Jakarta, TopBusiness – Sebagai perusahaan yang mengelola jaringan pipa Grissik–Duri sejak 2002 dan Grissik–Singapura sejak 2004 serta selama lebih dari dua dekade menjaga kelancaran infrastruktur transportasi gas bumi untuk kebutuhan domestik maupun ekspor, PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) terus memperkuat kepercayaan itu dengan melaksanakan Governance, Risk and Compliance (GRC). GRC bahkan tidak lagi ditempatkan semata sebagai fungsi kepatuhan yang bersifat defensif.
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama TGI Ahmad Cahyadi dalam Penjurian TOP GRC Awards yang dilaksanakan secara daring di Jakarta, Kamis (27/8/2026). Hadir pula dalam penjurian, DH RMCG Akbar Tanjung, GCG Officer Riani Puspasari, RMCG Assistant Hafiz Daniswara, serta CSR SH Relartion Officer Yossy Meidi.
Menurut Ahmad Cahyadi kembali, GRC telah berkembang menjadi pendorong strategis yang memperkuat ketahanan organisasi sekaligus menciptakan keunggulan kompetitif.
“Salah satu penekanannya adalah penyelarasan lintas sektor, yaitu mensinergikan rencana pengembangan bisnis dengan aspirasi pemegang saham dan portofolio bisnis grup, mengembangkan bisnis melalui kolaborasi dengan mitra strategis, serta memperkuat kapabilitas pegawai melalui pola pikir tangkas, kolaborasi lintas fungsi, pembinaan dan umpan balik,” kata Ahmad Cahyadi.
Adapun untuk mengimplementasikan GRC, TGI menggunakan Three Lines Model. Lapis pertama dijalankan oleh masing-masing departemen yang bertanggung jawab memastikan lingkungan pengendalian yang kondusif, menerapkan kebijakan GRC dan manajemen risiko, mempertimbangkan faktor risiko dalam setiap keputusan dan tindakan, serta menjalankan pengendalian internal secara efektif.
Lapis kedua dijalankan oleh Corporate Secretary, RMCG, Legal dan HSSE yang mengembangkan dan memantau implementasi Governance, Risk and Compliance secara keseluruhan. Sementara itu, lapis ketiga dilaksanakan oleh Internal Audit melalui review dan evaluasi atas rancangan serta implementasi pengendalian internal sekaligus memastikan lapis pertama dan kedua berjalan sesuai harapan
Jadikan Manajemen Risiko Sebagai Bagian dari Pengambilan Keputusan
Dalam menghadapi risiko dan mendukung keberlanjutan perusahaan secara sistematis dan inovatif, TGI dicatat membangun manajemen risiko untuk menciptakan budaya proaktif. Kerangka tersebut mencakup Manual Manajemen Risiko Korporat, Manual HSSE–HEMP, dan prosedur penilaian risiko keamanan. Selain itu, ICT Policy dan Cyber Security, kapasitas serta selera risiko, aplikasi manajemen risiko korporat, HAZOP/HAZID, taksonomi risiko, pengukuran maturitas risiko, serta Risk Based Audit & Budgeting.
Perusahaan juga mengintegrasikannya dengan karakteristik teknis industri gas melalui misalnya, Pipeline Integrity Management System (PIMS) dan Facility Integrity Management System (FIMS). Semua pendekatan tersebut menunjukkan jika GRC di TGI, diterjemahkan ke dalam risiko yang benar-benar berhadapan dengan operasi bisnis.
Perkuat GRC Dengan Digitalisasi
Memahami transformasi digital menjadi bagian penting menopang GRC, TGI memastikan tersedianya jaringan komunikasi yang andal. Selain itu, menyediakan internal portal yang mudah diakses pegawai untuk informasi dan dokumen perusahaan, perangkat ICT, keamanan data elektronik, mitigasi risiko siber, sistem backup data center dan network storage, serta perangkat lunak berlisensi resmi. Dukungan personel ICT juga tersedia baik di kantor pusat maupun regional.
Lebih jauh lagi, digitalisasi juga telah masuk ke proses bisnis dan pengawasan operasional. TGI menggunakan PIMS, FIMS, CGOLS (Compliance & Governance Application), HRIS-Greatday, E-Procurement dan SMART sebagai aplikasi persuratan internal maupun eksternal. Sistem ICT pun dikembangkan untuk mendukung monitoring kegiatan keproyekan melalui CCTV yang dapat dipantau secara remote. Perusahaan bahkan mulai mengembangkan Agentic AI untuk membantu pengukuran risiko.
Integrasikan Tata Kelola dengan Kepatuhan
Guna membangun kesadaran dan kepatuhan di seluruh jajaran, mulai dari Dewan Komisaris, Direksi, karyawan hingga pihak terkait lainnya, TGI juga menerapkan Good Corporate Governance (GCG). Penerapan GCG tersebut didukung berbagai perangkat tata kelola. Di mana diantaranya, Board Manual, GCG Manual, Anti-Bribery Management System ISO 37001, prosedur pemberian dan penerimaan hadiah, serta Code of Conduct bagi karyawan.
Penerapan GCG juga diperkuat melalui pemantauan Whistleblowing System, pengelolaan laporan sesuai SLA, pemantauan perkembangan regulasi, serta asesmen GCG. Asesmen tersebut diantaranya mengacu pada Keputusan Menteri BUMN SK-16/S.MBU/2012 dan ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS). Di samping itu, pada bidang pengendalian internal, TGI menerapkan Internal Control over Financial Reporting (ICOFR).
Tempatkan ESG Sebagai Investasi Bisnis
TGI menempatkan ESG sebagai investasi strategis untuk menjaga ketahanan bisnis jangka panjang. Komitmen tersebut dituangkan melalui Sustainability Focus dan Roadmap 2025–2033 yang dirumuskan dengan kepemimpinan langsung Direksi dan Dewan Komisaris. Peta jalan ini menjadi panduan untuk mencapai target keberlanjutan yang jelas dan terukur.
Komitmen tersebut salah satunya, tercermin dalam keberlanjutan operasi rendah emisi. Pada 2025, TGI mencatat emisi operasional sebesar 54.274 ton CO₂ atau 94% dari estimasi. Di sisi pengembangan bisnis masa depan, perusahaan telah menandatangani Heads of Agreement Biomethane bersama buyer dan supplier pada 15 Desember 2025 serta mengembangkan proyek Bangkanai Pipeline.
“Inisiatif tersebut menunjukkan upaya TGI menyiapkan bisnis untuk memasuki perkembangan energi yang lebih ramah lingkungan,” kata Ahmad Cahyadi.
Bukukan Kinerja Mumpuni
Banyak capaian yang berhasil dibukukan melalui penerapan GRC di TGI. Baik itu keselamatan, lingkungan, pelanggan, keuangan, maupun kinerja korporasi. Pada 2025, perusahaan mencatat zero fatality dengan 2.122.094 jam kerja selamat pada 2025, atau lebih dari 34 juta jam kerja aman secara kumulatif. Indeks kepuasan pelanggan mencapai 91,48, yang masuk kategori sangat puas.
Pendapatan dicatat mencapai USD143,86 juta, naik 14,65 persen dari target, sementara itu laba bersih mencapai USD71,62 juta, naik 28,99 persen dari target. Di empat perspektif Balanced Scorecard—Shareholder, Customer, Internal Process, serta Learning & Growth—TGI memperoleh skor KPI akhir 106,12 persen.
Pada sisi tata kelola, TGI berhasil mempertahankan predikat “Sangat Baik” (Very Good) dalam asesmen GCG 2025 dengan menggunakan SK-16 BUMN, ACGS maupun PUGKI. Perusahaan juga mempertahankan sertifikasi ISO 9001:2015, ISO 37001:2016, ISO 45001:2018 dan ISO 14001:2015. Selain itu, komitmen pengelolaan lingkungan mendapatkan pengakuan melalui PROPER Biru untuk Stasiun Kompresor Jabung dan PERCA Biru untuk Stasiun Panaran dari PT Pertamina (Persero).
“Berkaca pada keseluruhan capaian tersebut, keberhasilan GRC TGI bukan sekadar dari keberhasilan memenuhi aturan atau memperoleh sertifikasi, namun ketika governance, risk dan compliance terhubung dengan keandalan infrastruktur, keselamatan kerja, kepuasan pelanggan, efisiensi, keberlanjutan dan hasil finansial,” pungkas Ahmad Cahyadi.
