Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Selasa (22/9/2026) di zona hijau. IHSG dibuka menguat 7,61 poin atau 0,12 persen ke level 6.392,34, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.384,73.
Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 justru bergerak melemah tipis. LQ45 turun 0,22 poin atau 0,03 persen ke posisi 634,07.
Pada sekitar pukul 09.00 WIB, aktivitas perdagangan saham di BEI tercatat cukup ramai. Volume transaksi mencapai sekitar 670,15 juta saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp285,59 miliar dan frekuensi perdagangan sebanyak 52.330 kali.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan IHSG pada awal perdagangan berlangsung di tengah aktivitas jual beli yang cukup aktif. Pelaku pasar masih melakukan aksi selektif di tengah beragam sentimen eksternal dan domestik.
Sekitar pukul 09.05 WIB, IHSG bergerak lebih tinggi ke level 6.397,42 atau menguat 0,20 persen. Pada fase awal perdagangan tersebut, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.412,67 dan level terendah 6.392,30.
Seiring berjalannya perdagangan, volume transaksi meningkat menjadi sekitar 1,80 miliar saham dengan nilai transaksi Rp683,43 miliar dan frekuensi mencapai 125.380 transaksi. Pada saat itu, sebanyak 281 saham menguat, 176 saham melemah, sedangkan 229 saham bergerak stagnan.
Penguatan IHSG pada awal perdagangan terjadi di tengah sentimen positif dari pasar saham global. Wall Street pada perdagangan Senin (21/9) ditutup menguat, dengan S&P 500 naik 1,49 persen, Nasdaq Composite meningkat 2,26 persen, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,71 persen.
Pergerakan positif bursa saham Amerika Serikat memberikan sentimen eksternal yang relatif mendukung bagi pasar saham Asia, termasuk Indonesia.
Investor domestik juga mencermati pergerakan imbal hasil US Treasury, harga minyak dunia, perkembangan geopolitik, serta arah kebijakan bank sentral global.
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 22–23 September 2026.
Pasar menantikan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia serta langkah bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ekspektasi terhadap kebijakan moneter tersebut berpotensi memengaruhi aliran dana investor ke pasar saham dan pasar keuangan domestik.
Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati meskipun IHSG berhasil dibuka di zona positif.
Analisis pergerakan IHSG
Secara teknikal, penguatan pada awal perdagangan dapat dilihat sebagai upaya rebound setelah IHSG pada perdagangan Senin (21/9) ditutup melemah 0,88 persen ke level 6.384,73.
Kenaikan IHSG pada awal sesi menunjukkan munculnya minat beli setelah koreksi perdagangan sebelumnya. Namun, pelemahan indeks LQ45 menunjukkan bahwa penguatan IHSG belum sepenuhnya diikuti oleh saham-saham berkapitalisasi besar.
Pergerakan IHSG di atas level 6.400 menjadi salah satu area yang perlu diperhatikan investor sepanjang perdagangan. Kemampuan indeks bertahan di atas level tersebut dapat menjadi indikasi bahwa minat beli masih cukup kuat.
Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat dan IHSG bergerak di bawah level pembukaan, pasar berpotensi kembali menguji area support yang berada di bawah level 6.400.
Sejumlah analis yang dikutip dalam pemberitaan pasar memperkirakan IHSG masih berpeluang bergerak sideways dengan kecenderungan melemah, meskipun terdapat peluang technical rebound setelah koreksi sebelumnya. Area support dan resistance yang menjadi perhatian pelaku pasar antara lain 6.320 sebagai support dan 6.451 sebagai resistance.
Pergerakan IHSG pada perdagangan Selasa juga akan sangat dipengaruhi oleh saham-saham berkapitalisasi besar. Investor perlu mencermati arah pergerakan saham perbankan, telekomunikasi, komoditas, serta saham dengan bobot besar dalam indeks.
Jika saham-saham big caps mampu bergerak menguat secara bersamaan, kenaikan IHSG berpeluang memperoleh dukungan yang lebih luas. Sebaliknya, apabila saham berkapitalisasi besar kembali mengalami tekanan jual, penguatan indeks berpotensi tertahan meskipun sejumlah saham lapis kedua dan ketiga bergerak positif.
Data AI
