Jakarta, TopBusiness – Kondisi pasar saham pada hari ini, Jumat (16/10/2026) mengalami pelemahan signifikan efek dari adanya usulan Usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, seperti Zimbabwe.
Dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia, di Jakarta, yang digelar Jumat (16/10/2026), selain kondisi pasar dan strategi investasi, kekhawatiran mengenai posisi Indonesia dalam klasifikasi pasar global turut mengemuka dalam sesi diskusi.
Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan Indonesia diturunkan dari kategori emerging market menjadi frontier market, Deputy President Director Samuel Sekuritas, Suria Dharma menilai skenario tersebut memiliki probabilitas yang relatif kecil.
“Saya berpendapat, tidak meyakini jika Indonesia akan diturunkan menjadi frontier market atau standalone. Saat ini memang ada ancaman dan tekanan yang perlu ditanggapi serius,” tandasnya kepada media.
“Sebelumnya saya memperkirakan kondisi tersebut dapat kembali di-unfreeze pada 2027, ternyata kenyataannya belum secepat itu. Situasi seperti sekarang bahkan belum pernah kita alami, baik pada krisis 1998 maupun saat pandemi Covid-19,” ujar Suria Dharma.
Menurutnya, respons regulator menjadi salah satu faktor penting yang mengurangi risiko penurunan klasifikasi pasar Indonesia. Ia menilai regulator telah mengambil berbagai langkah untuk merespons persoalan yang menjadi perhatian pasar global.
“Regulator sudah menjalankan tugasnya secara maksimal untuk merespons berbagai isu yang ada. Karena itu, menurut saya kemungkinan Indonesia sampai mengalami downgrade menjadi frontier market relative kecil. Memang, kondisi penurunan seperti sekarang tergolong tidak biasa dan sejauh ini menjadi situasi yang cukup spesifik bagi Indonesia,” Suria Dharma, mejelaskan.
Untuk diketahui, dalam rilis terbarunya, MSCI mengusulkan untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, seperti Zimbabwe.
Dalam hal ini, menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan belum memadainya bukti penegakan aturan. Dalam pengumuman resminya pada 15 Oktober 2026, MSCI menyatakan bahwa pelaku pasar belum melihat kemajuan yang cukup secara konsisten maupun bukti dampak material yang berkelanjutan dari reformasi yang telah diumumkan.
Hal ini langsung direspon pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur di zona merah sepanjang perdagangan Jumat (16/10/2026). Dengan menutup perdagangan, IHSG ambruk ke level 5.185,10, merosot 678,67 poin alias terjembab 11,57%.
Tekanan jual sudah terlihat sejak pembukaan. IHSG dibuka di level 5.393,92, jauh di bawah penutupan hari sebelumnya, sehingga indeks langsung berada di zona merah sejak awal sesi. Level tertinggi mencapai 5.404,51, sementara level terendah berada di 5.185,11.
