Jakarta, TopBusiness — Aktivitas di rig eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) tidak hanya berkaitan dengan pengeboran dan peralatan berat. Di balik kesibukan para pekerja yang menjalankan operasi selama 24 jam, ada aktivitas lain yang tak kalah penting: memastikan kebutuhan makan dan minum ratusan pekerja tetap terpenuhi.
Hal itu terlihat di lokasi eksplorasi North East Tugu (NET-001), Desa Jatisura, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Di lokasi tersebut, layanan penyediaan makanan dan akomodasi dijalankan oleh PT Patra Drilling Contractor (PDC) melalui unit bisnis Food Lodging Services (FLS). PDC merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa penunjang industri migas dan berada dalam ekosistem Subholding Upstream Pertamina.
Di tengah area operasi rig, dapur PDC bekerja mengikuti ritme kerja para pekerja yang terbagi dalam sejumlah shift. Setidaknya terdapat sekitar 180 hingga 200 pekerja, baik dari Pertamina maupun mitra kerja, yang membutuhkan layanan konsumsi setiap hari.
Tidak hanya tiga kali makan, layanan katering di lokasi ini diberikan hingga empat kali dalam sehari.
“Di sini empat kali pelayanan, breakfast, lunch, dinner, dan supper atau tengah malam. Karena di sini kerjanya ada shift malam, supper itu biasanya jam 11-an malam sudah disediakan,” ujar Dhandy Yaneldo, Area Coordinator Food Lodging Services (FLS) Jawa PDC di Sumur NET-001, Indramayu, Jumat, 25 September 2026.
Dari Dapur hingga Meja Makan Pekerja
Memenuhi kebutuhan makanan bagi ratusan pekerja di tengah operasi rig tentu membutuhkan pengelolaan yang tidak sederhana. Selain memastikan makanan tersedia tepat waktu, PDC juga harus memperhatikan kualitas bahan baku, kebersihan, penyimpanan, hingga keamanan makanan.
Rantai pasok pun sebisa mungkin melibatkan sumber daya dari wilayah sekitar.
Dhandy mengatakan sejumlah bahan kebutuhan dapur diperoleh dari daerah setempat.
“Kita biasanya beras dari Indramayu, dan air isi ulang,” jelasnya.
Pemanfaatan bahan dan tenaga kerja lokal menjadi bagian dari aktivitas operasional layanan katering di lokasi tersebut. Dengan demikian, keberadaan kegiatan eksplorasi migas tidak hanya berkaitan dengan aktivitas utama di sektor hulu, tetapi juga menciptakan kebutuhan terhadap berbagai jasa penunjang di sekitar wilayah operasi.
Dapur yang Bekerja Mengikuti Shift
Sistem kerja di dapur juga disesuaikan dengan pola kerja di rig. Ketika sebagian pekerja menjalankan tugas pada malam hari, dapur tetap harus beroperasi untuk memastikan kebutuhan konsumsi mereka tersedia.
Karena itu, pembagian tugas dilakukan berdasarkan jam dan shift yang telah ditentukan.
Supper menjadi salah satu layanan yang membedakan pola katering di lokasi operasi migas dengan layanan makan pada umumnya. Hidangan tengah malam disiapkan untuk pekerja yang masih menjalankan aktivitas selama shift malam.
Di balik penyajian makanan tersebut, terdapat prosedur yang diterapkan untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan.
Salah satunya adalah penyimpanan sampel makanan setiap kali pelayanan.
“Kami di sini setiap makan, kita pakai sampel, kita simpan dua hari baru kita buang. Kita simpan di ruang freezer supaya lebih awet, bukan di chiller,” kata Dhandy.
Penyimpanan sampel tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi apabila di kemudian hari terjadi persoalan yang berkaitan dengan makanan yang telah disajikan.
Chef dan Cook Dibekali Sertifikasi
Pengelolaan dapur di area operasi juga tidak hanya mengandalkan pengalaman. PDC menerapkan sertifikasi kompetensi bagi tenaga kerja yang menangani makanan.
Chef, cook hingga baker didorong memiliki kompetensi yang tersertifikasi melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Selain itu, unit bisnis FLS juga menerapkan standar ISO dalam pengelolaan layanan.
Kompetensi tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari pemeliharaan kualitas produk makanan, pengendalian penggunaan dan penyimpanan bahan makanan, hingga upaya mengurangi food waste.
Para pekerja dapur juga dibekali kemampuan dalam menyiapkan berbagai set menu sesuai kebutuhan pekerja di lokasi operasi.
“Chef kita atau cook kita sudah memiliki sertifikasi di BNSP dan juga ISO. Soal higienis kita diskusi dengan Kemenkes,” ujar Dhandy.
Perhatian pada Alergen dan Keamanan Pangan
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah kebutuhan khusus terkait makanan.
Tidak semua orang dapat mengonsumsi jenis makanan yang sama. Karena itu, terdapat pantangan makanan tertentu yang dikategorikan sebagai alergen dan perlu diperhatikan dalam penyusunan menu.
Pengelolaan menu dilakukan dengan mengacu pada format dan standar gizi yang telah ditetapkan. Hal ini menjadi bagian dari upaya memastikan makanan yang disajikan tidak hanya tersedia dalam jumlah cukup, tetapi juga memperhatikan kebutuhan dan keamanan konsumen.
Di balik aktivitas pengeboran yang terlihat dari permukaan, ternyata terdapat rangkaian pekerjaan lain yang berjalan tanpa henti.
Ketika mesin dan peralatan rig terus bekerja, dapur pun tetap menyala. Dari pengadaan bahan makanan, proses memasak, penyimpanan sampel, hingga penyajian empat kali sehari, seluruhnya menjadi bagian dari rantai pendukung yang memastikan ratusan pekerja di Sumur NET-001 dapat menjalankan tugasnya selama 24 jam.
Bagi para pekerja di lokasi eksplorasi, makanan bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Di tengah jadwal kerja yang terbagi dalam shift dan lingkungan kerja dengan tuntutan operasional tinggi, layanan katering menjadi salah satu bagian penting yang menopang aktivitas di lapangan.
