan organ perusahaan. Posisi 30 Juni 2026 menunjukkan BTN memiliki tujuh anggota Dewan Komisaris dan 12 anggota Direksi. Dewan Komisaris didukung Komite Audit, Komite Pemantau Risiko, Komite Remunerasi dan Nominasi, serta Komite Tata Kelola Terintegrasi. Direksi juga didukung 11 komite utama yang mencakup antara lain ALCO, TI, risiko, human capital, kredit, bisnis, transformasi, dan ESG.

Sepanjang 2025, Dewan Komisaris menggelar 56 rapat internal dan enam rapat bersama Direksi. Direksi menggelar 173 rapat internal dan enam rapat bersama Dewan Komisaris. Sementara Corporate Secretary Division mencatat 14 disclosure pada 2025, serta dua RUPSLB dan satu RUPST.

Hasta menilai komitmen organ perusahaan merupakan bagian dari penguatan GRC di level top management. “Dari sisi dukungan Komisaris dan Direksi, ini merupakan bagian dari peran top management,” katanya.

BACA JUGA:   DBS Treasures Terus Inovasi Digital

Compliance Tidak Sekadar Administratif

Pada sisi kepatuhan, BTN memiliki kerangka yang mencakup compliance culture, compliance risk monitoring, compliance regulatory, serta compliance commitment. Implementasinya antara lain melalui compliance awareness and training, compliance testing, program antikorupsi dan anti-penyuapan, whistleblowing campaign, compliance dashboard, serta analisis transaksi tunai dan transaksi mencurigakan.

Sistem tersebut diperkuat dengan Compliance Regulatory Management System (CRMS), Compliance Dashboard, dan AML/CFT-CPF Red Flag Intelligence Monitoring System (ARMS).

Dalam tata kelola grup, BTN juga telah menerapkan Integrated Governance secara early adoption. Kerangka ini mencakup kepatuhan, manajemen risiko, audit internal, pengelolaan bisnis dan keuangan, teknologi informasi, talenta, serta koordinasi dan transaksi intragrup.

Di bidang antikorupsi, BTN menerapkan Sistem Manajemen Anti-Penyuapan ISO 37001:2016 pada sejumlah area, antara lain retail credit, credit risk, credit operation, SME Banking, Corporate Banking, Commercial Business Center, Asset Management, dan pengadaan. Perseroan juga telah memperoleh sertifikasi ISO 37301:2021 untuk Sistem Manajemen Kepatuhan.

BTN memiliki Unit Pengendalian Gratifikasi serta program dan forum antikorupsi yang diperkuat 96 Ahli Pembangun Integritas bersertifikat dan 83 Penyuluh Antikorupsi bersertifikat. Whistleblowing System dikelola oleh pihak ketiga dan disertai kampanye untuk mendorong pelaporan pelanggaran.

Hasilnya, Compliance Maturity Index BTN berada pada level 3,56 atau kategori Managed. Risk Maturity Index mencapai 4,03 atau Very Good, sedangkan Survei Penilaian Integritas KPK menghasilkan skor 79,71 dengan kategori Terjaga.

Teknologi Menjadi Penguat Kontrol

Digitalisasi menjadi salah satu bukti paling nyata bahwa GRC BTN diterapkan ke dalam proses bisnis. Perseroan menggunakan digital signature, AI, blockchain, cloud, digital store, BTN LAKU, dan OCR untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat keamanan dan kontrol.

Digital signature digunakan untuk proses persetujuan perjanjian kredit, dokumen bank garansi, dan memo internal. Pada 2025, penggunaan teknologi ini menghemat pemakaian kertas sebanyak 105.969.841 lembar. Selain efisiensi, setiap pengguna memperoleh satu sertifikat digital sehingga dokumen lebih sulit dipalsukan.

AI digunakan melalui Data Science Platform, Hello Operations by BTN, PVITA, Robotic Process Automation, TARA BTNBEST, AIKO, dan Cyber Threat Intelligence. Implementasi tersebut berkontribusi terhadap percepatan penyediaan informasi sekitar 60%.

BTN LAKU juga memangkas waktu proses input data calon debitur hingga pengusulan kredit dari 3,5 jam menjadi 1,5 jam, atau meningkatkan efisiensi proses sebesar 57%. Sementara teknologi OCR menghasilkan cost saving 50% dalam pemrosesan 125.000 pengajuan input data kredit.

Dari sisi tata kelola TI, skor COBIT 2019 BTN pada kuartal II 2026 mencapai 4,13, meningkat dari 4,05 pada kuartal sebelumnya dan mendekati target 4,20 pada 2026. Perjalanan tersebut menunjukkan peningkatan konsisten dari skor 3,05 pada 2021 menjadi 4,00 pada 2025.

Hasta menilai perkembangan teknologi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa penerapan GRC harus mengikuti perubahan bisnis dan kebutuhan organisasi.

“Implementasi teknologi kemudian mendukung semua lingkup dalam kami menjalankan GRC,” ujarnya.

ESG Menjadi Bagian dari GRC

Penerapan GRC BTN juga diperluas ke aspek keberlanjutan. Perseroan memiliki ESG Framework dengan enam komponen, yakni sustainable finance, climate change & ecosystems, people & community, ESG in the value chain, stakeholder inclusiveness, dan integrated GRC.

Salah satu bukti implementasinya adalah pengembangan Low Emission Housing. BTN menargetkan pembiayaan 150.000 unit hunian rendah emisi hingga 2029. Konsep tersebut mencakup efisiensi air, pengelolaan sanitasi, pemilahan limbah, penggunaan material ramah lingkungan, serta penyediaan ruang hijau.

Dalam konteks ini, GRC menjadi penghubung antara pertumbuhan bisnis dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Bisnis perumahan yang menjadi inti BTN diarahkan bukan hanya untuk memperbesar pembiayaan, tetapi juga membangun ekosistem perumahan yang lebih berkelanjutan.

BACA JUGA:   Gandeng IDM, BTN Berkomitmen Majukan Pariwisata Indonesia

Seluruh penguatan tersebut kemudian ditempatkan dalam roadmap GRC BTN 2025–2029. Pada 2025, BTN berfokus pada Building a Holistic Framework/Actions for Sustainable Growth. Periode 2026–2027 diarahkan untuk Driving Transforming and Effectivity through Advanced Analytics. Sementara 2028–2029 ditujukan untuk mempercepat iGRC Excellence.

Roadmap itu mencakup penguatan market and liquidity risk, credit risk, enterprise risk, operational risk, ESG, compliance, tata kelola, serta kapabilitas GRC pegawai. Pada tahap lebih lanjut, BTN menargetkan pemanfaatan AI dalam fraud detection, penerapan regulatory technology, penguatan cyber security, otomatisasi risk management, hingga integrasi GRC ke dalam talent management dan talent development.

Dengan demikian, perjalanan GRC BTN menunjukkan pergeseran dari pendekatan yang berorientasi pada kepatuhan menuju GRC yang terintegrasi dengan strategi bisnis. Struktur pengawasan diperkuat, kebijakan didigitalisasi, risiko diukur, kepatuhan dipantau melalui sistem, sementara ESG dimasukkan ke dalam kerangka pengelolaan perusahaan.

Pada akhirnya, efektivitas GRC dapat dilihat dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas. Sepanjang 2025, BTN mencatat laba bersih Rp3,5 triliun, total kredit dan pembiayaan Rp400 triliun, DPK Rp437 triliun, NPL gross 3,1%, dan CAR 20,9%.

Pengakuan Eksternal Perkuat Bukti Penerapan GRC

Menurut Hasta, bukti penerapan GRC BTN tidak hanya terlihat dari sistem yang dibangun dan hasil pengukuran internal. Berbagai asesmen, penghargaan, serta pemeringkatan dari pihak eksternal juga menjadi indikator bahwa penerapan tata kelola dan keberlanjutan perseroan mendapatkan pengakuan.

Dalam sesi pendalaman dewan juri, Hasta menunjuk berbagai capaian tersebut sebagai bagian dari bukti nyata penerapan GRC BTN, baik pada level nasional maupun internasional.

“Ini juga merupakan bagian dari penerapan yang kami pakai dengan implementasi GRC kami, baik dari sisi ESG maupun dari sisi penerapan GRC yang kemudian di-recognize oleh dunia internasional dan juga lokal,” ujar Hasta.

Salah satu indikator yang ditampilkan adalah ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS). BTN memperoleh skor 120,75, yang menempatkan perseroan dalam Top 5 Indonesia PLCs dan Top 50 ASEAN PLCs. Skor tersebut juga berada di atas ambang ASEAN Asset Class sebesar 97,5.

Dari sisi penghargaan GRC, BTN memperoleh TOP GRC Awards #5 Stars. Pengakuan juga diberikan kepada Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, sebagai The Most Committed GRC Leader 2025. Sementara Dewan Komisaris BTN memperoleh penghargaan The High Performing Board of Commissioners on GRC 2025.

Pengukuran tata kelola lainnya tercermin dari Corporate Governance Perception Index (CGPI) yang mencapai 91,8 pada 2025, meningkat dibandingkan 90 pada 2022. Capaian tersebut menempatkan BTN dalam kategori Most Trusted Company.

Pada aspek ESG, BTN memperoleh MSCI Rating AA dengan predikat Leader per September 2025. Penilaian tersebut menunjukkan posisi perseroan yang kuat dalam pengelolaan risiko dan peluang ESG relatif terhadap perusahaan lain di industrinya.

BTN juga mencatat ESG Rating CSRHub pada percentile 75, dibandingkan basis 43.262 perusahaan. Sementara Refinitiv ESG Rating BTN berada pada level B+, dengan combined score 78. Penilaian tersebut terdiri atas skor Environment C, Social A-, dan Governance B.

Rangkaian capaian itu memperlihatkan bahwa penerapan GRC BTN mulai menghasilkan outcome yang dapat dinilai dari luar perusahaan. Artinya, GRC tidak hanya dibuktikan melalui keberadaan kebijakan dan struktur organisasi, tetapi juga melalui persepsi tata kelola, asesmen ESG, serta pengakuan terhadap kepemimpinan dan kinerja organ perusahaan.

Bagi Hasta, pengakuan tersebut menjadi pelengkap atas berbagai sistem pengendalian yang telah dibangun BTN.

“Jadi memang ini bukan hanya dari sisi implementasi, tapi kemudian ada recognition yang diberikan kepada kami,” ujarnya.

Tags: bank BTNbtnTOP GRC Awards 2026
Previous Post

Percepatan Identifikasi Kerusakan Infrastruktur Irigasi Pasca Gempa di NTT

Next Post

Gandeng Regulator dan Pelaku Industri Aset Digital, CFX Hadirkan CFX Cryptalk dan CFX Seaside Mixer

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR