Jakarta, TopBusiness — Di industri telekomunikasi, membangun jaringan fiber optik bukan satu-satunya pekerjaan besar. Di balik kabel, pusat data, jaringan akses, dan layanan internet, ada pekerjaan lain yang tak kalah menentukan: memastikan orang-orang yang mengoperasikannya memiliki kemampuan yang terus berkembang.
Bagi PT Ekamas Mora Republik Tbk (IDX: MORA) atau MoraRepublic, persoalan tersebut menjadi semakin penting setelah perusahaan lahir dari merger PT Mora Telematika Indonesia Tbk dan PT Eka Mas Republik yang efektif pada 22 April 2026 lalu.
Perusahaan kini membawa bisnis infrastruktur digital dan layanan telekomunikasi dalam satu organisasi, dengan ambisi menjadi pemimpin infrastruktur dan layanan digital terintegrasi di Indonesia.
Di tengah perubahan itu, human capital tidak ditempatkan semata sebagai fungsi administratif. MoraRepublic menjadikannya bagian dari strategi untuk memastikan organisasi memiliki talenta, kompetensi, dan budaya yang sesuai dengan arah bisnis.
CEO MoraRepublic Timotius Max Sulaiman mengatakan, perusahaan ingin membangun organisasi yang tidak hanya mampu menjalankan bisnis saat ini, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang.
“Kami mau jadi sebuah perusahaan digital infrastructure dan services yang lead dalam industri ini. Dan kami punya satu kata singkatnya adalah kami mau selalu memberi impact,” ujar Timotius dalam penjurian TOP Human Capital Awards 2026, yang digelar daring, Rabu (30/9/2026).
Bagi MoraRepublic, kata impact bukan sekadar slogan. Nilai tersebut diterjemahkan ke dalam core values perusahaan yang dirangkum dalam ICT-SIP, yakni Integrity, Change, Teamwork, Service Excellence, Innovative, dan Passionate. Nilai tersebut menjadi fondasi dalam membangun perilaku organisasi sekaligus mendukung strategi perusahaan di tengah industri yang terus berubah.
Mengawal Organisasi Pascamerger
Merger membawa konsekuensi yang tidak sederhana bagi pengelolaan manusia. Dua organisasi dengan sejarah, sistem, kebiasaan, dan talenta yang berbeda harus bergerak dalam satu arah.
Timotius mengatakan, salah satu agenda penting setelah merger adalah menangkap sinergi yang muncul dari penggabungan kedua organisasi.
“Dengan aktivitas merger ini tentunya dari sisi industri, dari sisi bisnis dan tentunya relate dengan konteks kita hari ini adalah dari sisi human capital. Ini luar biasa setelah dua company yang cukup besar bergabung tentunya ada hal-hal yang sangat relate dengan human di dalam,” sebutnya.
Dalam presentasinya, MoraRepublic menunjukkan bahwa penguatan organisasi dan people management telah menjadi bagian dari agenda perubahan sejak 2023. Perusahaan melakukan reorganisasi dan memperkuat arsitektur pengelolaan people melalui pembagian fungsi Center of Excellence (CoE) sebagai mesin strategis dan Shared Services sebagai pendukung operasional.
CoE menangani fungsi strategis seperti recruitment and assessment, learning and development, performance management, serta compliance. Sementara Shared Services mendukung compensation and benefit, industrial and employee relations, serta general affairs.
Struktur tersebut membuat fungsi HC tidak berjalan sendiri. Ia dirancang untuk menghubungkan kebutuhan organisasi, talent acquisition, pengembangan kompetensi, kinerja, hingga kepatuhan dalam satu arsitektur pengelolaan manusia.
Bisnis Tumbuh, HC Mengikuti
Strategi tersebut berjalan beriringan dengan kinerja bisnis MoraRepublic. Data 2024-2025 menunjukkan pendapatan perusahaan meningkat dari sekitar Rp3,98 triliun menjadi Rp4 triliun.
EBITDA naik 10% dari Rp1,83 triliun menjadi Rp2,01 triliun, sementara laba bersih melonjak 96% dari Rp263 miliar menjadi Rp516 miliar. Pada periode yang sama, aset meningkat dari Rp14,65 triliun menjadi Rp14,76 triliun, sedangkan operating expense turun sekitar 1% dari Rp1,26 triliun menjadi Rp1,25 triliun.
Pertumbuhan bisnis tersebut menjadi konteks penting bagi pengembangan HC. Chief People and Culture Officer (CPCO) MoraRepublic Melanie Maharani memaparkan, jumlah karyawan yang mendapatkan pelatihan meningkat dari 881 orang pada 2024 menjadi 959 orang pada 2025. Pada periode yang sama, biaya pelatihan naik dari sekitar Rp792 juta menjadi Rp1,1 miliar.
“Total employee yang kami latih di 2024 sebanyak 881, kemudian di 2025 menjadi 959 dari total employee,” kata Melanie.
Jumlah tenaga kerja juga meningkat. Headcount pada akhir 2024 tercatat 927 orang dan menjadi 959 orang pada 2025. Sementara itu, total compensation cost meningkat dari sekitar Rp106 miliar menjadi Rp117 miliar.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa investasi terhadap manusia berjalan seiring dengan kebutuhan organisasi. Namun, MoraRepublic tidak berhenti pada penambahan pelatihan. Perusahaan membangun sistem untuk memastikan talenta yang dikembangkan benar-benar siap mengisi kebutuhan organisasi.
Mencari Talenta dari Dalam
Salah satu inisiatif yang menonjol adalah Grow from Within Internal Talent. MoraRepublic membangun proses talent management melalui sejumlah tahapan. Karyawan yang masuk dalam talent pool tidak hanya dilihat berdasarkan kinerja, tetapi juga melalui rekam jejak disiplin, komitmen terhadap pembelajaran, serta proses assessment.
Perusahaan menggunakan in-house assessment center untuk proses promosi. Metodenya mencakup psikotes, leaderless group discussion, analisis masalah, in-basket simulation, role play, hingga competency-based interview. Hasil assessment kemudian menjadi bahan pembahasan untuk keputusan promosi, talent mapping, dan program pengembangan.
Pada pengembangan talent pool 2025, sebanyak 141 karyawan menjalani penyaringan berdasarkan rekam kinerja tiga tahun, kehadiran dan disiplin. Dari jumlah tersebut, 104 orang memenuhi kriteria untuk masuk proses talent management.
Mereka kemudian mengikuti pemetaan 9 Box Human Asset Capital Matrix, presentasi proyek atau gagasan pengembangan unit kerja, serta sesi one-on-one coaching dengan direksi. Hasilnya, 36 talenta dikategorikan Ready Now, 57 orang Ready in 3 Years, dan 11 orang Ready in 5 Years.
General Manager Center of Excellence MoraRepublic Farel Sinaga mengatakan, pendekatan tersebut dibuat agar pengembangan karier tidak sekadar bergantung pada masa kerja atau kebutuhan promosi.
“People adalah aset terbesar dan berharga perusahaan. Kehadiran mereka bukan sekadar dikaryakan untuk mengejar target, namun setiap karyawan dipacu untuk meng-upgrade dan meng-update kompetensinya sehingga selalu siap ketika terdapat kebutuhan organisasi,” kata Farel.
Dengan pendekatan itu, talent management sekaligus menjadi mekanisme untuk menjaga kesinambungan organisasi. Talenta yang siap tidak hanya dipersiapkan untuk jabatan yang tersedia saat ini, tetapi juga untuk kebutuhan beberapa tahun ke depan.
Digitalisasi HC, Bukan Sekadar Aplikasi
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur dan layanan digital, transformasi teknologi juga merambah fungsi human capital.
MoraRepublic mengembangkan digitalisasi pada berbagai proses HC, mulai dari automated talent acquisition sourcing, online psychological test, online assessment center, digital training needs analysis, e-learning berbasis AI, learning dashboard, online KPI, performance review, employee mobility, hingga exit interview. Sistem pendukung juga mencakup HRIS, ESS, MSS dan sejumlah aplikasi internal.
Menurut Farel, digitalisasi tersebut bukan semata-mata memindahkan proses manual ke dalam aplikasi, tetapi membangun cara kerja yang lebih cepat dan terukur.
“Digitalisasi selalu menjadi sahabat akrab perusahaan telekomunikasi sebagai strategi untuk dapat kompetitif dan adaptif terhadap perkembangan industri.”
Teknologi juga digunakan dalam pembelajaran. MoraRepublic mengembangkan e-learning dan berbagai perangkat digital untuk membuat proses belajar lebih fleksibel. Di sisi lain, budaya perusahaan tetap menjadi fondasi. Core values ICT-SIP diinternalisasikan melalui pelatihan, sosialisasi, road show, kegiatan komunitas, olahraga, team building, hingga berbagai kegiatan kebersamaan. Hasil survei engagement menunjukkan skor rata-rata 3,72 pada 2024 dan meningkat menjadi 3,83 pada 2025, atau tetap berada di atas 3,5.
