TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Daftar Proyek Aluminium China di RI, ‘Curi Start’ Sebelum Rusal

Albarsyah
8 September 2026 | 16:40
rubrik: Business Info
Anak Usaha Golden Energy Mines Dikucuri Kredit Rp2,2 Triliun dari Bank Mandiri

Ilustrasi pertambangan. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness — Rencana investasi raksasa aluminium Rusia, United Company Rusal International PJSC (Rusal), di Indonesia menambah semarak persaingan investasi di sektor hilirisasi aluminium nasional.

Presiden Prabowo Subianto pada pekan lalu mengungkapkan bahwa Rusal berminat melakukan investasi besar-besaran di Indonesia untuk membangun fasilitas pengolahan atau smelter aluminium bersama sejumlah perusahaan dalam negeri.

Prabowo menyampaikan hal tersebut ketika menjadi tamu kehormatan utama dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).

“Jadi, proyek-proyek ini berjalan sangat baik, terus maju pesat, dan kami juga terus maju pesat di bidang pengolahan, misalnya pertambangan, seperti kerja sama kami dengan entitas aluminium besar—saya kira yang terbesar di dunia—yaitu Rusal,” kata Prabowo.

Rusal merupakan salah satu produsen aluminium terbesar di dunia. Produksi aluminium perusahaan tersebut mencapai sekitar 3,91 juta ton pada 2025, atau setara sekitar 5,3% dari total produksi aluminium dunia.

Masuknya Rusal ke Indonesia akan memperkuat peta investasi asing di industri aluminium. Namun, perusahaan asal Rusia tersebut bukanlah pemain pertama yang membidik Indonesia.

Jauh sebelum rencana investasi Rusal mencuat, sejumlah perusahaan asal China telah lebih dahulu mengembangkan proyek smelter aluminium di Tanah Air.

Ekspansi Tsingshan

Salah satu perusahaan China yang cukup agresif dalam pengembangan industri hilirisasi berbasis mineral di Indonesia adalah Tsingshan Holding Group Co.

Tsingshan sebelumnya dikenal sebagai salah satu perusahaan yang berperan besar dalam perkembangan industri nikel Indonesia. Kini, perusahaan tersebut mulai memperluas jejak bisnisnya ke sektor aluminium.

Di sektor ini, Tsingshan menggandeng sejumlah perusahaan China, termasuk Huafon Group dan Xinfa Group, untuk mengembangkan fasilitas peleburan aluminium di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, serta Maluku Utara.

BACA JUGA:   Bahlil Minta Kepala Daerah Tak Persulit Perizinan Migas

Belum lama ini, Tsingshan juga dikabarkan tengah bernegosiasi dengan sejumlah perusahaan perdagangan komoditas global, yakni Mercuria Energy Group, Glencore Plc, dan Trafigura Group, untuk mengamankan investasi bagi proyek smelter aluminium baru di Indonesia yang ditaksir bernilai US$3 miliar.

Ekspansi tersebut menunjukkan bahwa industri aluminium Indonesia mulai menjadi arena baru bagi investasi perusahaan China, bahkan sebelum rencana masuknya Rusal terealisasi.

Mengutip data Fastmarkets, berikut sejumlah proyek smelter aluminium asal China yang telah beroperasi, tengah dikembangkan, maupun masih berstatus rumor di Indonesia.

1. PT Hua Chin Aluminium Indonesia

PT Hua Chin Aluminium Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi aluminium primer sekitar 500.000 ton per tahun. Kapasitas tersebut ditargetkan tetap berada di level yang sama hingga akhir 2026.

Perusahaan memiliki potensi untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga 1 juta ton per tahun.

Fasilitas tersebut berlokasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

PT Hua Chin Aluminium Indonesia merupakan perusahaan patungan antara Huafon Group Co., Ltd. dan Tsingshan Holding Group Co., Ltd.

2. Proyek Juwan

Proyek Juwan merupakan proyek smelter aluminium primer yang dikembangkan melalui perusahaan patungan antara Tsingshan dan Xinfa Group di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).

Proyek tersebut telah beroperasi dengan kapasitas produksi sekitar 250.000 ton aluminium primer per tahun.

3. Proyek Taijing

Tsingshan dan Xinfa juga mengembangkan Proyek Taijing di kawasan IMIP.

Smelter aluminium primer tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III-2026 dengan kapasitas produksi sekitar 180.000 ton per tahun.

4. Proyek Xianfeng

Proyek Xianfeng merupakan proyek smelter aluminium lain yang dikembangkan melalui usaha patungan Tsingshan dan Xinfa.

Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III-2026 dengan kapasitas awal sekitar 50.000 ton per tahun.

BACA JUGA:   Industri RI Jangan Buang Peluang Transformasi Digital

Dalam jangka panjang, proyek Xianfeng memiliki potensi kapasitas produksi hingga 250.000 ton per tahun.

5. PT Bintan Electrolytic Aluminium

PT Bintan Electrolytic Aluminium (BEA) merupakan proyek smelter aluminium yang berlokasi di Bintan Industrial Estate.

Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III-2026 dengan kapasitas produksi sekitar 250.000 ton per tahun.

Nilai investasi proyek BEA diperkirakan mencapai Rp12,3 triliun.

6. Shandong Weiqiao

Perusahaan China lainnya, Shandong Weiqiao, juga masuk dalam daftar pengembang smelter aluminium di Indonesia.

Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan memiliki potensi kapasitas produksi aluminium primer hingga 1 juta ton per tahun.

7. Nanshan Group

Shandong Nanshan juga dikabarkan tengah mengembangkan proyek smelter aluminium di Indonesia.

Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2028 dan memiliki potensi kapasitas produksi aluminium primer hingga 1 juta ton per tahun.

Fasilitas ini direncanakan berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang.

8. PT Borneo Alumindo Prima Kalimantan Utara

Proyek aluminium elektrolisis PT Borneo Alumindo Prima Kalimantan Utara masih berstatus rumor dalam data Fastmarkets.

Jika terealisasi, proyek tersebut berpotensi memiliki kapasitas produksi hingga 1 juta ton aluminium per tahun.

9. East Hope Group

East Hope Group juga tercatat dalam data Fastmarkets sebagai salah satu calon pengembang proyek aluminium di Indonesia.

Proyek tersebut masih berstatus rumor, tetapi memiliki potensi kapasitas produksi aluminium primer hingga 2,4 juta ton per tahun.

10. CMOC Group

Proyek aluminium elektrolisis CMOC Group juga masih berstatus rumor.

Proyek tersebut diperkirakan memiliki potensi kapasitas produksi hingga 2 juta ton per tahun.

CMOC Group merupakan perusahaan asal China yang telah memiliki bisnis di sektor aluminium.

BACA JUGA:   KTT APEC Summit 2023 dapat Dongkrak Perdagangan RI ke Negara APEC
11. Bosai Minerals Group

Bosai Minerals Group turut masuk dalam daftar proyek aluminium yang berpotensi dikembangkan di Indonesia.

Menurut data Fastmarkets, proyek aluminium elektrolisis milik perusahaan asal Chongqing, China, tersebut masih berstatus rumor.

Proyek tersebut memiliki potensi kapasitas produksi sekitar 1 juta ton aluminium primer per tahun.

Bosai Minerals Group sendiri merupakan perusahaan multinasional asal Chongqing yang bergerak di sektor pengolahan mineral.

China ‘Curi Start’

Deretan proyek tersebut memperlihatkan bahwa investor China telah mengambil posisi lebih awal dalam pengembangan industri aluminium Indonesia.

Jika seluruh proyek yang telah beroperasi, sedang dibangun, dan masih berupa rencana tersebut terealisasi, tambahan kapasitas produksi aluminium primer Indonesia berpotensi mencapai beberapa juta ton per tahun.

Kondisi ini membuat rencana investasi Rusal menjadi semakin menarik. Rusal harus masuk ke pasar yang sudah lebih dahulu dibidik oleh sejumlah perusahaan China dengan proyek berskala besar.

Di sisi lain, bagi Indonesia, bertambahnya minat investor global dapat memperkuat posisi negara sebagai basis produksi aluminium terintegrasi, terutama apabila pembangunan smelter diikuti dengan pengembangan sumber bahan baku, energi, hingga industri manufaktur pengguna aluminium.

Dengan demikian, persaingan antara perusahaan China dan calon investor Rusia bukan hanya soal membangun smelter, tetapi juga memperebutkan posisi dalam rantai pasok aluminium Indonesia yang berpotensi semakin strategis.

Tags: alumunium
Previous Post

ELSA Amankan Kontrak Rp11,6 Triliun, Backlog Capai Rp18,8 Triliun

Next Post

B50 Diproyeksikan Tambah Devisa RI Rp170 Triliun pada 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR