Jakarta, TopBusiness – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendukung langkah Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang mempertimbangkan penghentian ekspor gas ke negara tetangga demi memenuhi kebutuhan energi nasional.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Saleh Husin, mengapresiasi wacana tersebut. Menurutnya, langkah pemerintah memprioritaskan pasokan gas untuk kebutuhan domestik menjadi sinyal positif bagi kebangkitan sektor industri manufaktur nasional.
Saleh menilai, selama ini sejumlah industri pengguna gas di dalam negeri masih menghadapi kendala pasokan energi. Padahal, gas merupakan salah satu komponen penting dalam proses produksi berbagai sektor industri.
“Sebagaimana kita ketahui, saat ini industri dalam negeri pengguna gas justru kesulitan mendapatkan pasokan gas. Jadi, langkah opsi menyetop ekspor gas ke negara tetangga adalah langkah yang sangat tepat. Berarti pemerintah telah berpaling mengutamakan kebutuhan dalam negeri,” ujar Saleh dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026).
Mantan Menteri Perindustrian periode 2014–2016 itu menegaskan, ketersediaan gas yang memadai dan berkelanjutan menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas serta meningkatkan daya saing industri nasional.
Dengan memprioritaskan kebutuhan gas domestik, pemerintah diharapkan mampu mendorong peningkatan kapasitas produksi manufaktur, mempercepat hilirisasi industri, menciptakan nilai tambah ekonomi, sekaligus memperluas lapangan kerja.
Menurut Saleh, kebijakan energi nasional semestinya tidak hanya berorientasi pada ekspor komoditas, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar melalui penguatan industri pengolahan di dalam negeri.
Saleh juga memuji respons cepat Bahlil dalam menerjemahkan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pentingnya memperkuat ketahanan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
“Sekali lagi salut buat Mas Menteri Bahlil yang sangat cepat merespons bahasa tubuh dan keinginan Bapak Presiden Prabowo saat rapat kabinet kemarin,” kata Saleh.
Sebelumnya, Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan untuk tidak memperpanjang ekspor gas ke negara tetangga. Opsi tersebut muncul sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik dunia.
Bahlil menegaskan, pemerintah harus memastikan kebutuhan energi dalam negeri tetap terpenuhi, terutama dalam situasi global yang penuh ketidakpastian.
Hal itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya kemampuan Indonesia untuk bertahan atau survival dalam menghadapi berbagai tantangan global.
“Ya memang harus survival. Kita sebagai pejabat negara, Bapak Presiden sebagai Presiden, pasti apa yang disampaikan Presiden, semua kementerian mampu menjabarkan dalam konteks menuju survival,” ujar Bahlil seusai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Bahlil bahkan membuka kemungkinan untuk tidak memperpanjang kontrak ekspor gas apabila pasokan tersebut lebih dibutuhkan untuk kepentingan nasional.
“Jadi kalau negara lain ada pandangan lain untuk kita, hati-hati saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga karena harus survival kan, harus penuhi kebutuhan dalam negeri,” tegasnya.
Dukungan Kadin terhadap wacana tersebut memperlihatkan besarnya harapan pelaku industri agar pemerintah semakin mengutamakan ketersediaan energi bagi sektor produktif nasional.
Meski demikian, penghentian ekspor gas masih sebatas opsi yang dipertimbangkan pemerintah dan belum menjadi keputusan final.
Bagi kalangan industri, kepastian pasokan gas menjadi salah satu kebutuhan mendasar untuk menjaga kelangsungan produksi, menarik investasi, serta memperkuat kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian Indonesia.
