Jakarta, TopBusiness — PT Elnusa Tbk (IDX: ELSA), perusahaan jasa energi terintegrasi yang merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina, kembali dipercaya mengerjakan dua proyek survei seismik 3D di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan.
Dua proyek tersebut memiliki total luas sekitar 150 kilometer persegi (km²) dan berada di area yang berdekatan dengan dua pekerjaan survei sebelumnya dengan total luas sekitar 365 km². Dengan demikian, keseluruhan area survei yang dikerjakan Elnusa di wilayah tersebut mencapai sekitar 515 km².
Pekerjaan tersebut ditargetkan selesai pada awal 2027. Proyek ini sekaligus memperkuat portofolio Elnusa di segmen pasar non-captive, yakni pekerjaan yang diperoleh di luar ekosistem Pertamina Group.
Corporate Secretary Elnusa, Rustam Aji, mengatakan keberhasilan memperoleh pekerjaan lanjutan di wilayah yang berdekatan menjadi salah satu indikator kepercayaan pelanggan terhadap kemampuan Elnusa dalam mengelola survei seismik dengan tingkat kompleksitas tinggi.
“Kepercayaan untuk kembali mengerjakan proyek di area berdekatan menunjukkan teknologi, kompetensi personel, dan kualitas eksekusi kami memberikan nilai bagi pelanggan,” ujar Rustam.
Menurut dia, penguatan bisnis non-captive menjadi bagian dari upaya Elnusa meningkatkan daya saing perusahaan di pasar jasa energi yang semakin terbuka.
Mengandalkan Teknologi Nodal
Pelaksanaan survei seismik di Muba menghadapi karakteristik wilayah yang beragam, mulai dari kawasan hutan, sungai, area pertambangan hingga permukiman masyarakat. Kondisi tersebut membutuhkan metode survei yang fleksibel dan mampu menyesuaikan dengan kondisi lapangan.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, Elnusa memanfaatkan teknologi nodal dari STRYDE, termasuk STRYDE Nimble Seismic System dan STRYDE Mini System.
Sejak awal 2026, Elnusa telah melakukan investasi sebanyak 25.000 unit STRYDE Range+ nodes. Teknologi tersebut memungkinkan perangkat perekam data seismik ditempatkan secara lebih fleksibel pada berbagai kondisi medan.
Rustam mengatakan penggunaan teknologi nodal tersebut memberikan fleksibilitas dalam merancang kegiatan survei, termasuk memungkinkan pelaksanaan pekerjaan 2D dan 3D secara simultan sesuai kebutuhan operasional.
“Teknologi ini memberikan fleksibilitas dalam desain survei dan optimal untuk kondisi wilayah seperti Muba,” katanya.
Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepadatan data seismik, mempercepat siklus survei, sekaligus meningkatkan efisiensi kegiatan operasional.
Namun, pelaksanaan survei di lapangan tidak hanya bergantung pada perangkat teknologi. Elnusa juga harus memastikan aspek keselamatan, kesehatan, keamanan dan lingkungan (HSSE), perizinan, koordinasi dengan pemerintah daerah serta komunikasi dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena kegiatan survei seismik bersinggungan langsung dengan aktivitas masyarakat, termasuk akses lahan pertanian, permukiman dan berbagai kegiatan ekonomi warga.
Penguatan kemampuan di bidang geoscience tersebut sejalan dengan strategi Elnusa untuk berkembang sebagai perusahaan jasa energi yang berbasis teknologi. Perusahaan menempatkan teknologi, sumber daya manusia dan kualitas eksekusi sebagai bagian penting dalam meningkatkan daya saing.
“Kami ingin investasi teknologi menghasilkan nilai ekonomi yang optimal. Efisiensi meningkat, kebutuhan pelanggan dapat dijawab, pasar semakin luas, dan nilai jangka panjang dapat tercipta,” ujar Rustam.
Elnusa Mengajar di Tarakan
Di luar kegiatan operasional, Elnusa juga menjalankan program yang berorientasi pada pengembangan kapasitas masyarakat, salah satunya melalui program CSR Pilar Edukasi “Elnusa Mengajar” di Tarakan, Kalimantan Utara.
Program tersebut melibatkan mahasiswa Universitas Borneo Tarakan dengan materi upskilling pendataan fisik bangunan untuk mendukung kegiatan Survei Seismik 3D Mangatal Juata.
Mengusung tema “Belajar Hari Ini, Siap Menghadapi Masa Depan”, kegiatan tersebut memberikan pengenalan mengenai dasar-dasar survei seismik 3D, praktik pendataan fisik bangunan, hingga simulasi penggunaan Comrelasi, platform digital yang digunakan untuk mengelola data hubungan masyarakat di wilayah operasi.
Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai peran tim Community Relations dalam kegiatan operasional, termasuk komunikasi dengan masyarakat, sosialisasi kegiatan dan membangun hubungan dengan pemangku kepentingan di sekitar wilayah kerja.
Elnusa menyebut hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan. Sekitar 80 persen peserta mengalami peningkatan nilai setelah mengikuti post-test, sementara sekitar 80 persen peserta lainnya memahami penggunaan aplikasi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.
Senior Manager Corporate Communication & Relation Elnusa, Jayanty Oktavia Maulina, mengatakan keterlibatan industri dalam proses pembelajaran dapat memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa.
“Kami percaya kesempatan belajar langsung dari industri menjadi bekal yang berharga. Keberhasilan proyek bukan hanya mengenai aspek operasional, tetapi juga nilai tambah yang dapat kami tinggalkan bagi masyarakat,” ujarnya.
Program Elnusa Mengajar tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menjelang peringatan HUT ke-57 Elnusa pada 9 September 2026 yang mengusung tema “Rediscover, Innovate, Elevate”.
Menyatukan Teknologi dan Pengembangan Masyarakat
Memasuki usia lebih dari lima dekade, Elnusa terus mengembangkan bisnisnya di berbagai lini jasa energi, termasuk jasa hulu migas, distribusi dan logistik energi, dukungan kelautan serta pengelolaan data.
Penguatan bisnis survei seismik di pasar non-captive berjalan beriringan dengan program pengembangan kapasitas masyarakat di wilayah operasi.
Di Musi Banyuasin, teknologi nodal digunakan untuk memperoleh data bawah permukaan dengan menghadapi kondisi medan yang kompleks. Sementara di Tarakan, pengetahuan dan pengalaman industri diberikan kepada mahasiswa sebagai bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia.
Kedua kegiatan tersebut menunjukkan pendekatan Elnusa yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian pekerjaan, tetapi juga pada pemanfaatan teknologi, pengembangan kompetensi dan penguatan hubungan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
