Jakarta, TopBusiness – Siapa sangka sampah yang selama ini dianggap sebagai persoalan justru bisa berubah menjadi sumber energi, pupuk, hingga menghasilkan buah anggur bernilai ekonomi tinggi?
Kisah itu tumbuh di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Di tengah geliat operasional Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB), masyarakat desa perlahan membangun sebuah ekosistem ekonomi sirkular yang mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai.
Di balik perubahan tersebut, terdapat peran pendampingan Pertamina EP Cepu (PEPC) yang telah berjalan sejak 2017 melalui Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSMKH).
Bermula dari keresahan warga terhadap persoalan sampah, BSMKH kini berkembang menjadi wadah pemberdayaan masyarakat yang memiliki beragam inovasi. Sampah organik diolah menggunakan maggot, sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual dipasarkan kembali, sementara sampah yang tidak bernilai ekonomis diolah menjadi bahan bakar alternatif setara solar yang oleh warga disebut Pertasol.
Ketua BSMKH Desa Sendangharjo, Ujang Surya Abdillah, mengatakan pendampingan PEPC telah memberikan perubahan signifikan terhadap pengelolaan sampah di desanya. “Kami didampingi Pertamina sejak 2017 sampai sekarang. Sampah organik kami urai dengan maggot. Untuk sampah anorganik yang masih layak kami jual, yang tidak layak kami olah menjadi BBM alternatif setara solar, kami sebutnya Pertasol untuk operasional bank sampah,” kata Ujang kepada tim media saat berkunjung ke BSMKH Desa Sendangharjo, Selasa (22/9).
Dukungan tersebut tidak hanya berupa pendampingan. PEPC turut memperkuat sarana dan kapasitas BSMKH melalui penyediaan armada transportasi, pembangunan gudang, hingga berbagai pelatihan bagi masyarakat.
Kini, sekitar 450 kepala keluarga telah menjadi anggota bank sampah. “Dukungan Pertamina sangat membantu masyarakat desa, saat ini sudah 450-an KK yang menjadi anggota bank sampah,” ujarnya.
Inovasi BSMKH ternyata tidak berhenti pada pengolahan sampah.
Limbah organik yang telah melalui proses penguraian oleh maggot menghasilkan kasgot atau bekas maggot. Material tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai media tanam.
Dari sinilah ide baru muncul.
Sejak November 2025, masyarakat Sendangharjo mulai membudidayakan tanaman anggur dengan memanfaatkan kasgot sebagai salah satu media tanam. Tanaman yang tumbuh subur itu kini tidak hanya menghasilkan buah, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan wisata baru bagi masyarakat.
Berbagai varietas anggur dari sejumlah negara dikembangkan di kebun tersebut. “Jenis anggurnya dari Amerika, Italia, Australia, Rusia. Setahun bisa tiga kali panen. Kita baru panen perdana mendapatkan 120 kilogram dengan harga Rp110 ribu per kilogram,” tutur Ujang.
Kebun anggur itu kemudian dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi bertajuk Wisata Petik Anggur.
Konsepnya pun dibuat berbeda. Pengunjung tidak harus membayar tiket menggunakan uang. Mereka cukup membawa lima botol plastik bekas sebagai tiket masuk.
Sederhana, tetapi sarat pesan: semakin banyak sampah yang dikumpulkan, semakin besar pula manfaat yang bisa dihasilkan.
Dari sampah, warga mendapatkan lingkungan yang lebih bersih. Dari pengolahan sampah lahir pupuk. Dari pupuk tumbuh anggur. Dan dari kebun anggur muncul peluang wisata dan pendapatan baru.
Kreativitas warga Sendangharjo juga merambah ke persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Diinisiasi salah satu penggerak BSMKH, Imam Mukhlas, masyarakat diajak menghubungkan kebiasaan memilah dan menabung sampah dengan kewajiban membayar PBB.
Program tersebut kemudian dikenal sebagai “Nabung Sampah untuk Bayar Pajak.”
Imam menjelaskan, masyarakat terlebih dahulu memilah sampah dari rumah. Sampah yang memiliki nilai ekonomi kemudian ditabung melalui bank sampah.
Penimbangan dilakukan secara berkala, kemudian nilai tabungan sampah selama setahun diakumulasikan dan disandingkan dengan kewajiban PBB masing-masing warga.
“Kami sosialisasikan ke rumah tangga untuk mulai memilah sampah. Sampah rongsok di sekitar rumah kami manage dan sandingkan dengan Pajak Bumi dan Bangunan di pedesaan,” jelas Imam.
Menurut dia, PBB yang dibayarkan setahun sekali memiliki nilai relatif terjangkau bagi sebagian warga. Karena itu, tabungan sampah yang dikumpulkan secara berkala dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kewajiban tersebut. “Tabungan sampah dua bulan sekali, dikali 12 bulan berarti ada enam kali penimbangan. Akumulasi dari tabungan sampah itu kami sandingkan dengan jumlah pajak yang harus dibayar warga. Ternyata hasilnya menyenangkan, dari tabungan sampah mereka, mencukupi untuk bayar PBB selama setahun,” tuturnya.
Program tersebut memperlihatkan bagaimana sampah tidak lagi dipandang sekadar barang buangan. Ketika dikelola dengan sistem yang tepat, sampah dapat menjadi aset ekonomi rumah tangga.
Bagi PEPC Zona 12, keberadaan BSMKH tidak sekadar menjadi bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan.
Hubungan yang terbangun justru diarahkan menjadi kolaborasi berkelanjutan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Head of Communications Relations & CID PEPC Zona 12, Weanny Hikmat, mengatakan interaksi dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun hubungan dengan para pemangku kepentingan.
Pendampingan masyarakat juga menjadi ruang bagi PEPC untuk menyampaikan informasi mengenai aktivitas industri hulu migas secara terbuka dan berkelanjutan. “Selama berinteraksi dengan para petani, kami juga sekaligus memberikan pemahaman mengenai aktivitas hulu migas, seperti flaring, keselamatan, itu kita sampaikan secara kontinyu ke bapak-bapak ini,” papar Weanny.
Menurut dia, masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai kondisi yang mungkin mereka temui di sekitar wilayah operasi, termasuk ketika terjadi aktivitas tertentu di lapangan. “Kita sounding misalnya kalau nanti di lapangan dengar suara gemuruh atau api lebih besar, nah bapak-bapak ini juga jadi perpanjangan kami untuk menyampaikan itu ke masyarakat,” lanjutnya.
Dengan pola komunikasi tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi juga menjadi bagian dari hubungan dua arah antara perusahaan dan lingkungan sekitar.
Ketika Sampah Menjadi Cerita tentang Masa Depan
Kisah Sendangharjo pada akhirnya bukan hanya tentang sampah.
Ia adalah cerita tentang bagaimana persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang ekonomi ketika masyarakat memiliki kemauan, inovasi, dan pendampingan yang berkelanjutan.
Sampah organik menjadi media tumbuh. Sampah anorganik menjadi sumber nilai. Sampah yang tak terpakai diolah menjadi bahan bakar alternatif. Kasgot menjadi media tanam. Tanaman anggur menghasilkan pendapatan dan membuka ruang wisata edukasi.
Bahkan, tabungan sampah dapat membantu warga memenuhi kewajiban membayar PBB.
Di tengah aktivitas industri migas di JTB, cerita Sendangharjo menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu berhenti pada angka produksi dan infrastruktur. Ada dimensi lain yang tumbuh di tengah masyarakat: lingkungan yang lebih terkelola, ekonomi warga yang bergerak, serta hubungan antara perusahaan dan masyarakat yang dibangun melalui komunikasi dan pemberdayaan.
“Jadi sebenarnya ini poin penting yang harus digarisbawahi bahwa program-program yang kami lakukan itu tidak hanya untuk peningkatan dan pengembangan masyarakatnya, tapi juga sebagai bentuk pengelolaan hubungan dengan stakeholders,” tutup Weanny.


