Jakarta, TopBusiness – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dikabarkan tengah menjajaki fasilitas pinjaman baru senilai US$1 miliar atau sekitar Rp16 triliun untuk memperkuat kapasitas pendanaan investasi dan ekspansi bisnisnya.
Rencana penghimpunan dana tersebut muncul di tengah tekanan terhadap pasar saham Indonesia, menyusul kekhawatiran investor global terhadap tata kelola pasar modal domestik dan potensi perubahan klasifikasi Indonesia dalam indeks MSCI.
Mengutip laporan The Edge, fasilitas pendanaan yang tengah disiapkan Danantara berbentuk kredit bergulir (revolving credit facility) dengan tenor tiga tahun.
Empat bank internasional, yakni DBS Group Holdings Ltd, HSBC Holdings plc, Standard Chartered plc, dan United Overseas Bank Ltd (UOB), disebut bertindak sebagai penjamin atau underwriter fasilitas pinjaman tersebut.
Informasi itu berasal dari sejumlah sumber yang mengetahui proses pembiayaan dan meminta identitasnya dirahasiakan karena pembahasan masih bersifat privat.
Pinjaman baru ini akan melengkapi fasilitas kredit senilai US$1 miliar yang telah diperoleh Danantara pada tahun sebelumnya. Jangka waktu fasilitas terdahulu juga disebut telah diperpanjang agar selaras dengan tenor pembiayaan terbaru.
Dana yang dihimpun rencananya digunakan untuk berbagai kebutuhan korporasi, termasuk mendukung akuisisi dan membiayai proyek investasi yang telah masuk dalam rencana pengembangan Danantara.
Menurut sumber tersebut, fasilitas kredit kini tengah ditawarkan kepada lebih banyak lembaga keuangan melalui proses sindikasi untuk memperluas partisipasi pemberi pinjaman.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, perwakilan Danantara belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Langkah pencarian pendanaan baru dilakukan setelah Danantara dilaporkan telah merealisasikan investasi lebih dari US$5 miliar sepanjang tahun berjalan.
Sebelumnya, Direktur Investasi Danantara, Pandu Sjahrir, menyampaikan bahwa lembaganya menargetkan investasi sekitar US$13 miliar dalam satu tahun.
Untuk mendukung target tersebut, Danantara juga mempertimbangkan sejumlah alternatif penghimpunan modal, termasuk penerbitan obligasi di pasar Amerika Serikat dan China.
Dengan portofolio yang mencakup ratusan badan usaha milik negara (BUMN), Danantara memiliki peran strategis dalam pengelolaan aset dan pengembangan investasi nasional.
Nilai aset yang berada dalam lingkup pengawasannya diperkirakan mencapai US$900 miliar berdasarkan keterangan pejabat pemerintah.
Besarnya portofolio tersebut menjadikan kebutuhan pendanaan sebagai salah satu faktor penting dalam mendukung agenda investasi dan pengembangan bisnis Danantara.
Rencana pembiayaan ini berlangsung ketika pasar saham Indonesia menghadapi gejolak tajam.
Indeks saham acuan Indonesia dilaporkan sempat merosot hingga 15 persen dalam dua hari perdagangan, mencatatkan penurunan terdalam sejak 1989, sebelum akhirnya mengalami pemulihan pada perdagangan Selasa.
Tekanan pasar turut dipengaruhi peringatan MSCI Inc mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi stand-alone market apabila tidak terdapat perbaikan signifikan dalam tata kelola pasar.
Perubahan status tersebut berpotensi berdampak terhadap aliran investasi asing, terutama dari dana investasi global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan pengelolaan portofolio.
Apabila Indonesia dikeluarkan dari sejumlah indeks global, investor yang mengikuti indeks tersebut berpotensi melakukan penyesuaian portofolio melalui penjualan saham Indonesia.
Kondisi itu dapat memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan domestik dan meningkatkan risiko arus modal keluar.
Di tengah situasi tersebut, keberhasilan Danantara memperoleh fasilitas pinjaman baru akan menjadi salah satu indikator minat lembaga keuangan internasional dalam menyediakan pembiayaan bagi entitas investasi Indonesia.
Margin Pinjaman 95 Basis Poin di Atas SOFR
Dari sisi struktur pembiayaan, fasilitas kredit terbaru Danantara diperkirakan menawarkan ketentuan margin yang serupa dengan pinjaman sebelumnya.
Untuk fasilitas berdenominasi dolar Amerika Serikat, margin pinjaman disebut berada pada level 95 basis poin atau 0,95 persen di atas suku bunga acuan Secured Overnight Financing Rate (SOFR).
Dengan skema tersebut, biaya bunga pinjaman akan mengikuti pergerakan SOFR ditambah margin yang telah disepakati.
Fasilitas pembiayaan ini juga dirancang tersedia dalam lima mata uang, yakni dolar AS, dolar Singapura, euro, pound sterling, dan yen Jepang.
Struktur multivaluta tersebut memberikan fleksibilitas bagi Danantara dalam memenuhi kebutuhan pendanaan investasi maupun transaksi korporasi dalam berbagai mata uang.
Keempat bank yang terlibat dalam rencana pinjaman terbaru sebelumnya juga menjadi penjamin fasilitas kredit Danantara pada tahun lalu.
Fasilitas terdahulu bahkan dilengkapi opsi peningkatan nilai pinjaman hingga US$10 miliar, bergantung pada ketentuan pembiayaan dan kesepakatan dengan para pemberi pinjaman.
Rencana pendanaan terbaru ini sekaligus mencerminkan upaya Danantara memperluas sumber likuiditas di luar modal yang telah tersedia untuk mendukung agenda investasi jangka panjang.
Namun, realisasi fasilitas tersebut masih bergantung pada proses sindikasi, kesepakatan akhir dengan kreditur, serta kondisi pasar keuangan global.
