Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Senin (5/10/2026), seiring dengan sentimen positif dari bursa saham kawasan Asia dan meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan lebih berhati-hati dalam menentukan kebijakan suku bunga.
IHSG naik 18,27 poin atau 0,30 persen ke level 6.055,16 pada pembukaan. Penguatan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan yang tercermin dari indeks LQ45, yang naik 1,90 poin atau 0,32 persen menjadi 597,36.
Pergerakan positif tersebut berlanjut pada awal sesi perdagangan. Hingga sekitar pukul 09.20 WIB, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.085 dan terendah 6.050. Pada periode tersebut, volume perdagangan tercatat sekitar 8,9 miliar saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,496 triliun.
Dari sisi aktivitas transaksi, pasar saham domestik menunjukkan likuiditas yang cukup tinggi. Data pada awal perdagangan juga menunjukkan frekuensi transaksi telah mencapai sekitar 199 ribu kali, sementara volume perdagangan berdasarkan pemantauan sebelumnya mencapai sekitar 6,4 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp1 triliun. Perbedaan angka tersebut mencerminkan perkembangan transaksi yang berlangsung cepat pada menit-menit awal perdagangan.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, mayoritas berada di zona hijau. Sekitar 412 saham menguat, 195 saham melemah, sedangkan 161 saham stagnan pada pemantauan sekitar pukul 09.20 WIB. Kapitalisasi pasar BEI tercatat sekitar Rp10.704 triliun.
Analisis Pasar
Penguatan IHSG pada awal pekan menunjukkan adanya upaya investor untuk melanjutkan momentum positif setelah indeks pada perdagangan Jumat (2/10/2026) ditutup naik 0,46 persen ke level 6.036,89. Pada saat yang sama, LQ45 juga menguat 0,52 persen ke level 595,46.
Salah satu katalis utama datang dari Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan AS menunjukkan penambahan tenaga kerja nonpertanian (NFP) pada September 2026 hanya 29.000, jauh di bawah ekspektasi sekitar 90.000. Lemahnya data tersebut menurunkan ekspektasi terhadap kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, sehingga memberikan ruang bagi aset berisiko, termasuk saham, untuk menguat.
Selain itu, penurunan harga minyak mentah global turut membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Sentimen positif tersebut ikut mendorong bursa saham Asia dan memberikan katalis bagi IHSG pada awal perdagangan. Namun demikian, risiko geopolitik global masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor.
Secara teknikal, area 6.000 menjadi level penting bagi IHSG. Selama indeks mampu bertahan di atas level psikologis tersebut, peluang terjadinya technical rebound masih terbuka. Kiwoom Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguji area 6.095, kemudian 6.111–6.121 apabila penguatan berlanjut.
Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali muncul dan IHSG kehilangan level 6.000, indeks berpotensi menguji area support 5.979–5.973. Penembusan support tersebut dapat membuka ruang pelemahan lebih lanjut menuju 5.898.
Dengan demikian, kenaikan IHSG pada pembukaan perdagangan kali ini masih lebih tepat dibaca sebagai upaya rebound dari area psikologis 6.000, bukan sepenuhnya sebagai konfirmasi pembalikan tren jangka menengah. Investor tetap perlu mencermati kekuatan volume dan nilai transaksi untuk melihat apakah penguatan mampu bertahan hingga akhir sesi.
Data AI
