Jakarta, TopBusiness – PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAg) terus memperkuat kesiapan internal dalam menghadapi agenda Net Zero Emission (NZE) dan pengembangan green supply chain di sektor maritim serta logistik energi.
Langkah tersebut dilakukan melalui Inhouse Training bertema “Strategi Net Zero Emission & Green Supply Chain for Maritime Logistics” yang diselenggarakan pada 10–11 September 2026 di Kantor Pusat BAg, Jakarta Selatan.
Kegiatan yang digelar melalui kerja sama BAg dengan MSI Institute tersebut diikuti 14 peserta dari berbagai jenjang jabatan di BAg, mulai dari officer, assistant manager, manager, hingga vice president. Trainer dalam pelatihan ini adalah Nurdizal M. Rachman, pakar dan konsultan ESG dari PT Corebest Indonesia.
Pelatihan tersebut membahas strategi, tata kelola, dan kesiapan operasional perusahaan dalam mengintegrasikan agenda keberlanjutan dengan kebutuhan bisnis. Dalam materi yang disampaikan, Nurdizal menekankan bahwa green supply chain tidak seharusnya diposisikan sebagai program lingkungan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari strategi bisnis, pengelolaan risiko, efisiensi operasional, dan keamanan pasokan energi.
Salah satu pembahasan utama dalam pelatihan adalah dampak transisi energi PLN dan perkembangan agenda dekarbonisasi International Maritime Organization (IMO) terhadap masa depan bisnis logistik energi BAg.
Materi pelatihan menyoroti target Indonesia untuk mencapai NZE pada 2060 serta Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. Dalam rencana tersebut, terdapat target penambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 gigawatt (GW), dengan sekitar 76% berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi.
Menurut Nurdizal, perubahan arah sistem energi tersebut berpotensi memengaruhi komposisi angkutan, kebutuhan armada, jenis komoditas energi, serta pengembangan layanan logistik BAg. Karena itu, perusahaan perlu menyiapkan skenario bisnis yang mampu merespons perubahan kebutuhan energi, sekaligus mempertahankan keandalan pasokan selama masa transisi.
Dari sisi maritim, pelatihan juga membahas IMO 2023 GHG Strategy, termasuk instrumen Energy Efficiency Existing Ship Index (EEXI), Carbon Intensity Indicator (CII), Ship Energy Efficiency Management Plan (SEEMP), dan Data Collection System (DCS). Berbagai ketentuan tersebut mendorong perusahaan pelayaran untuk meningkatkan efisiensi energi, memperkuat pengelolaan data, serta mengendalikan emisi dari kegiatan operasional kapal.
“Green supply chain harus membantu BAg memenuhi seluruh misi secara bersamaan, bukan hanya menjadi agenda lingkungan,” ujar Nurdizal.
BAg memiliki visi 2028 untuk menjadi perusahaan pelayaran global dalam solusi logistik energi primer terintegrasi. Visi tersebut perlu didukung oleh penguatan keandalan layanan, diversifikasi usaha, kapabilitas teknologi, tata kelola, dan keberlanjutan.
Sedangkan pengembangan green supply chain diarahkan untuk mendukung empat pilar strategi BAg 2025, yaitu Securing Business Sustainability, Developing New Edge, Excellence Operation & Cost Optimization, serta Leading Industry Capability.
Berdasarkan kinerja 2025, BAg mencatat pendapatan usaha sebesar Rp 6,24 triliun dan mengangkut 42,01 juta metrik ton batubara. Perusahaan juga membukukan tingkat ketepatan waktu pengiriman sebesar 100% serta mencatat empat pengiriman ocean-going ke Filipina dan Vietnam.
Portofolio BAg yang mencakup batubara, bahan bakar minyak, CNG dan LNG, layanan terintegrasi, serta pasar kawasan ASEAN membuat strategi keberlanjutan perlu dirancang secara menyeluruh. Agenda dekarbonisasi tidak hanya berkaitan dengan emisi kapal, tetapi juga dengan pengelolaan aset, pengadaan, pemasok, kontrak, dan efisiensi rantai nilai.
Pemetaan Emisi dan Kesiapan Sistem
Pelatihan tersebut juga membahas pemetaan emisi berdasarkan Scope 1, Scope 2, dan Scope 3. Berdasarkan data BAg 2025 yang tercantum dalam materi, emisi Scope 1 mencapai 228.424,43 ton CO₂e, Scope 2 sebesar 201,45 ton CO₂e, dan Scope 3 sebesar 104,18 ton CO₂e.
Namun, cakupan Scope 3 tersebut baru mencakup perjalanan dinas. Oleh karena itu, kata Nurdizal, diperlukan pemetaan lebih lanjut terhadap aktivitas rantai nilai, batas organisasi, kendali operasional, kontrak, serta hubungan dengan pemasok dan mitra usaha.
Nurdizal juga menekankan agar BAg tidak membangun sistem hijau secara terpisah. Agenda green supply chain perlu diintegrasikan dengan sistem manajemen yang telah berjalan, antara lain ISO 9001, ISO 14001, ISO 45001, ISM Code, ISO 55001, ISO 37001, ISO 37301, ISO 31000, serta mekanisme manajemen risiko dan assurance.
Dalam aspek eksekusi, kata dia, perusahaan perlu memastikan kejelasan outcome owner, process owner, dan data owner. Setiap program juga harus melewati tahapan kesiapan yang mencakup sumber daya manusia, kompetensi, SOP, data, teknologi, anggaran, kontrak, dan pengendalian risiko.
Melalui pelatihan ini, BAg diarahkan untuk menghubungkan agenda NZE dengan keandalan layanan, efisiensi biaya, kesiapan armada, pengelolaan risiko, dan keberlanjutan bisnis logistik energi.
