Jakarta, TopBusiness – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melakukan pengerukan sedimen di hulu intake Bendung Kamijoro sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan air irigasi di tengah kondisi kekeringan tahun ini. Tumpukan sedimentasi yang berada di depan pintu pengambilan air menyebabkan pendangkalan dan penyumbatan, sehingga debit air yang masuk ke jaringan irigasi mengalami penurunan.
Untuk memulihkan kapasitas tampung dan penampang basah di depan pintu intake, Kementerian PU melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak melakukan penggalian dan pengerukan sedimen pada area seluas 5.420 meter persegi. Dari pekerjaan tersebut, sedimen yang berhasil diangkat mencapai sekitar 16.260 meter kubik. Penanganan ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi intake sekaligus memastikan air yang tersedia di Sungai Progo dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan irigasi.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, Kementerian PU terus memperkuat kesiapsiagaan dan respons terhadap dampak kekeringan, salah satunya dengan mengoptimalkan infrastruktur sumber daya air yang telah dibangun agar mampu memberikan layanan secara maksimal kepada masyarakat.
“Air merupakan fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu, termasuk dengan mengoptimalkan infrastruktur sumber daya air agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Menteri Dody dalam rilis PU.
Bendung Kamijoro membendung aliran Sungai Progo di perbatasan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Infrastruktur ini melayani Daerah Irigasi Pijenan seluas 2.563 hektare, yang tersebar di Kabupaten Bantul. Dengan kembali optimalnya kapasitas pengambilan air, kontinuitas distribusi air irigasi diharapkan tetap terjaga sehingga risiko kekeringan pada lahan pertanian dapat ditekan, termasuk potensi penurunan produksi dan gagal panen.
Selain menjaga kontinuitas layanan irigasi, optimalisasi Bendung Kamijoro juga mendukung peningkatan produktivitas pertanian. Daerah Irigasi Pijenan diharapkan dapat melayani kebutuhan intensitas pertanaman sesuai dengan dukungan ketersediaan air yang lebih andal.
Secara teknis, Bendung Kamijoro memiliki tinggi mercu dari sisi hulu 2,4 meter dengan lebar efektif 153 meter. Lebar bendung dengan pilar mencapai 161 meter dan dilengkapi delapan pilar, sedangkan lebar bendung dengan pembilas mencapai 171 meter. Bendung ini dibangun oleh BBWS Serayu Opak, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air pada 2016–2018.
Melalui pengerukan sedimen dan optimalisasi fungsi Bendung Kamijoro, Kementerian PU memastikan infrastruktur sumber daya air tetap mampu memberikan layanan di tengah tekanan musim kering. Penanganan dilakukan tidak hanya untuk mengatasi penurunan debit air saat ini, tetapi juga menjaga keberlanjutan layanan irigasi dan ketahanan pangan masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air.
Bendung Kamijoro juga dilengkapi dengan intake air baku, pembangunan rumah panel, dan lansekap yang saat ini sudah dimanfaatkan masyarakat sebagai salah satu tujuan pariwisata. Selain menyuplai air irigasi, Bendung Kamijoro juga memiliki fungsi penyediaan air baku rencananya menyuplai 300 liter per detik untuk Bandara Internasional Yogyakarta dan kawasan industri Sentolo di Kabupaten Kulon Progo serta 200 liter per detik untuk Kabupaten Bantul.
