TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Penutupan Awal Pekan Ini, IHSG Anjlok 2,59 Persen

Agus Haryanto
12 October 2026 | 16:25
rubrik: Capital Market
FOTO2 BURSA EFEK

Bursa Efek Indonesia (Rendy MR/TopBusiness)

Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual cukup dalam pada perdagangan Senin (12/10/2026). IHSG ditutup anjlok 2,59 persen ke level 5.936,14, sekaligus terperosok di bawah level psikologis 6.000.

Pelemahan indeks terjadi secara luas dengan sebanyak 602 saham mengalami penurunan harga. Sementara itu, hanya 114 saham yang berhasil menguat dan 77 saham lainnya stagnan.

Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau ramai dengan total volume mencapai 61,92 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp13,49 triliun.

Tekanan terhadap IHSG mencerminkan dominasi aksi jual investor di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan. Pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps turut memperberat pergerakan indeks.

Sentimen Global dan Domestik Membayangi Pasar

Dari sisi fundamental, tekanan terhadap pasar saham domestik berpotensi dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik.

Ketidakpastian geopolitik global, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta perkembangan inflasi di sejumlah negara utama menjadi faktor yang terus dicermati investor.

Ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan tinggi berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi keputusan investor global dalam menempatkan dananya di pasar saham Indonesia.

Di sisi domestik, pelaku pasar juga mencermati prospek pertumbuhan ekonomi, kinerja emiten, stabilitas nilai tukar rupiah, serta perkembangan aliran modal asing.

Dominasi saham yang melemah menunjukkan investor cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar saham.

Berisiko Lanjutkan Pelemahan

Secara teknikal, penutupan IHSG di level 5.936,14 memberikan sinyal bahwa tekanan jual masih cukup kuat dalam jangka pendek.

Indeks telah kehilangan level psikologis 6.000 yang sebelumnya menjadi salah satu area penting untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar.

BACA JUGA:   IHSG Terbuka Positif

Dalam skenario pelemahan lanjutan, area 5.911 hingga 5.850 berpotensi menjadi zona penopang berikutnya yang perlu diperhatikan investor.

Apabila IHSG gagal bertahan pada area tersebut, tekanan jual berisiko berlanjut dan membuka ruang koreksi lebih dalam.

Sebaliknya, peluang penguatan kembali atau technical rebound masih terbuka apabila terjadi akumulasi pembelian pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Untuk mengonfirmasi pemulihan jangka pendek, IHSG perlu kembali bergerak di atas area 5.973 dan selanjutnya menembus level psikologis 6.000.

Dengan kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian, investor diperkirakan akan lebih selektif dalam memilih saham, terutama dengan mempertimbangkan valuasi, fundamental emiten, dan potensi risiko pasar.

Pergerakan saham-saham perbankan besar dan kelompok konglomerasi akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah IHSG pada perdagangan berikutnya.

Data AI

Tags: ihsgindeksJCI
Previous Post

CSRA Bakal Bagikan Dividen Interim Rp15 per Saham

Next Post

Bio Farma dan 23 Century Medical Group Jajaki Kolaborasi Terapi Sel Punca

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR