Jakarta, TopBusiness – PT Elnusa Tbk (ELSA), emiten subholding upstream Pertamina, membukukan kontrak baru senilai Rp11,6 triliun sepanjang semester I 2026. Kontribusi terbesar berasal dari segmen energy distribution and logistics yang mencapai Rp9 triliun.
Direktur Elnusa Andri Haribowo mengatakan perolehan kontrak tersebut mencerminkan masih kuatnya permintaan terhadap jasa perseroan di berbagai lini bisnis energi.
“Pada semester pertama 2026, perseroan berhasil memperoleh kontrak baru senilai Rp11,6 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari segmen energy distribution and logistics sebesar Rp9 triliun, diikuti integrated upstream oil and gas services Rp1,6 triliun dan oil and gas support services Rp1 triliun,” ujar Andri dalam Public Expose Live 2026, Senin (7/9/2026).
Memasuki 2026, Elnusa membawa carryover kontrak sekitar Rp21,6 triliun. Nilai tersebut terdiri atas Rp12,3 triliun dari integrated upstream oil and gas services, Rp2,8 triliun dari oil and gas support services, serta Rp6,5 triliun dari energy distribution and logistics.
Hingga akhir semester I 2026, perseroan telah melakukan absorb kontrak sebesar Rp14,4 triliun. Dengan demikian, Elnusa menutup semester I 2026 dengan carry forward kontrak sebesar Rp18,8 triliun.
“Kontrak yang telah diperoleh dan progres absorbsi menunjukkan kemampuan Elnusa menjaga daya saing sekaligus mengonversi backlog menjadi pendapatan. Carry forward Rp18,8 triliun juga memberikan visibilitas pendapatan untuk periode berikutnya,” kata Andri.
Segmen Distribusi Energi Jadi Penopang
Dari sisi kinerja segmen, integrated upstream oil and gas services mencatat pendapatan sebesar Rp2,06 triliun dengan laba bersih Rp99 miliar. Sementara oil and gas support services membukukan pendapatan Rp110 miliar dan laba bersih Rp41,8 miliar.
Adapun segmen sales of goods and energy distribution and logistics services menjadi kontributor terbesar terhadap kinerja perseroan. Segmen ini mencatat pendapatan Rp4,92 triliun dan laba bersih Rp293 miliar.
Pendapatan segmen tersebut tumbuh 26,6% secara tahunan, sementara laba bersih meningkat 54,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi operasional, Elnusa menyelesaikan akuisisi data seismik 3D seluas 1.757 kilometer persegi dan seismik 2D sepanjang 193 kilometer selama semester I 2026.
Perseroan juga menyelesaikan wireline logging pada 662 sumur, well testing pada 3.800 sumur, serta hydraulic workover unit pada 112 sumur.
Pada bisnis distribusi energi, volume transportasi BBM yang ditangani Elnusa mencapai 14 juta kilometer.
Dorong Digitalisasi dan Teknologi
Elnusa juga terus memperkuat pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional. Salah satunya melalui penggunaan Geopon Stride Wireless Seismic Acquisition System dalam proyek seismik 2D dan 3D di area Tedong, Sulawesi Selatan.
Selain itu, perseroan mengembangkan Pertapixel, layanan geospatial digital yang mengintegrasikan drone, pemetaan udara, dan sistem informasi geografis (GIS).
Teknologi tersebut digunakan untuk mendukung pemetaan wilayah kerja, inspeksi aset, pemantauan fasilitas, hingga pengelolaan data spasial.
Di Lapangan Rama, proyek chemical enhanced oil recovery (EOR) dengan teknologi polymer flooding mulai beroperasi pada Juni 2026. Teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan recovery factor dan produksi minyak melalui optimalisasi kemampuan reservoir.
“Teknologi menjadi salah satu prioritas perseroan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas layanan. Kami terus memilih teknologi yang tepat guna dan dapat memberikan dampak langsung terhadap operasi serta nilai tambah bagi pelanggan,” ujar Andri.
Perkuat Infrastruktur Energi
Selain bisnis hulu migas, Elnusa memperluas perannya dalam pembangunan infrastruktur energi melalui sejumlah proyek strategis.
Salah satunya adalah proyek Fuel Terminal Palaran yang memiliki kapasitas penyimpanan BBM sebesar 37.500 kiloliter dalam 12 tangki. Fasilitas tersebut dilengkapi sistem perpipaan, truck loading, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Hingga Juni 2026, progres konstruksi Fuel Terminal Palaran telah mencapai sekitar 3%.
Sementara itu, Terminal LPG Kolaka memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 2 x 1.500 metrik ton dan akan beroperasi dengan skema build, operate, transfer (BOT) selama 10 tahun. Progres konstruksi proyek tersebut mencapai sekitar 15% hingga Juni 2026.
Elnusa juga melanjutkan sejumlah proyek strategis lainnya, termasuk proyek seismik darat dan lepas pantai serta proyek chemical EOR di Lapangan Rama.
“Fokus kami bukan hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi memastikan perseroan dapat menjadi strategic enabler dan efficiency partner bagi Pertamina Group serta pelanggan di sektor energi melalui operasi yang andal, efisien, dan didukung teknologi,” pungkas Andri.
