Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia berhasil berbalik menguat pada perdagangan Jumat (2/10/2026). IHSG ditutup naik 27,38 poin atau 0,46% ke level 6.036,88.
Berdasarkan data perdagangan, sebanyak 319 saham menguat, sementara 337 saham melemah dan 134 saham stagnan. Total volume transaksi mencapai 121,09 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp11,78 triliun.
Meski IHSG ditutup di zona hijau, pergerakan pasar secara keseluruhan masih menunjukkan sentimen yang cenderung hati-hati. Jumlah saham yang melemah masih lebih banyak dibandingkan saham yang menguat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan IHSG belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan sentimen di seluruh pasar. Kenaikan indeks kemungkinan lebih banyak ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar atau saham dengan bobot signifikan terhadap pergerakan indeks.
Sebelumnya, pada sesi I perdagangan, IHSG sempat tertekan hingga 5.990,20 atau turun 0,32%. Indeks bergerak dalam rentang yang cukup lebar, dengan level tertinggi sesi I berada di 6.044,26 dan terendah 5.979,98.
Kemampuan IHSG untuk berbalik menguat hingga penutupan menunjukkan bahwa tekanan jual mulai diserap oleh pelaku pasar. Kondisi ini dapat menjadi indikasi munculnya aksi beli ketika harga saham mengalami tekanan atau buy on weakness.
Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tekanan jual telah berakhir. Investor masih perlu melihat konsistensi kenaikan indeks dan membaiknya breadth pasar, yaitu ketika jumlah saham yang menguat mulai lebih dominan dibandingkan saham yang melemah.
Dari eksternal, pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat, pergerakan harga minyak serta ketegangan geopolitik. Data manufaktur AS September menunjukkan aktivitas sektor tersebut masih berada dalam fase ekspansi, sementara kenaikan harga bahan baku menjadi perhatian karena dapat memberikan tekanan terhadap inflasi.
Harga minyak juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Kenaikan harga energi dapat memberikan sentimen positif bagi saham-saham berbasis komoditas, tetapi pada saat yang sama dapat meningkatkan biaya operasional bagi perusahaan yang bergantung pada konsumsi bahan bakar.
Dari dalam negeri, investor mencermati perkembangan inflasi dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia. Inflasi September 2026 tercatat sebesar 3,28% secara tahunan, sedangkan inflasi inti berada di level 2,84%. Perkembangan inflasi akan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi investor dalam memperkirakan arah suku bunga dan kondisi likuiditas.
Secara teknikal, area 6.000 menjadi level psikologis yang penting bagi IHSG. Indeks sempat berada di bawah level tersebut pada sesi I, tetapi berhasil kembali dan ditutup di atasnya.
Apabila IHSG mampu mempertahankan posisi di atas area tersebut, sentimen pasar berpotensi lebih stabil. Sebaliknya, jika tekanan jual kembali membawa indeks ke bawah area 6.000, investor akan mencermati level support berikutnya.
Data AI
