TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

74% Warga Asia Tak Pandang Warisan Sebatas Aset Finansial, Pendidikan pun Penting

Achmad Adhito
29 September 2026 | 07:42
rubrik: Business Info
Gas Bumi Harga Tertentu: Dampak Positif Rp127 Triliun ke Ekspor

Sumber Foto Ilustrasi: Freepik

Jakarta, TopBusiness—Riset terbaru Sun Life Asia mengungkap bahwa ancaman terbesar dalam menjaga kekayaan agar dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi bukan hanya perubahan kondisi pasar atau konflik keluarga, tetapi juga kesiapan penerima warisan dalam mengelola aset yang mereka terima. Di tengah semakin banyaknya masyarakat Asia yang mulai merencanakan warisan, hanya satu dari lima responden yang merasa benar-benar siap untuk mewariskan peninggalan mereka saat ini.

Laporan terbaru Sun Life Asia, Passing the Torch: When Legacy Means More Than Money, menemukan adanya perubahan signifikan dalam cara masyarakat Asia memandang warisan yang ingin mereka tinggalkan.

“Hampir tiga perempat (74%) responden ingin mewariskan tidak hanya aset finansial, tetapi juga nilai-nilai, pengetahuan, dan pelajaran hidup sebagai bagian dari rencana warisan mereka,” kata Albertus Wiroyo, Presiden Direktur Sun Life Indonesia, via keterangan resmi yang diterima Redaksi Majalah TopBusiness, hari ini.

Di sisi lain, 70% khawatir kekayaan mereka tidak dapat bertahan hingga generasi berikutnya, dan hanya 20% yang merasa benar-benar siap untuk mewariskan peninggalan mereka saat ini.

Temuan ini menunjukkan semakin kuatnya kesadaran bahwa warisan yang dapat bertahan lintas generasi tidak hanya bergantung pada apa yang diwariskan, tetapi juga pada kesiapan generasi berikutnya untuk mengelolanya.

Studi ini juga menemukan bahwa perencanaan warisan semakin banyak dilakukan di Asia. Jumlah responden yang telah memiliki rencana warisan secara lengkap dan mengomunikasikannya kepada keluarga meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 10% pada 2025 menjadi 22% pada 2026. Sementara itu, responden yang sama sekali belum memiliki rencana warisan turun dari 31% menjadi 15%.

Di Indonesia sendiri, hanya 9% responden yang belum memiliki rencana warisan, turun dari 20% pada 2025. Sementara itu, 30% telah memiliki rencana warisan tertulis, meski belum mengomunikasikannya kepada ahli waris. 

Albertus Wiroyo mengatakan, “Perencanaan warisan tidak cukup hanya dengan dituangkan secara tertulis. Keluarga perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan dari kekayaan yang diwariskan, prinsip yang menjadi panduan dalam mengelolanya, serta bagaimana generasi berikutnya dapat meneruskan tanggung jawab tersebut.” Dengan begitu, rencana yang tertulis dapat benar-benar diterapkan dan bertahan dari generasi ke generasi.

Warisan Lebih dari Sekadar Kekayaan

Bagi sebagian besar keluarga, warisan memiliki arti lebih dari sekadar kekayaan. Keterampilan dan pendidikan (33%), nilai-nilai keluarga (32%), serta pelajaran hidup (31%) termasuk hal yang paling ingin diwariskan kepada generasi berikutnya, selain uang dan properti. Pendidikan juga menjadi salah satu prioritas utama dalam merencanakan warisan, dengan 48% responden ingin memberikan kesempatan melalui pendidikan.

BACA JUGA:   Ada Gaji ke-13, Hotel Sahid Optimistis Okupansi Naik 15%

Bahkan di antara mereka yang berencana mewariskan aset finansial, 45% ingin mengalokasikannya untuk pendidikan, setelah memenuhi kebutuhan utama keluarga (52%) dan memberikan dukungan finansial kepada anggota keluarga semasa hidup (50%).

Di Indonesia, pendidikan memiliki peran yang lebih kuat, dengan 65% responden menempatkan kesempatan pendidikan sebagai salah satu dari tiga prioritas utama yang ingin diwariskan. Dari responden yang berencana mewariskan aset finansial atau kekayaan, 61% ingin menggunakannya untuk membiayai pendidikan. 

Hal serupa juga terlihat dari tujuan keluarga dalam memanfaatkan kekayaan mereka. 6 dari 10 responden (61%) ingin kekayaan tersebut dapat membuka peluang jangka panjang bagi orang-orang yang mereka cintai, sementara 52% ingin memastikan kebutuhan utama, seperti tempat tinggal dan layanan kesehatan, dapat terpenuhi. Kekayaan tetap penting, tetapi semakin dipandang sebagai sarana untuk memberikan rasa aman dan membuka peluang bagi generasi berikutnya, bukan sebagai warisan itu sendiri.

Perencanaan warisan semakin matang, tetapi tingkat kesiapan belum meningkat dengan kecepatan yang sama. Jumlah responden yang telah memiliki rencana warisan lengkap secara tertulis dan mengomunikasikannya kepada keluarga meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 10% pada 2025 menjadi 22% pada 2026.

Sementara itu, responden yang sama sekali belum memiliki rencana warisan turun dari 31% menjadi 15%. Namun, peningkatan dalam perencanaan ini belum diikuti dengan tingkat kesiapan yang sama.

Hanya 20% responden yang merasa benar-benar siap untuk mewariskan warisan mereka saat ini, hampir tidak berubah dari 19% pada tahun sebelumnya. Pendampingan profesional juga berkaitan erat dengan tingkat kesiapan. Hampir separuh responden (46%) telah mencari nasihat profesional untuk merencanakan warisan, meningkat dari 37% pada 2025. Di antara mereka, 79% merasa siap secara finansial untuk mewariskan warisan mereka, dibandingkan dengan 44% responden yang belum mencari nasihat profesional tetapi ingin melakukannya.

Kekhawatiran justru paling tinggi di kalangan generasi yang masih memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan perencanaan. Sebanyak 76% Gen Z dan Milenial khawatir kekayaan mereka tidak dapat bertahan hingga generasi berikutnya, dibandingkan dengan 66% Gen X dan 59% Baby Boomers. Namun, generasi muda juga lebih optimistis terhadap dampak jangka panjang dari kekayaan yang mereka wariskan.

BACA JUGA:   Studi Sun Life Asia: Mewariskan Kekayaan Saja Tidak Cukup, Perlu Kesiapan Generasi Penerus

Sebanyak 65% Gen Z dan 67% Milenial percaya bahwa kekayaan mereka dapat memberikan manfaat hingga beberapa generasi, dibandingkan dengan 51% Baby Boomers.

Menariknya, setiap generasi justru menilai generasi lainnya memiliki pemahaman finansial yang lebih baik. Lebih dari separuh Gen X dan Baby Boomers (58%) menilai anggota keluarga yang lebih muda memiliki pemahaman finansial yang lebih baik dibandingkan mereka.

Sementara itu, 61% Gen Z dan Milenial juga menilai generasi sebelumnya memiliki pemahaman finansial yang lebih baik dibandingkan mereka.

Penilaian positif antargenerasi tersebut tetap diiringi kekhawatiran mengenai kesiapan generasi penerus. Di antara responden yang khawatir kekayaannya tidak dapat bertahan hingga generasi berikutnya, 52% menilai kesiapan penerima warisan dalam mengelola aset sebagai kekhawatiran terbesar, lebih tinggi dibandingkan perubahan kondisi pasar (49%) dan konflik keluarga terkait aset (44%). Lebih dari seperempat responden (27%) menilai kurangnya pemahaman finansial generasi berikutnya sebagai salah satu risiko terbesar dalam menjaga kekayaan keluarga, sementara 25% lainnya khawatir generasi berikutnya tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengelola aset yang mereka terima.

Penasihat keuangan juga semakin berperan dalam membantu keluarga memulai percakapan mengenai warisan. Empat dari 10 responden mengatakan komunikasi dengan generasi berikutnya telah dilakukan, setidaknya sebagian, melalui penasihat keuangan, meningkat dari 15% pada 2025.

Di Indonesia, gambarannya sedikit berbeda. Di antara responden yang khawatir kekayaannya tidak dapat bertahan hingga generasi berikutnya, konflik keluarga menjadi kekhawatiran terbesar (58%), diikuti kesiapan penerima warisan dalam mengelola aset (53%), perubahan hukum, regulasi atau perpajakan (46%), serta perubahan kondisi pasar (43%).

Albertus Wiroyo menambahkan, “Mewariskan kekayaan mungkin merupakan keputusan yang relatif mudah, tetapi mempersiapkan seseorang untuk mengelolanya membutuhkan proses yang jauh lebih panjang. Dengan melibatkan generasi berikutnya sejak awal, keluarga dapat memanfaatkan percakapan tersebut untuk membangun kemampuan dalam mengambil keputusan finansial, menyamakan ekspektasi, dan mengurangi ketidakpastian sebelum tanggung jawab beralih ke generasi berikutnya.”

Penasihat keuangan tepercaya dapat membantu keluarga menjalani proses ini dengan lebih percaya diri dan menerjemahkan niat baik menjadi rencana yang dipahami bersama.

BACA JUGA:   Pasar Properti di 2020 Membaik, POSA Bisa Untung

Bagi keluarga dengan kekayaan tertinggi di Asia, kekhawatiran yang muncul terlihat berbeda. Jika masyarakat secara umum lebih mengkhawatirkan kesiapan keluarga dan potensi konflik terkait aset, individu dengan kekayaan tinggi (high-net-worth individuals) cenderung tidak terlalu khawatir terhadap konflik keluarga. Hanya 20% yang menilai perselisihan keluarga sebagai ancaman besar dalam menjaga kekayaan, dibandingkan dengan 34% masyarakat secara umum.

Perhatian mereka lebih tertuju pada hal-hal mendasar dalam menjaga kekayaan, seperti mengambil keputusan investasi yang tepat, menghadapi kerumitan perpajakan dan hukum, serta memiliki kepercayaan terhadap institusi yang mengelola kekayaan mereka.

Keputusan investasi yang kurang tepat dinilai sebagai risiko oleh 37% responden dengan kekayaan tinggi, dibandingkan dengan 24% masyarakat secara umum. Selain itu, 29% mengkhawatirkan kerumitan perpajakan atau hukum, dibandingkan dengan 18% masyarakat secara umum. Di antara mereka yang khawatir kekayaannya tidak dapat bertahan hingga generasi berikutnya, 40% menyoroti pentingnya kepercayaan terhadap penasihat atau institusi yang mengelola kekayaan mereka, dibandingkan dengan 25% pada kelompok masyarakat yang lebih luas.

Delapan dari 10 responden dengan kekayaan tinggi (83%) menilai penasihat keuangan perlu berperan dalam perencanaan warisan, bahkan 63% menilai penasihat keuangan seharusnya mengambil peran utama. Hal ini menunjukkan peran penasihat keuangan yang jauh lebih besar di kalangan keluarga dengan kekayaan tinggi dibandingkan masyarakat secara umum. Bagi keluarga dengan kekayaan tinggi, menjaga kekayaan agar dapat bertahan lintas generasi tidak hanya bergantung pada keharmonisan keluarga, tetapi juga pada tata kelola yang baik dan dukungan dari penasihat yang mereka percaya.

Albertus Wiroyo, mengatakan, “Bagi keluarga dengan kekayaan tinggi, menjaga kekayaan tidak hanya tentang menghindari konflik keluarga. Kepercayaan terhadap berbagai keputusan yang menentukan keberlanjutan kekayaan tersebut, mulai dari investasi hingga bagaimana kekayaan dipersiapkan untuk generasi berikutnya, juga sama pentingnya.”

Karena itu, peran penasihat yang tepercaya menjadi sangat penting. Keluarga semakin membutuhkan penasihat yang dapat menghadirkan keahlian yang tepat, membantu menghadapi berbagai kompleksitas, serta mendukung mereka dalam mengambil keputusan yang tepat, baik lintas negara maupun lintas generasi.”

Di seluruh kelompok tingkat kekayaan, riset ini menunjukkan perubahan yang sama: keluarga kini semakin mempertimbangkan bukan hanya apa yang akan mereka wariskan, tetapi juga apakah generasi berikutnya siap untuk menerimanya.

Tags: perencanaan warisanriset sun life asia
Previous Post

Buka Alur Sungai dan Perkuat Tebing Pascabanjir Terjang Tapanuli Tengah

Next Post

IHSG Masih Rawan Koreksi pada Selasa Ini

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR