Jakarta, TopBusiness—Kapasitas pelatihan di balai diklat industri Kementerian Perindustrian RI (Kemenperin) mencapai sekitar 11.000 peserta per tahun. Sementara itu, kerja sama pelatihan dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) pada tahun ini mencakup sekitar 1.066 peserta.
“Dengan kapasitas yang tersedia, jumlah peserta diharapkan meningkat signifikan pada tahun mendatang,” kata Menteri Perindustrian RI (Kemenperin), Muhammad Sarmuji, dalam keterangan tertulis, hari ini.
“Insyaallah ke depan akan lebih banyak lagi, karena Kemenperin tidak hanya memiliki balai diklat, tetapi juga politeknik, SMK, dan akademi komunitas,” jelas Menperin Sarmuji dalam satu aktivitas bersama Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin.
Menperin menilai penguatan kompetensi tenaga kerja semakin penting seiring perubahan karakter industri nasional akibat perkembangan teknologi. Meski industri pengolahan terus tumbuh dan menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, penerapan teknologi dalam proses produksi turut mengubah kebutuhan dan pola penyerapan tenaga kerja.
Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan bonus demografi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara maju yang menghadapi penurunan jumlah penduduk usia produktif.
“Kita memiliki bonus demografi dan tenaga kerja produktif yang banyak. Kalau mereka dilatih dengan baik, mereka bisa mengisi lapangan kerja di luar negeri yang memang membutuhkan tenaga kerja terampil. Pekerja yang terampil itu adalah delegasi Indonesia, mereka bisa membawa nama baik Indonesia,” tegas Menperin Sarmuji.
