Jakarta, TopBusiness – PT BPR Bank Tulungagung Perseroda memperkuat pengelolaan sumber daya manusia (SDM) melalui pengembangan kompetensi, penguatan budaya kerja, dan digitalisasi proses human capital. Strategi tersebut diarahkan untuk mendukung kualitas layanan, produktivitas, serta pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Direktur Utama Bank Tulungagung, Suhermin, S.E., M.M., mengatakan, penguatan budaya kerja menjadi bagian penting dalam menjaga integritas dan kualitas pelayanan kepada nasabah. Menurutnya, nilai-nilai tersebut perlu menjadi bagian dari perilaku seluruh karyawan, mengingat bisnis perbankan bertumpu pada kepercayaan.
Salah satu penerapannya dilakukan melalui budaya kerja 6S, yaitu senyum, salam, sapa, sopan, santun, dan solutif. Suhermin menjelaskan, setiap nasabah yang datang harus mendapatkan solusi, baik nasabah tabungan, deposito, maupun kredit.
“Jadi setiap nasabah yang datang ke kita itu harus ada solusinya, entah itu yang menabung, ataupun yang deposit, atau yang mengajukan kredit,” ujar Suhermin dalam sesi pendalaman penjurian TOP Human Capital Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Jumat (18/9/2026)
Untuk memperkuat integritas, Bank Tulungagung juga menyelenggarakan doa bersama setiap pagi. Kegiatan tersebut dilengkapi dengan aktivitas keagamaan dan pengawasan pekerjaan oleh para pemimpin unit. Suhermin menekankan, pengawasan diperlukan untuk menutup celah yang berpotensi menimbulkan penyimpangan.
Pengembangan Kompetensi Sejak Rekrutmen
Suhermin menambahkan, penguatan kualitas SDM dilakukan sejak proses penerimaan pegawai. Karyawan baru mengikuti edukasi dan pelatihan selama kurang lebih satu bulan untuk mempersiapkan kesiapan mental dan fisik sebelum menjalankan tugas.
Pelatihan tersebut mencakup service excellence, penanganan nasabah, komunikasi melalui telepon, hingga pengelolaan situasi ketika menghadapi nasabah yang marah. Bank juga melakukan penilaian psikologis untuk memahami karakter calon pegawai dan kesiapan mereka menghadapi situasi pelayanan.
Selain kompetensi teknis, perhatian diberikan pada kesejahteraan dan kesehatan mental karyawan. Bank Tulungagung menghadirkan psikolog untuk memberikan edukasi mengenai pengelolaan tekanan dan emosi dalam menghadapi tantangan pekerjaan.
Dari sisi kesejahteraan, Suhermin menjelaskan, perusahaan menyediakan sejumlah dukungan, termasuk pemeriksaan kesehatan gratis tahunan melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan, fasilitas BPJS, dan program DPLK bagi karyawan menjelang masa purnatugas.
Strategi HC Berbasis KPI dan Digitalisasi
Sementara itu, Manajer Human Capital Bank Tulungagung, Yuyun Lastianto, S.H., dalam presentasi penjurian TOP Human Capital Awards 2026 memaparkan pengelolaan human capital yang selaras dengan strategi bisnis perusahaan.
Dalam materi presentasinya, Bank Tulungagung menempatkan Performance Management berbasis Key Performance Indicators (KPI), pengembangan talenta, dan regenerasi SDM sebagai sejumlah inisiatif yang menonjol.
Pengukuran kinerja dilakukan melalui pencatatan pekerjaan harian, mingguan, dan bulanan. Hasil pencatatan tersebut direkap menjadi pencapaian KPI setiap pegawai atau unit. Karyawan yang belum mencapai target dapat memperoleh coaching, pendampingan, pelatihan, atau perbaikan proses kerja.
Pada aspek pengembangan talenta, Bank Tulungagung mengidentifikasi pegawai berdasarkan kinerja, kompetensi, dan potensi pengembangan. Pegawai yang dinilai potensial dapat diberikan tanggung jawab tambahan, pengalaman di unit lain, serta pendampingan untuk mempersiapkan kesiapan karier.
Bank juga menjalankan program pelatihan dan sertifikasi kompetensi. Yuyun menjelaskan, setiap tahun perusahaan menyusun laporan GCG yang memuat kompetensi dan pelatihan yang telah diikuti karyawan untuk dilaporkan kepada OJK. Seluruh pejabat juga diwajibkan memiliki sertifikasi BNSP.
Dalam sesi pendalaman, Suhermin menjelaskan bahwa pembelajaran pascapelatihan dilakukan melalui kegiatan berbagi pengetahuan dan diskusi bersama unit terkait. Materi yang diperoleh dari praktisi atau perusahaan lain tidak langsung diterapkan seluruhnya, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan budaya kerja Bank Tulungagung.
Pada sisi digitalisasi, Bank Tulungagung mengembangkan dashboard karyawan yang memuat informasi perjalanan pegawai, mulai dari tahun masuk, posisi, mutasi, pelatihan, prestasi, hingga catatan kesalahan dan sanksi. Data tersebut mendukung pemantauan kompetensi dan pengelolaan SDM.
Digitalisasi juga diterapkan dalam analisis kredit, absensi, monitoring kredit, pengambilan jaminan nasabah, serta pemesanan alat tulis kantor. Perusahaan turut memperhatikan pengelolaan akses sistem, termasuk penyesuaian hak akses ketika pegawai berpindah jabatan atau keluar dari perusahaan.
Melalui penguatan budaya kerja, pengembangan kompetensi, dan pemanfaatan teknologi, Bank Tulungagung mengarahkan pengelolaan human capital untuk mendukung kualitas pelayanan dan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Penguatan Human Capital tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan kinerja bisnis Bank Tulungagung. Berdasarkan data dalam materi presentasi penjurian, total pendapatan meningkat dari Rp 30,77 miliar pada 2024 menjadi Rp 38,01 miliar pada 2025. Sementara itu, laba bersih naik dari Rp 6,40 miliar menjadi Rp 9,65 miliar.
Dari sisi penyaluran kredit, kredit yang diberikan Bank Tulungagung meningkat dari sekitar Rp179,14 miliar pada 2024 menjadi Rp183,27 miliar pada 2025.
Dengan pencapaian dan inovasi di bidang SDM tersebut, Bank Tulungagung kembali terpilih menjadi kandidat peraih TOP Human Capital Awards 2026.
