Jakarta, BusinessNews Indonesia – Sampai April 2018, penyerapan anggaran belanja negara sudah mencapai Rp 582,9 triliun atau 26,3% dari total anggaran belanja dalam APBN 2018 sebesar Rp2.220 triliun.
Sementara itu, realisasi pembiayaan anggaran mencapai 57,9% atau Rp 188,7 triliun dari target. Angka ini mencakup pembiayaan utang senilai Rp187,2 triliun atau 46,9% terhadap APBN. Realisasi tersebut lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp193,6 triliun atau tumbuh negatif 3,3%.
Sedangkan defisit APBN 2018 diperkirakan bisa terjaga di kisaran 2% atau bahkan lebih rendah lagi, didukung oleh realisasi yang APBN yang diklaim makin baik.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan ada perbaikan dari sisi penerimaan pajak, bea cukai, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Selain itu, belanja Kementerian/Lembaga (K/L) disebut lebih baik dan transfer ke daerah telah diperkuat tata kelolanya.
“Berdasarkan exercise yang kami lakukan, kami yakin defisit bisa terjadi di kisaran 2%. Di UU APBN adalah 2,19%. Kami sekarang bicara di kisaran 2% atau bahkan mungkin bisa lebih rendah, kami harapkan,” papar Sri Mulyani dalam konferensi pers update APBN 2018 di Kementerian Keuangan (Kemenkeu), yang juga disiarkan secara langsung melalui akun Facebook resmi Kemenkeu, Kamis (17/5/2018).
Per April 2018, defisit anggaran tercatat sebesar Rp55,1 trilun atau turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp72,2 triliun. Sementara itu, defisit keseimbangan primer sekitar Rp24,2 triliun atau lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu.
Di sisi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) juga mengalami penurunan dibandingkan Januari-April 2017. Per April 2018, sudah diterbitkan SBN senilai Rp189,7 triliun, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp202,8 triliun.
