Jakarta, TopBusiness – PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) terus mempercepat penanganan tanggap darurat pada infrastruktur jalan dan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang terdampak bencana di Provinsi Aceh.
Penanganan dilakukan melalui pekerjaan pada sejumlah titik longsor, jembatan, serta infrastruktur penyediaan air minum guna mendukung pemulihan konektivitas, mobilitas, dan layanan dasar masyarakat di wilayah terdampak.
Ruang lingkup penanganan pada sektor jalan dilakukan dengan perkuatan lereng dan badan jalan menggunakan DPT, blok beton, bore pile, drainase, box culvert, perkerasan, serta pekerjaan jembatan sesuai dengan karakteristik masing-masing titik. Sementara pada sektor air minum, penanganan dilakukan melalui pembersihan fasilitas, pembangunan sumur bor sebagai sumber air, rehabilitasi IPA eksisting, serta pembangunan IPA baru.
Hutama Karya menangani tiga ruas jalan nasional yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Bina Marga (BM), yaitu: SP Uning–Bts. Gayo Lues (PPK 3.3); Bts. Aceh Tengah/Gayo Lues – Blangkejeren (PPK 3.4); serta Bts. Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane (PPK 3.5). Sementara pada sektor Direktorat Jenderal Cipta Karya, Hutama Karya turut menangani SPAM pascabencana di Aceh Tamiang dan Aceh Timur.
Pada Jalan Nasional Provinsi Aceh Ruas SP Uning–Bts. Gayo Lues (PPK 3.3), terdapat 28 titik penanganan tanggap darurat sepanjang 82,4 kilometer, yang terdiri atas 24 titik penanganan longsor dan 4 titik perbaikan jembatan. Ruang lingkup pekerjaan penanganan tanggap darurat ini meliputi penanganan jembatan, pembangunan dinding penahan tanah (DPT), pemasangan blok beton, serta pekerjaan bore pile. Penanganan tersebut bertujuan untuk memperkuat lereng dan badan jalan pada titik – titik yang terdampak langsung oleh bencana, serta mendukung pemulihan fungsi ruas jalan dan konektivitas masyarakat.
Pekerjaan pada ruas tersebut dilaksanakan sejak 5 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026. Sampai dengan minggu ketiga Agustus 2026, progress fisik telah mencapai 58,78%, dimana 8 dari 28 titik telah selesai, terdiri atas dua titik blok beton, dua titik DPT, tiga titik shotcrete, dan satu titik jembatan. Penanganan pada lokasi ini melibatkan setidaknya 81 karyawan dan 315 tenaga kerja.
Selanjutnya, pada Ruas Jalan Nasional Bts. Aceh Tengah/Gayo Lues – Blangkejeren (PPK 3.4), Hutama Karya menangani 23 titik terdampak bencana pada ruas jalan sepanjang 123 kilometer, dengan total panjang penanganan efektif 2,7 kilometer. Penanganan tersebut mencakup tujuh titik longsor dan satu jembatan pada Ruas Jalan N22 Aceh Tengah–Blangkejeren, serta 15 titik longsor pada Ruas Jalan N23 Blangkejeren–Aceh Tenggara.
Pekerjaan yang dilakukan mencakup pemasangan precast buis beton, beton siklop FC15, dinding penahan beton, serta timbunan pilihan. Penanganan tersebut dilakukan untuk memperkuat dan meningkatkan stabilitas badan jalan pada titik terdampak sehingga ruas jalan dapat dipulihkan sehingga dapat mendukung kelancaran mobilitas masyarakat serta distribusi barang dan jasa. Pekerjaan telah dimulai sejak 6 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026. Sampai dengan minggu ketiga Agustus 2026, progres fisik pekerjaan telah mencapai 46,17%, dengan dukungan sekitar 130 karyawan dan 190 tenaga kerja.
Sementara itu, Ruas Bts. Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane (PPK 3.5), dilakukan penanganan pada enam titik yang terdiri atas dua jembatan dan empat titik longsor, dengan total panjang penanganan mencapai 3.775 meter. Titik penanganan tersebut meliputi Longsor daerah Ketambe sepanjang 325 meter, longsor daerah Kafetingir 1.072 meter, Longsor daerah Bener Berpapah 500 meter, Jembatan Penanggalan 793 meter, Jembatan Mengkudu 410 meter, serta longsor daerah Lawe Ger-ger 675 meter.
Pekerjaan pada ruas tersebut mencakup drainase, box culvert, pekerjaan tanah, perkerasan jalan, pembangunan struktur penahan tanah berupa DPT dan bore pile, serta pembangunan jembatan rangka baja. Rangkaian pekerjaan tersebut ditujukan untuk memperkuat struktur jalan dan stabilitas lereng serta meningkatkan keandalan infrastruktur pada titik-titik terdampak, sehingga konektivitas antarkawasan dapat kembali berjalan dengan lebih baik. Pekerjaan di lokasi ini dimulai sejak 5 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026. Sampai dengan minggu ketiga Agustus 2026, progres fisik telah mencapai 57,06%, dengan dukungan sekitar 76 karyawan dan 155 pekerja.
Selain penanganan pada sektor jalan, Hutama Karya juga mendukung pemulihan layanan air bersih masyarakat melalui SPAM Pascabencana Aceh yang mencakup wilayah Aceh Tamiang dan Aceh Timur. Penanganan meliputi pembersihan, pembangunan 20 titik sumur bor, rehabilitasi IPA (Instalasi Pengolahan Air), serta pembangunan dua lokasi IPA.
Di Aceh Tamiang, pekerjaan mencakup pembangunan dua IPA baru dan delapan titik sumur bor. Sementara di Aceh Timur, pekerjaan meliputi rehabilitasi dua IPA dan pembangunan 12 titik sumur bor. Penanganan ini ditujukan untuk memulihkan infrastruktur penyediaan air minum yang terdampak bencana sekaligus mendukung ketersediaan dan keberlanjutan layanan air bersih bagi masyarakat. Pekerjaan dimulai pada 22 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada 17 Desember 2026. Sampai dengan minggu ketiga Agustus 2026, progres fisik penanganan SPAM pascabencana Aceh mencapai 39,25%, dengan dukungan 30 karyawan dan 48 tenaga kerja.
Penanganan tanggap darurat tersebut dilakukan sebagai respons atas dampak bencana yang menyebabkan longsor, kerusakan jembatan, serta gangguan pada infrastruktur penyediaan air minum. Pada sektor jalan, penanganan dilakukan melalui penguatan lereng dan badan jalan menggunakan DPT, blok beton, bore pile, drainase, box culvert, perkerasan, serta pekerjaan jembatan sesuai dengan karakteristik masing-masing titik. Sementara pada sektor air minum, penanganan dilakukan melalui pembersihan fasilitas, pembangunan sumur bor sebagai sumber air, rehabilitasi IPA eksisting, serta pembangunan IPA baru.
Melalui rangkaian penanganan tersebut, Hutama Karya tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik infrastruktur, tetapi juga pada keberlanjutan fungsi infrastruktur bagi masyarakat. Pemulihan ruas jalan diharapkan dapat mendukung kembali mobilitas masyarakat, distribusi logistik, serta aktivitas sosial dan ekonomi antarkawasan. Sementara pemulihan SPAM diharapkan dapat mendukung ketersediaan layanan air bersih sebagai salah satu kebutuhan dasar masyarakat di wilayah terdampak.
Dalam pelaksanaannya, Hutama Karya berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum, BP2JN/BPJN Provinsi Aceh, PPK terkait, serta konsultan pengawas sesuai dengan lingkup pekerjaan masing-masing. Penanganan dilakukan dengan menyesuaikan metode dan kebutuhan teknis pada setiap titik terdampak agar infrastruktur dapat kembali berfungsi dan mendukung pemulihan konektivitas serta layanan dasar masyarakat.
Upaya tersebut sejalan dengan Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam mendorong pembangunan infrastruktur yang mendukung pemerataan pembangunan, memperkuat konektivitas antardaerah, serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Melalui dukungan terhadap pemulihan infrastruktur pascabencana, Hutama Karya turut berkontribusi dalam memastikan pembangunan dan pemulihan dapat memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Pada kesempatan terpisah, Pj. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, mengatakan bahwa penanganan tanggap darurat yang dilakukan Perseroan merupakan bagian dari upaya mendukung percepatan pemulihan infrastruktur dan layanan dasar masyarakat yang terdampak bencana.
“Bagi Hutama Karya, penanganan infrastruktur terdampak bencana merupakan bagian dari tanggung jawab kami untuk mendukung pemulihan masyarakat di wilayah terdampak. Melalui penanganan jalan, jembatan, serta infrastruktur penyediaan air minum di Aceh, kami berupaya memastikan infrastruktur dapat kembali berfungsi secara optimal sehingga aktivitas dan mobilitas masyarakat dapat berlangsung dengan lebih baik. Dalam pelaksanaannya, kami terus mengedepankan kualitas pekerjaan, keselamatan, serta ketepatan waktu agar setiap penanganan dapat memberikan manfaat yang nyata dan mendukung percepatan pemulihan di wilayah terdampak,” tutup Hamdani dalam siaran pers.
