Jakarta, TopBusiness — PT BPR Bahteramas Konawe (Perseroda) menempatkan pengelolaan human capital sebagai salah satu fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan bisnis dan keberlanjutan perusahaan. Penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), pengembangan talenta, pembelajaran berkelanjutan hingga pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan menjadi bagian dari strategi yang dijalankan manajemen.
Hal tersebut disampaikan Staff Umum PT BPR Bahteramas Konawe, Tasya Berlianiswah, saat sesi penjurian TOP Human Capital Awards 2026 yang digelar secara daring, Jumat (2/10/2026). Pada kesempatan ini BPR Bahteramas Konawe mengangkat tema presentasi “Dari Potensi Menjadi Performa, Transformasi Human Capital BPR Bahteramas Konawe dalam Menciptakan Value Creation dan Bisnis yang Berkelanjutan”.
Tasya mengatakan, pengelolaan human capital diarahkan untuk mendukung visi BPR Bahteramas Konawe menjadi bank daerah yang terbaik, sehat, dan terpercaya. Untuk mewujudkan visi tersebut, perusahaan menjalankan misi pelayanan prima, menjadi mitra pemerintah daerah, serta memberikan dampak sosial yang pada akhirnya berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Sulawesi Tenggara.
Dalam menjalankan bisnisnya, BPR Bahteramas Konawe bergerak pada penyaluran kredit konsumtif dan produktif serta penghimpunan dana melalui produk tabungan dan deposito. Di sisi lain, perusahaan juga aktif menjalankan inklusi dan edukasi keuangan guna meningkatkan literasi masyarakat dalam mengelola keuangan.
Strategi bisnis perusahaan, kata Tasya, salah satunya diarahkan pada pertumbuhan kredit yang berkualitas dengan mengutamakan kualitas debitur sekaligus memitigasi risiko yang muncul dari penyaluran kredit.
Selain itu, penguatan dana pihak ketiga dilakukan melalui strategi digital promosi dan digital marketing serta peningkatan kualitas pelayanan.
“Yang selanjutnya ialah SDM berbasis kompetensi. Di BPR Bahteramas Konawe SDM merupakan aset yang sangat penting. Oleh karena itu direksi dan manajemen BPR Bahteramas Konawe mendorong seluruh karyawan/karyawati untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, kemudian untuk mengakreditasikan kompetensi karyawannya dalam bentuk sertifikasi kompetensi dan kemudian pengembangan budaya kepatuhan,” ujar Tasya di hadapan Dewan Juri TOP Human Capital Awards 2026, antara lain Melani K. Harriman (CEO Melani K. Harriman & Associates), Ben de Haan (MSI), Wahyudin Zarkasyi (Guru Besar Universitas Padjadjaran), dan Sentot Baskoro (Asosiari GRK Indonesia).
Kompetensi SDM dan Pertumbuhan Kinerja
Penguatan human capital tersebut berjalan seiring dengan perkembangan kinerja bisnis perusahaan. Berdasarkan pemaparan Tasya, BPR Bahteramas Konawe mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 54,75 persen pada 2024 hingga 2025. Di mana pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari kontribusi dan kompetensi SDM yang dimiliki perusahaan.
“Laba bersih ini timbul bukan hanya karena aktif kontribusi tapi karena kompetensi SDM yang dimiliki oleh masing-masing karyawan/karyawati BPR Bahteramas Konawe,” katanya.
Komitmen terhadap peningkatan kompetensi juga tercermin dari meningkatnya total biaya pelatihan pada periode 2024 hingga 2025. Peningkatan tersebut menjadi bagian dari investasi perusahaan dalam pengelolaan SDM untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Dalam aspek Strategic Human Capital Leadership, BPR Bahteramas Konawe menyelaraskan strategi human capital dengan target Rencana Bisnis Bank (RBB). Transformasi yang didorong bukan sekadar menjalankan aktivitas perbankan yang bersifat transaksional, tetapi membangun hubungan yang lebih erat dengan nasabah dan memberikan dampak melalui edukasi keuangan.
“Di mana direksi dan manajemen mendorong transformasi model bisnis dari sekadar transaksional banking menjadi relationship dan impact banking,” kata Tasya.
Pendekatan tersebut antara lain diwujudkan melalui kegiatan literasi keuangan. Karyawan tidak hanya memasarkan produk perbankan, tetapi juga membangun relasi dengan nasabah sekaligus memberikan edukasi agar masyarakat lebih cerdas dalam mengatur keuangan.
Direksi Berperan sebagai Talent Builder
Dalam pengelolaan talenta, direksi tidak hanya ditempatkan sebagai pengambil keputusan bisnis. Manajemen juga menjalankan fungsi pengembangan kader melalui executive coaching, investasi kompetensi, dan penerapan budaya meritokrasi.
“Di mana direksi BPR Bahteramas Konawe tidak hanya sebagai pengambil keputusan bisnis, tapi direksi sebagai talent builder atau pencipta kader-kader talenta selanjutnya melalui Executive Coaching, alokasi investasi kompetensi dan penerapan budaya meritokrasi,” ujar Tasya.
Pemetaan talenta dilakukan secara berkala melalui rapat yang melibatkan direksi, komisaris, dan manajemen. Talenta karyawan kemudian dikembangkan melalui executive coaching untuk meningkatkan kemampuan dan kontribusinya terhadap pertumbuhan perusahaan.
BPR Bahteramas Konawe juga memberikan apresiasi terhadap karyawan yang menunjukkan kinerja baik melalui program BPR Award yang digelar setiap akhir tahun.
Selain penghargaan, perusahaan memberikan peluang kepada karyawan berprestasi dan memiliki kompetensi untuk mengisi posisi yang tersedia di internal perusahaan.
Bahteramas Institute dan Sertifikasi Kompetensi
Untuk membangun budaya pembelajaran, BPR Bahteramas Konawe menjalankan program Bahteramas Institute. Program tersebut merupakan inisiatif direksi dan manajemen yang menghadirkan narasumber dan menentukan topik pembelajaran yang diselaraskan dengan visi dan misi perusahaan.
Targetnya, setiap karyawan mendapatkan waktu pembelajaran sebanyak 80 jam per tahun.
Selain itu, perusahaan menerapkan program peer-to-peer mentoring yang dilakukan manajemen untuk membantu karyawan baru memahami dan menjalankan tugas sesuai jobdesk masing-masing.
Setelah mengikuti pelatihan, kompetensi karyawan diarahkan untuk memperoleh pengakuan melalui sertifikasi. Dalam pemaparan tersebut disebutkan sebanyak 36 persen karyawan telah memiliki sertifikat kompetensi, sementara 64 persen lainnya belum memperoleh sertifikat.
Namun, Tasya menegaskan bahwa karyawan yang belum memiliki sertifikat tersebut bukan berarti belum mendapatkan pelatihan.
“Perlu digarisbawahi, populasi 64 persen karyawan yang belum memiliki sertifikat kompetensi ini sudah mengikuti pelatihan kompetensi tersebut, namun belum mendapatkan sertifikatnya,” katanya.
Pengembangan kompetensi juga mulai diarahkan pada penguasaan teknologi dan kecerdasan buatan. Direksi dan manajemen mendorong karyawan untuk mengeksplorasi AI guna mempercepat pekerjaan operasional dan mengurangi beban kerja repetitif.
Employee Experience dan Budaya Kinerja
Pengelolaan human capital juga mencakup aspek kesejahteraan dan pengalaman karyawan. BPR Bahteramas Konawe memfasilitasi medical check-up bagi karyawan serta memberikan perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.
Perusahaan juga melakukan tes urin secara berkala bagi karyawan, direksi, dan manajemen. Untuk menjaga kebugaran dan membangun solidaritas, terdapat program Wednesday Tennis. Selain itu, perusahaan menggelar employee gathering setiap tahun.
Dari sisi budaya organisasi, manajemen berupaya mencegah munculnya mental silo atau silo mentality melalui evaluasi bulanan. Setiap divisi diberikan ruang untuk menyampaikan kekurangan dan kebutuhan sehingga dapat saling membantu dan membangun sinergi lintas fungsi. “Sehingga bisa tercipta cross-functional synergy,” ujar Tasya.
Sementara itu, kinerja karyawan diukur melalui indikator kinerja utama atau KPI yang terukur dan berada dalam pengawasan.
Menurut Tasya, performa kinerja perusahaan dibangun melalui tiga keselarasan, yakni wellbeing untuk menjaga energi dan komitmen karyawan, culture untuk meniadakan resistensi antardivisi, serta performance yang mengapresiasi kontribusi nyata setiap karyawan.
Transformasi digital juga diterapkan dalam pengelolaan SDM. Sistem core banking BPR Bahteramas Konawe tidak hanya dimanfaatkan untuk menyimpan data nasabah, tetapi juga dikembangkan sebagai Decision Support System yang membantu direksi dalam mengambil keputusan terkait penempatan dan kinerja karyawan.
Pada sisi pengembangan kemampuan AI, Bahteramas Institute menghadirkan narasumber dari bidang teknologi untuk memberikan pembelajaran kepada karyawan.
Sementara dalam aspek inovasi digital, BPR Bahteramas Konawe menerapkan Whistleblowing System sebagai pengganti kotak saran konvensional. Pelaporan dilakukan melalui kanal pribadi yang dikelola langsung oleh internal audit.
Menyiapkan Talenta untuk Keberlanjutan
Pengelolaan human capital pada akhirnya diarahkan untuk menciptakan dampak terhadap bisnis sekaligus menjaga keberlanjutan perusahaan. BPR Bahteramas Konawe menempatkan kontribusi bisnis, penciptaan nilai oleh SDM, dan kaderisasi talenta internal sebagai tiga pilar penting.
Salah satu bentuk penciptaan nilai adalah mendorong karyawan yang telah mengikuti pelatihan untuk membagikan kembali pengetahuan yang diperoleh dan berperan sebagai trainer of training.
Selain Bahteramas Institute, perusahaan juga menjalankan program beasiswa yang terdiri atas Beasiswa Pendidikan Formal dan Beasiswa Pendidikan Non-formal.
“Adapun human capital initiative yang sudah dan sedang berjalan ialah Bahteramas Institute yang menjadi wadah pembelajaran kami karyawan/karyawati untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya,” kata Tasya.
Sejumlah narasumber telah dihadirkan dalam Bahteramas Institute, termasuk Ketua Umum Perbamida, Bupati Konawe Kepulauan, Bupati Konawe, dan sejumlah narasumber lainnya.
Tasya menilai Bahteramas Institute dan program beasiswa menjadi bagian penting dalam memperkuat kapabilitas dan profesionalisme SDM.
Bagi BPR Bahteramas Konawe, penguatan human capital ditempatkan bukan semata sebagai agenda pengelolaan internal perusahaan, tetapi sebagai bagian dari strategi untuk membangun kapabilitas SDM, memperkuat kinerja bisnis, dan menjaga keberlanjutan perusahaan daerah.
Upaya tersebut juga tercermin dari sejumlah capaian yang disebutkan dalam pemaparan, antara lain hasil survei kepuasan nasabah serta keberhasilan BPR Bahteramas Konawe meraih juara umum dalam Hari BPR-BPRS Sultra pada 2023-2024 dan di tahun 2026.
Untuk diketahui, pada sesi penjurian kali ini, BPR Bahteramas Konawe hadir secara full team dari jajaran komisaris dan direksi, di antaranya Drs. Basiran (Komisaris Utama), Dr. Yusuf, S.E., M.M. (Komisaris), Dr. Ahmat, S.E., M.M. (Direktur Utama), Titin Suryatmi, S.E. (Direktur Operasional), Muh. Kaimuddin Balaka, S.H., M.H. (PE Manajemen Risiko), Nining Suciani, S.H., M.H. (PE Audit Internal), Willyam Lakebo, S.E., M.M. (Manajer Operasional), dan Saeful, S.E., M.M. (Manajer Pemasaran).
Direktur Utama Dr. Ahmat, S.E., M.M., mengatakan partisipasi perusahaan dalam ajang penjurian Human Capital 2026 merupakan bagian dari proses untuk mendapatkan masukan yang dapat digunakan dalam meningkatkan kinerja perusahaan.
Ia menyebut keikutsertaan tersebut merupakan rangkaian agenda yang telah diikuti BPR Bahteramas Konawe, mulai dari TOP BUMD Awards, CSR, GRC, hingga Human Capital.
“Dan ini menjadi dan selalu menginspirasi kami karena yang kami kejar di sini adalah bagaimana untuk memperoleh nilai tambah dan masukan para Dewan Juri dalam rangka untuk meningkatkan kinerja BPR di Sulawesi Tenggara, kemudian untuk meningkatkan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat sebagai perusahaan daerah,” ujar Ahmat.
