TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Tekanan Jual Meningkat, IHSG Ditutup Melemah

Agus Haryanto
25 September 2026 | 16:27
rubrik: Capital Market
FOTO2 BURSA EFEK

Ilustrasi harga saham di Bursa Efek Indonesia. FOTO: Rendy MR/TopBusiness

Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Jumat (25/9/2026). IHSG melemah 56,71 poin atau 0,90% ke level 6.241,89.

Tekanan jual semakin terlihat setelah pada sesi pertama IHSG telah terkoreksi 34,88 poin atau 0,55% ke 6.263,73. Pada sesi pertama, sebanyak 540 saham berada di zona merah, sementara hanya 148 saham menguat dan 275 saham stagnan.

Pada perdagangan penuh hari ini, sebanyak 118 saham menguat, 558 saham melemah, dan 117 saham stagnan. Total volume transaksi mencapai sekitar 32,65 miliar saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp9,21 triliun.

Salah satu faktor yang membuat tekanan terhadap IHSG belum mereda adalah arus dana asing. Pada perdagangan Kamis (24/9), investor asing mencatat net sell sekitar Rp1,42 triliun di pasar reguler dan sekitar Rp1,49 triliun di seluruh pasar.

BMRI dan BBRI menjadi dua saham yang paling banyak dilepas asing. Dalam sepekan hingga perdagangan 24 September, net sell asing di BMRI mencapai sekitar Rp886,53 miliar, sedangkan BBRI sekitar Rp645,12 miliar.

Tekanan tersebut terjadi setelah IHSG pada Kamis sebelumnya juga merosot 1,20% ke level 6.298,61. Pada hari tersebut, BMRI turun 2,86% menjadi Rp4.070, BBNI turun 1,95% menjadi Rp3.520, BBRI turun 1,57% menjadi Rp3.140, dan BBCA turun 1,19% menjadi Rp6.225.

Selain faktor domestik, pergerakan IHSG juga masih dibayangi sentimen global. Rupiah pada Kamis melemah sekitar 0,55% ke Rp17.916 per dolar AS, sementara kenaikan yield US Treasury meningkatkan tekanan terhadap aset-aset pasar berkembang.

Kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian investor karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve.

BACA JUGA:   Sesi Penutupan Perdagangan Senin, IHSG di Zona Merah

Sementara dari dalam negeri, Bank Indonesia telah mempertahankan BI-Rate pada level 5,75%. Kebijakan tersebut sempat memberikan sentimen positif kepada saham perbankan, tetapi dampaknya dinilai terbatas karena sudah diantisipasi oleh pasar.

Fase Risk-Off

Penurunan IHSG sebesar 0,90% pada Jumat menunjukkan bahwa tekanan jual belum sepenuhnya berakhir. Dari 558 saham yang turun berbanding 118 saham yang naik, terlihat bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada segelintir saham, tetapi relatif luas di pasar.

Sektor perbankan menjadi perhatian utama karena memiliki bobot besar terhadap IHSG. Ketika saham seperti BMRI, BBRI, BBCA dan BBNI mengalami tekanan secara bersamaan, dampaknya terhadap indeks menjadi lebih besar dibandingkan pergerakan saham berkapitalisasi kecil.

Tekanan asing juga memperkuat kondisi tersebut. Aksi net sell yang berulang pada saham-saham bank besar menunjukkan investor asing masih melakukan pengurangan eksposur terhadap aset domestik. Sebelumnya, analis menilai pelemahan saham bank besar lebih mencerminkan kombinasi risk-off, profit taking, tekanan rupiah, kenaikan yield obligasi AS, dan arus dana asing, bukan semata-mata perubahan fundamental sektor perbankan.

Secara teknikal, posisi IHSG di 6.241,89 juga penting karena sebelumnya sejumlah analis menempatkan area 6.200–6.280 sebagai zona support. BNI Sekuritas sebelumnya memperkirakan support IHSG berada di 6.220–6.280 dan resistance di 6.300–6.330.

Artinya, penutupan di 6.241,89 membuat area 6.200–6.220 menjadi zona yang perlu dicermati pada perdagangan berikutnya. Apabila tekanan jual berlanjut dan area tersebut ditembus, pasar akan menghadapi risiko pelemahan lanjutan. Sebaliknya, kemampuan IHSG bertahan di atas area tersebut dapat menjadi indikasi bahwa tekanan jual mulai mereda.

Dengan demikian, arah IHSG pada perdagangan selanjutnya kemungkinan masih akan sangat dipengaruhi oleh arus dana asing, pergerakan rupiah, yield US Treasury, harga minyak, serta respons investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar.

BACA JUGA:   Konsorsium Petrosea Kantongi Kontrak LNG Abadi Masela Rp989 Miliar

Di tengah kondisi tersebut, investor perlu memperhatikan bahwa volatilitas pasar masih tinggi. Pergerakan saham individual dapat berbeda dengan arah IHSG, sehingga data fundamental, valuasi, likuiditas, serta perkembangan sentimen global dan domestik tetap perlu diperhatikan secara terpisah.

Data AI

Tags: ihsgindeksJCI
Previous Post

AsetKu Perkuat Transformasi Human Capital, Fokus pada Talenta, Digitalisasi, dan Employee Experience

Next Post

Hutama Karya Bangun Integrated Building di Bandara Soekarno-Hatta

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR