TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Empat Bank BUMN Ini Siap Buyback Saham di Tengah Volatilitas Pasar

Nurdian Akhmad
21 October 2026 | 10:48
rubrik: BUMN, Capital Market
Empat Bank BUMN Ini Siap Buyback Saham di Tengah Volatilitas Pasar

Jakarta, TopBusiness – Empat bank BUMN, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), dan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS), mempertimbangkan aksi pembelian kembali saham (buyback) di tengah volatilitas pasar modal.

Langkah tersebut menjadi salah satu opsi untuk menjaga nilai perusahaan dan kepentingan pemegang saham di tengah tekanan harga saham yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan fundamental dan prospek bisnis perseroan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Surat No. S-112/D.04/2026 tertanggal 9 September 2026 telah memperpanjang penetapan kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan hingga 31 Desember 2026. Berdasarkan POJK Nomor 13 Tahun 2023, kondisi tersebut memungkinkan perusahaan terbuka melakukan buyback tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

BRI menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi dalam aksi pembelian kembali saham. Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, rencana tersebut merupakan bagian dari strategi perseroan untuk menjaga nilai perusahaan sekaligus mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham.

“Rencana tersebut sekaligus mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental dan prospek bisnis jangka panjang Perseroan, dengan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, penerapan tata kelola perusahaan yang baik serta dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dhanny dalam keterangannya yang dikutip Rabu (21/10/2026).

Sementara itu, BNI membuka peluang memperpanjang periode pelaksanaan buyback yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 26 Oktober 2026. Namun, perpanjangan tersebut masih dalam tahap kajian dan belum menjadi keputusan resmi.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, perseroan menjalankan aksi korporasi secara terukur dengan mempertimbangkan perkembangan pasar dan kondisi internal perusahaan.

“Langkah ini mencerminkan keyakinan kami terhadap fundamental dan prospek bisnis BNI yang tetap kuat. Pelaksanaan buyback dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kecukupan permodalan perseroan, serta tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola perusahaan yang baik,” ujar Okki.

BACA JUGA:   PALM Alokasikan Rp28,93 M Untuk Buyback Saham

BNI sebelumnya telah menyampaikan rencana buyback melalui keterbukaan informasi pada Juli 2026. Perseroan juga menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan pemegang saham dan kebutuhan pengembangan bisnis.

“BNI senantiasa menjaga keseimbangan antara kepentingan pemegang saham dan kebutuhan pengembangan bisnis perseroan,” kata Okki.

Di sisi lain, BTN juga mengevaluasi kemungkinan pembelian kembali saham. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, perseroan terus memantau perkembangan pasar dan mengevaluasi berbagai opsi strategis untuk kepentingan jangka panjang.

“Termasuk kemungkinan pelaksanaan pembelian kembali saham atau buyback,” ujar Nixon.

Menurut Nixon, kajian tersebut mempertimbangkan kondisi keuangan dan kecukupan modal, kebutuhan pendanaan untuk ekspansi bisnis, serta ketentuan regulator yang berlaku. Perseroan juga mempertimbangkan kemungkinan pemanfaatan saham hasil pembelian kembali untuk peruntukan tertentu sesuai kebutuhan perusahaan.

“Setiap keputusan akan dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi keuangan, kecukupan modal, serta kepentingan seluruh pemegang saham,” kata Nixon.

BTN menegaskan tetap memprioritaskan penguatan bisnis pembiayaan perumahan, termasuk dukungan terhadap Program 3 Juta Rumah. Perseroan juga melanjutkan transformasi menuju beyond mortgage untuk memperluas kapabilitas dan layanan di luar pembiayaan perumahan.

Adapun BSI turut mengkaji opsi share buyback untuk menjaga nilai bagi pemegang saham dan memperkuat kepercayaan pasar terhadap fundamental perseroan.

Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan, perseroan secara berkala mengevaluasi berbagai alternatif strategis untuk mendukung penciptaan nilai jangka panjang.

“Salah satu alternatif yang sedang dikaji adalah pembelian kembali saham perseroan atau share buyback. Apabila perseroan memutuskan untuk melaksanakan aksi korporasi tersebut, BSI akan menyampaikan informasi kepada regulator dan masyarakat sesuai dengan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku,” ujar Wisnu, Selasa (20/10/2026).

Wisnu menambahkan, setiap keputusan akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan menjaga keberlanjutan keuangan dan pertumbuhan bisnis perseroan.

BACA JUGA:   Tumbuh 33,7%, Laba Bersih Bank Mandiri Tembus Rp 55,1 Triliun di 2023

Valuasi Saham Perbankan Jadi Perhatian

Sebelumnya, Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani melihat peluang investasi jangka panjang pada emiten dengan fundamental kuat dan valuasi menarik. Menurutnya, keputusan investasi tidak semata-mata didasarkan pada pergerakan harga saham, tetapi juga mempertimbangkan prospek bisnis perusahaan.

Rosan menyoroti saham perbankan yang sebagian telah diperdagangkan dengan rasio price to book value (PBV) di bawah satu kali. Kondisi tersebut menunjukkan harga saham berada di bawah nilai buku perusahaan.

Ia juga mencontohkan potensi imbal hasil dividen atau dividend yield BBRI yang disebut berada di kisaran 13%. Dengan potensi tersebut, investor dapat memperoleh pendapatan dari pembagian dividen tanpa sepenuhnya bergantung pada kenaikan harga saham.

Danantara pun membuka peluang menambah investasi di pasar saham secara bertahap, terutama pada saham-saham yang dinilai memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik.

Pandangan serupa disampaikan Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta. Menurutnya, koreksi saham perbankan, termasuk BBRI, mulai membuka peluang akumulasi bagi investor berorientasi jangka panjang.

PBV BBRI yang terkoreksi ke level relatif rendah dapat menjadi daya tarik, terutama jika dibandingkan dengan rata-rata historisnya. Namun, investor tetap perlu mencermati kualitas aset, pertumbuhan kredit, tren biaya pencadangan atau cost of credit, serta kemampuan perseroan menjaga profitabilitas di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Dari sisi dividen, Nafan menilai dividend yield BBRI berpotensi mencapai sekitar 10%, sehingga dapat menarik bagi investor yang mengincar pendapatan pasif. Menurutnya, investor jangka panjang dapat mempertimbangkan akumulasi saham secara bertahap ketika valuasi sudah atraktif dan imbal hasil dividen kompetitif.

Tags: bank bumnbuyback saham
Previous Post

APEX Terbitkan 218,09 Juta Saham Baru Lewat Private Placement

Next Post

Pemulihan Pascabanjir di Padang Lewat Program Padat Karya, Warga Dilibatkan dalam Penataan Permukiman

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR