Jakarta, TopBusiness – Tren desain properti ke depan diperkirakan semakin mengarah pada konsep hunian yang terbuka, fungsional, dan menyesuaikan karakter lingkungan tropis Indonesia. Konsep ruang yang terlalu formal serta gaya arsitektur yang terpaku pada satu aliran mulai bergeser ke desain yang lebih adaptif terhadap kebutuhan penghuni.
Marketing & Sales Director PT Alam Sutera Realty Tbk (IDX: ASRI) Lilia Sukotjo mengatakan karakter iklim tropis menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam merancang hunian.
“Yang tidak bisa dipungkiri, kita tuh wilayah tropis. Berarti cross ventilation itu definitely harus ada,” ujar Lilia dalam konferensi pers penyelenggaraan Alam Sutera Group Expo 2026 di Main Atrium 2, Lippo Mall Puri, Jakarta, Barat, Selasa (8/9/2026).
Menurut dia, tren arsitektur saat ini tidak lagi semata-mata mengikuti gaya tertentu seperti Art Deco, melainkan lebih menekankan bagaimana sebuah rumah dapat menjawab kebutuhan penghuninya dan kondisi lingkungan setempat.
“Udah gak ada yang bisa konstruktivism dan sebagainya, enggak. Tapi udah lebih kepada, dia tahu sama sekali tampaknya harus digimanain,” kata Lilia.
Ia menilai pendekatan tersebut membuat desain rumah menjadi lebih fleksibel. Arsitektur tidak lagi sekadar mengejar tampilan, tetapi harus mempertimbangkan fungsi ruang, sirkulasi udara, serta karakter iklim di lokasi pembangunan.
Salah satu perubahan yang terlihat adalah semakin ditinggalkannya ruang tamu formal yang jarang digunakan penghuni. “Jadi rumah, ruang tamu di depan itu udah ada ruang tamu, sofa, segala macam yang sepanjang hayat kosong. Gak ada yang pakai,” katanya.
Sebagai gantinya, konsep open plan dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan penghuni masa kini. Dapur, ruang keluarga, dan area aktivitas lainnya dapat dibuat lebih menyatu sehingga interaksi antaranggota keluarga menjadi lebih mudah. “Jadinya sekarang rumah lebih kepada open plan. Dapur, semuanya jadi satu,” ujar Lilia.
Menurut dia, perubahan tersebut menunjukkan bahwa rumah kini semakin dipandang sebagai ruang hidup bersama, bukan sekadar kumpulan ruangan dengan fungsi yang terpisah.
Lilia menekankan bahwa pendekatan desain tersebut tetap harus berpijak pada karakter Indonesia sebagai wilayah tropis. Karena itu, aspek seperti cross ventilation menjadi elemen penting dalam perencanaan hunian. “Harus ingat kita di daerah tropis,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, gaya arsitektur ke depan menurut dia akan semakin mengutamakan respons terhadap lingkungan dan kebutuhan penghuni dibandingkan sekadar mengadopsi gaya arsitektur tertentu.
Mengikuti Konsep Ecological Planning
Lilia juga menjelaskan bahwa pengembangan kawasan Alam Sutera tidak hanya berorientasi pada pembangunan properti, tetapi turut memperhatikan aspek lingkungan melalui pendekatan ecological planning.
Ia menyebut Alam Sutera mengikuti pemikiran Ian McHarg, tokoh yang dikenal dengan pendekatan perencanaan ekologis melalui metode overlay analysis.
“Jadi, teorinya dia, kalau kita merencanakan itu harus dengan overlay analysis,” ujar Lilia.
Menurut dia, pendekatan tersebut diterapkan agar pembangunan kawasan dapat semakin matang seiring dengan perkembangan kawasan.
Salah satu implementasinya adalah penyediaan area hijau di dalam kawasan. Alam Sutera, kata Lilia, memiliki area sekitar satu hektare yang ditanami rainbow eucalyptus dan disebut sebagai eucalyptus park.
Selain itu, di kawasan Eskala juga disiapkan area sekitar empat hektare yang dikembangkan menyerupai hutan kota.
Namun, komitmen lingkungan menurut Lilia tidak hanya diwujudkan melalui ruang terbuka hijau. Pengelolaan air hujan juga menjadi bagian dari perencanaan kawasan.
Ia menjelaskan bahwa sistem saluran air di kawasan Alam Sutera dibuat dengan ukuran yang semakin besar mengikuti aliran air. Pada bagian tertentu, saluran tersebut terhubung dengan danau yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara.
Air hujan yang masuk ke danau sebagian dapat diserap kembali ke tanah, sementara sebagian lainnya mengalir keluar. Kondisi tersebut, menurut Lilia, turut menciptakan iklim mikro di kawasan.
Respons terhadap Abu Vulkanik
Terkait kondisi abu vulkanik dari letusan Gunung Anak Krakatau, Lilia mengatakan pihaknya ikut memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan penghuni.
Menurut dia, kondisi tersebut merupakan bagian dari risiko bencana alam yang berada di luar kendali pengembang. Karena itu, masyarakat juga diharapkan memiliki kesadaran untuk mengamankan diri dan menyesuaikan aktivitas masing-masing.
Di sisi pengelolaan kawasan, aktivitas penyiraman tanaman dan sistem sprinkler tetap berjalan. Lilia mengatakan pihaknya juga terus memperhatikan kondisi tanaman di kawasan yang terdampak abu vulkanik.
“Dengan kondisi kayak begini, kita juga mengharapkan semua orang bisa tahu, tahu diri untuk kegiatannya masing-masing, mengamankan diri sendiri gimana,” ujarnya.
