TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pertamina EP Regional 1 Berhasil Tajak Sumur BNN-F, Hasil Uji Capai 1.765 BOPD

Albarsyah
18 September 2026 | 14:25
rubrik: BUMN
Pertamina EP Regional 1 Berhasil Tajak Sumur BNN-F, Hasil Uji Capai 1.765 BOPD

Jakarta, TopBusiness — PT Pertamina EP Regional 1 bersama mitra KSO Bass Oil Sukananti Limited (KSO BOSL) berhasil menyelesaikan pengeboran Sumur Pengembangan BNN-6, yang sebelumnya ditajak dengan nama BNN-F, di Struktur Bunian, Desa Tanjung Miring, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Pengeboran sumur tersebut dimulai pada 5 Juni 2026 sebagai bagian dari pelaksanaan Program Komitmen Pasti KSO BOSL. Sumur BNN-6 dibor secara directional hingga mencapai kedalaman akhir sekitar 1.807 meter measured depth (MD), dengan sasaran reservoir pada Formasi Talang Akar.

Berdasarkan hasil pengeboran dan evaluasi formasi, tim mengidentifikasi zona hidrokarbon baru pada salah satu interval target yang sebelumnya belum pernah diproduksikan.

Temuan tersebut kemudian dikonfirmasi melalui rangkaian pengujian produksi (well testing). Pada pengujian awal yang berlangsung 8–10 September 2026, interval tersebut menghasilkan laju alir sementara sebesar 1.257 barel minyak per hari (BOPD) pada bukaan choke 10,5 milimeter atau 26/64 inci, dengan rata-rata Tubing Head Pressure (THP) sekitar 440 psi.

Evaluasi dilanjutkan melalui well testing pada 14–15 September 2026 dengan beberapa variasi bukaan choke, masing-masing selama delapan jam.

Pada bukaan choke 8,3 milimeter, sumur menghasilkan laju alir sebesar 1.329 BOPD dengan water cut 0 persen, Gas Oil Ratio (GOR) 508 standard cubic feet per stock tank barrel (scf/stb), dan THP 449 psi.

Sementara itu, pada bukaan choke 12,7 milimeter, laju alir meningkat menjadi 1.765 BOPD dengan water cut 5 persen, GOR 368 scf/stb, dan THP 422 psi.

Hasil pengujian tersebut menunjukkan adanya indikasi kemampuan alir (deliverability) yang baik pada interval yang diuji dalam beberapa kondisi bukaan choke. Namun, angka tersebut masih merupakan hasil uji alir dan belum dapat langsung disamakan dengan laju produksi optimum atau produksi berkelanjutan.

BACA JUGA:   SHS Ekspor Beras ke Arab Saudi

Capaian tertinggi sementara sebesar 1.765 BOPD tersebut setara dengan sekitar 141 persen dari target 1.250 BOPD. Selanjutnya, hasil well testing akan dievaluasi lebih lanjut untuk menentukan laju produksi optimum dengan mempertimbangkan karakteristik reservoir, respons tekanan, serta keberlanjutan produksi dalam jangka panjang.

Selain interval yang telah diuji, evaluasi sumur juga mengidentifikasi dua interval potensial lainnya yang masih dapat diuji pada tahapan berikutnya.

Desain komplesi Sumur BNN-6 memungkinkan pengujian masing-masing interval secara segregated melalui pengoperasian Sliding Side Door (SSD). Dengan skema tersebut, karakteristik dan kemampuan produksi setiap interval dapat dievaluasi secara individual sebelum ditentukan strategi produksi, termasuk kemungkinan commingling, sesuai hasil evaluasi teknis.

Keberhasilan Sumur BNN-6 menjadi bagian penting dalam upaya pengembangan Struktur Bunian karena tidak hanya memberikan potensi tambahan produksi, tetapi juga membuka peluang pengembangan reservoir yang sebelumnya belum berkontribusi terhadap produksi struktur tersebut.

Data hasil pengeboran, logging, dan well testing selanjutnya akan menjadi basis untuk memperbarui pemahaman kondisi subsurface serta menentukan strategi pengurasan reservoir yang optimal.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan bahwa tahapan operasi berikutnya akan difokuskan pada evaluasi menyeluruh terhadap hasil well testing, pengujian interval potensial lainnya secara bertahap, serta penentuan operating choke dan laju produksi optimum.

“Operasi berikutnya difokuskan pada evaluasi hasil well test secara menyeluruh, pengujian interval potensial lainnya secara bertahap, serta penentuan operating choke dan laju produksi optimum, sehingga tambahan produksi dapat diperoleh dengan tetap menjaga pressure behavior dan kualitas reservoir dalam jangka panjang,” tegas Djoko Siswanto.

Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan pengembangan lapangan melalui pengeboran dan evaluasi reservoir secara bertahap dapat membuka peluang tambahan sumber daya dan produksi dari interval reservoir yang sebelumnya belum dikembangkan.

Tags: pertamina ep
Previous Post

MCR Bangun RASA Academy untuk Cetak Talenta Unggul Berkelas Global

Next Post

Kembangkan Bisnis, ADES Bentuk Anak Usaha di Bidang Perdagangan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR